Senin, 08 Mei 2017

Kumpulan materi teori belajar bahasa semester dua UNJA


     TUGAS UJIAN KHIR SEMESTER II
        TEORI BELAJAR BAHASA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

                                     





                                       Disusun Oleh :

     Siti Mawansari.daulae
       (A1B116003)
      Reguler. A

  Dosen Pengampu : Yossie Ana Welvi ,M.Pd.

PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS JAMBI
2017






KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-nya lah saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini , pada mata kuliah “Teori Belajar Bahasa ”. Makalah ini merupakan Kumpulan dari materi yang terdapat pada silabus Teori Belajar Bahasa untuk mahasiswa semester dua yang dimulai dari Hakikat belajar , Hakikat Bahasa, Prinsip belajar Bahasa , Teori Belajar Bahasa yang terdiri atas Teori Behavioristik , Teori Nativistik , Teori Kognitivistik , dan  Teori Konstruktivistik, dan  Metode dalam Belajar Bahasa Kedua yang terdiri atas Metode Tradisional yaitu terdiri atas TGT, Natural, Langsung, Metode Offbit yaitu terdiri dari atas metode Sillent Way, Sugestopedia ,Metode Kontemporer yang terdiri atas Respon Fisik Total, Komunikatif, Natural, Strategi Belajar Bahasa yaitu strategi memorial, kognitif, kompensasi, metakognitif, afektif, dan sosial, serta Model Pembelajaran untuk Bahasa Indonesia yang terdiri atas model Komunikatif Learning ,Kooperatif Learning,Contextual Teaching Learning dan Kompetensi Belajar Bahasa dan Pengembangannya yang terdiri atas Kompetensi Kebahasaan, Kompetensi Sosiolinguistik dan Pragmatik ,Kompetensi Penggunaan Bahasa.
Makalah Teori Belajar Bahasa ini merupakan hasil dari sumber-sumber buku yang suda saya kumpulkan dan dari makalah kelompok lain . Saya Siti Mawansari merupakan Penulis makalah ini , dan saya berasal dari mahasiswi pendidikan bahasa sastra indonesia di UNIVERSITAS JAMBI.     
Makalah ini saya buat sedemikian lengkap untuk memenuhi tugas Ujian akhir semester mata kuliah Teori Belajar Bahasa dengan Dosen pengampu Yossie Ana Welvi,M.Pd. Meskipun begitu, saya mengharapkan masukan terhadap makalah ini demi perbaikan.
Akhirnya saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat , dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran Teori Belajar Bahasa Selanjutnya.

Jambi, 3 Mei 2017

                                                                                    Penulis
Siti mawansari

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.................................................................................. .........................................i
Daftar Isi............................................................................................ ........................................ii
BAB I. PENDAHULUAN........................................................................................................1
BAB II. HAKIKAT BAHASA DAN PRINSIP BELAJAR BAHASA....................................2
A.    Hakikat Bahasa...................................................................... ........................................3
B.     Prinsip Belajar Bahasa........................................................... ........................................6

Bab III.TEORI BELAJAR BAHASA............................................. ........................................9
A.    Teori Belajar Bahasa.............................................................. ........................................9
B.     Jenis-Jenis Teori Belajar Bahasa..................................................................................11
C.     Pendekatan Pembelajaran Bahasa.......................................... ......................................30
D.    Macam-Macam Metode pembelajaran ........................................................................32
E.     Teknik Pembelajaran Bahasa................................................. ......................................33

Bab IV. METODE DALAM BELAJAR BAHASA KEDUA............................................ ..35
A.    Pengertian Metode................................................................. ......................................35
B.     Metode Dalam Belajar Bahasa Kedua................................... ......................................36
C.     Metode Tradisional................................................................ ......................................38
D.    Metode Offbit....................................................................... ......................................49
E.     Metode kontemporer....................................................................................................52
Bab V. STRATEGI BELAJAR BAHASA.......................................................................... ..56
A.    Strategi Belajar Bahasa.......................................................... ......................................56
B.     Strategi Pembelajaran Langsung dan Tidak Langsung.......... ......................................56

Bab VI. MODEL UNTUK PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA........................ ..64
A.    Pengertian Model Pembelajaran............................................ ......................................64
B.     Model Pembelajaran Bahasa Indonesia................................. ......................................64
Bab VII. KOMPETENSI BELAJAR BAHASA DAN PENGEMBANGANNYA.......... ..83
A.    Hakikat Kompetensi.............................................................. ......................................83
B.     Kompetensi Belajar Bahasa Indonesia.................................. ......................................83
Daftar Pustaka................................................................................... ......................................86
ii


DAFTAR PUSTAKA
SUMBER BUKU :
            Azies, Furqanul, dan Chaedar Alwasilah. 2000. Pengajaran Bahasa Komunikatif : Teori dan Praktek. Bandung : Remaja Rosdakarya.

            Pateda, Mansoer, Aspek-aspek Psikolinguistik, 1990, Nusa Indah. Flores.
Suharnan, 2005. Psikologi Kognitif. Srikandi. Surabaya.

Roekhan-Nurhadi, 1990. Dimensi-dimensi dalam Pembelajaran Bahasa Kedua. Bandung: Sinar Baru

            Sugono, Dendy, dkk. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

            Tarigan, Henry Guntur. 2009. Strategi Pengajaran dan Pembelajaran Bahasa. Bandung : Angkasa

Tarigan, Henry Guntur, 1986. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung: Angkasa

Ghazali, Syukur, 2010. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa dengan Pendekatan Komunikatif-Interaktif. Bandung: PT Refika Aditama

Usantini, E. 2004.Memperbaiki Kualitas Proses Belajar Genetika melalui Strategi Metakognitif dalam Pembelajaran Kooperatif pada Siswa SMU. Disertasi tidak diterbitkan. Malang. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Ugiarso. 2004. Strategi Pembelajaran Kognitivistik: Kajian Teoritik dan Temuan Empirik. Surabaya: Reksa Budaya.
Zuchdi, Darmiyanti. dan Budiasih. (1997). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Departemen P dan K
86
Tadkiroatun Musfiroh. 2016. Psikolinguistik Edukasional. UNY Press.
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik: Kajian Teoritik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Dj                        Ardjowidjojo, Soejono. 2010. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Kholid A.Harras. 2009. Dasar-Dasar Psikolinguistik. Jakarta: UPI Press.

Subyakto, Sri Utari. 1988. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: Depdikbud
SUMBER INTERNET :
Ian. (2010). Teknik Pembelajaran Bahasa Indonesia. [Online]. Tersedia:http:// ian43.wordpress.com/2010/10/25/teknik-pembelajaran-bahasa-indonesia/
Macam-macam Metode Pembelajaran.[Online].Tersedia:http://belajarpsikologi .com/macam-macam-metode-pembelajaran/#ixzz1m2gOMob3

Suryabrata, Sumardi.1998. Psikologi pendidikan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta
Theoryabs@well.com
Usan, E., Israel, Kathryn, L.,Bauserman, Block, C. C. Tanpa Tahun. Metacognitve Assessment Strategies, (Online), (http://www.ctnet/rcwt.consortium, diakses 11 Maret 2006).

            http://www.eurekapendidikan.com/2014/10/definisi-metode-menurut-para-ahli.html
ady-madani.blogspot.co.id/2013/03/23/metode-dan-strategi-pembelajaran-bahasa.html
http://hipni.blogspot.com//2011/09/pengertian-definisi-metode-pembelajaran-bahasa.html



87
























BAB.1
PENDAHULUAN

Dapat berpikir dan berbahasa merupakan ciri utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Karena memeiliki keduanya, maka sering disebut manusia sebagai makhluk yang mulia dan makhluk sosial. Dengan pikirannya manusia menjelajah kesetiap fenomena yang nampak bahkan yang tidak nampak. Dengan bahasanya manusia berkomunikasi untuk bersosialisasi dan menyampaikan hasil pemikirannya.
            Salah  satu objek pemikiran manusia adalah bagaimana manusia dapat berbahasa. Pendapat para ahli tentang belajar bahasa tersebut bermacam-macam . diantara pendapat mereka ada yang bertentangan namun ada juga yang salng mendukung  dan melengkapi. Pemikiran pra ahli tentang belajar bahasa begitu variatif  dan menarik.



















BAB II
HAKIKAT BAHASA DAN PRINSIP BELAJAR BAHASA

A.    Hakikat bahasa

1.   Pengertian bahasa
Manusia merupakan mahluk yang perlu berinteraksi dengan manusia lainnya. Bahasa yang dalam bahasa inggrisnya disebut language berasal dari bahsa latin yang bearti”lidah”. Secara universal pengertian bahasa ialah suatu bentuk ungkapan yang bentuk dasarnya ujaran. Bahasa merupakan alat komunikasi yang mengandung beberapa sifat yakni, systematik, mana suka, ujar, manusiawi dan komunikatif. Disebut sistematik karena  bahasa diatur oleh system.

2.   Bentuk dan makna
Bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat terbagi atas dua unsur, yakni bentuk (arus ujaran) dan makna (isi). Bentuk merupakan bagian yang dapat diserap oleh unsur panca indra (mendengar atau membaca). Bagian ini terdiri dua unsur, yaitu unsur segmental dan unsur suprasegmental. Unsur segmental secara hierarkis dari segmen yang paling besar sampai segmen yang paling kecil, yaitu wacana, kalimat, frasa, kata, morfem, dan fonem. Unsur suprasegmental terdiri atas intonasi. Unsure-unsur intonasi adalah : tekanan, (keras, lembut ujaran), nada (tinggi rendah ujaran), durasi (panjang pendek waktu pengucapan), perhentian (yang membatasi arus ujaran).

Makna adalah isi yang terkandung dalam bentuk-bentuk diatas. Sesuai dengan urtan bentuk dari segmen yang palin besar sampai segmen yang terkecil, makna pun dibagi berdasarkan hierarki itu, yaitu makna morfemis (makna imbuhan), makna leksikal (makna kata) dan makna sintaksis (makna frasa, klausa, kalimat) serta makna wacana yang disebut tema.

3.   Fungsi bahasa
Bahasa sebagai alat komunikasi memiliki fungsi sebagai berikut:
a.    Fungsi informasi, yaitu untuk menyampaikan informasi timbal balik antara        
anggota keluarga ataupun anggota-anggota masyarakat.
b.    Fungsi eksfresi, diri yaitu untuk menyalurkan perasaan, sifat, gagasan, emosi atau tekanan-tekanan perasaan pembicaraan.
c.    Fungsi adaptasi dan integrasi, yaitu untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat.
d.    Fungsi control social, bahasa berfungsi untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain.

o   Fungsi khusus bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional mempunyai fungsi khusus yang  sesuai dengan kepentingan bangsa Indonesia, fungsi itu adalah sebagai berikut:
a.      Alat untuk menjalankan administrasi Negara.
b.     Alat pemersatu berbagai suku yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda.
c.     Wadah penampung kebudayaan. Semua ilmu pengetahuan dan kebudayaan harus diajarkan dan diperdalam dengan mempergunakan bahasa Indonesia sebagai medianya.

4.   Ragam bahasa
Dengan dasar ini ragam bahasa dapat dibedakan atas:
a.    Ragam ilmiah, yaitu ragam bahasa yang digunakan dalam kegiatan ilmiah, ceramah, tulisan-tulisan ilmiah.
b.    Ragam popular, yaitu bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari dan dalam tulusan popular.
Ragam bahasa dapat digolongkan menurut sarana dibagi atas ragam lisan dan ragam tulisan. Makna ragam lisan diperjelas dengan intonasi, yaitu tekanan, nada, tempo suara dan perhentian. Sedangkan pengunaan ragam tulisan dipengaruhi oleh bentuk, pola kalimat, dan tanda baca. Ragam bahasa dari sudut pendidikan dapat dibagi atas bahasa baku dan bahasa tidak baku. Ragam baku menggunakan kaidah bahasa yang lebih lengkap dibandingkan dengan ragam tidak baku. Ciri ragam bahasa baku adalah
a, memiliki sifat kematapan dinamis yang artinya konsisten dengan kaidah dan aturan yang tetap,
b,memiliki sifat kecendikian,
c,bahasa baku dapat mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis dan masuk akal.


A.A.  Hakikat Belajar Bahasa

a.      Pengertian Pembelajaran Bahasa

Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi.Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pembelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995).Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pembelajar bahasa diarahkan ke dalam empat sub aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Oleh karena itu, setiap pengajar harus memiliki keterampilan dalam memilih strategi pembelajaran untuk setiap jenis kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, pemilihan strategi pembelajaran yang tepat dalam kegiatan pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar dapat terpenuhi.

Gilstrap dan Martin (1975) menyatakan bahwa peran pengajar lebih erat kaitannya dengan keberhasilan pembelajar, terutama berkenaan dengan kemampuan pengajar dalam menetapkan strategi pembelajaran.Sedangkan tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran (1999) adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Kesemuanya itu dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan.

Uraian di atas sudah jelas bahwa pembelajaran bahasa pada anak didik atau pembelajar yang ditransformasikan oleh guru meliputi empat aspek yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Proses guru sendiri dalam mentransformasikan materi atau bahan untuk membantu siswa dalam menguasai atau mempelajari keempat aspek tersebut diserahkan kepada guru sepenuhnya. Sehingga, sebagai guru dan calon guru sedini mungkin sudah harus diperkenalkan untuk berfikir kritis dan inovatif dalam mencari metode serta bahan ajar yang akan di sampaikan kepada paserta didik atau anak didik sesuai dengan tahap perkembangannya. Pemilihan bahan ajar serta metode yang digunakan bervariasi sesuai dengan minat serta kemampuan yang dimiliki siswa. Misal untuk mengajarkan anak SD kelas VI berbeda dengan metode mengajar anak kelas V walaupun materi pokok yang diajarkan sama. Bagi siswa kelas VI belajar berpidato sudah dapat dilakukan tanpa teks, sedangkan anak kelas V masih boleh menggunakan teks. Hal ini dilakukan agar setiap siswa mempunyai kompetensi pembelajaran yang meningkat seiring dengan perkembangan mental anak.
Belajar merupakan perubahan prilaku manusia atau perubahan kapabilitas yang relative permanen sebagai hasil pengalaman. Belajar juga merupakan kegiatan yang kompleks. Artinya didalam proses belajar tedapat berbagai kondisi yang dapat menentukan keberhasilan belajar. Factor yang mempengaruhi keberhasilan belajar adalah berbagai kondisi yang berkaitan dengan proses belajar yakni kondisi eksternal dan kondisi internal.

1. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar bahasa .

a.      Kondisi eksternal
adalah factor diluar diri murid, seperti lingkungan sekolah, guru, teman sekolah, keluarga, orang tua, masyarakat. Kondisi eksternal terdiri dari 3 prinsip belajar, yaitu
(a)memberikan situasi atau materi yang sesuai dengan respon yang diharapkan,
(b) pengulangan agar belajar lebih sempurna dan lebih lama diingat,
(c) penguatan respon yang tepat untuk mempertahankan dan menguatkan respon itu.

b.      Kondisi internal
adalah faktor dalam diri murid yang terdiri atas
(a) moltivasi poositif dan percaya diri dalam belajar,
(b) tersedia materi yang memadai untuk memancing aktivitas siswa,
(c) adanya strategi dan aspek – aspek jiwa anak.
Factor eksternal lebih banyak ditangani oleh pendidik, sedangkan factor internal dikembangkan sendiri oleh para siswa dengan bimbingan guru.

2.    Jenis Keterampilan dan Perilaku dalam Proses Belajar Bahasa
Belajar bahasa pada dasarnya bertujuan untuk mengungkapkan kemampuan menggunakan bahasa untuk berbagai keperluan. Keterampilan – keterampilan tersebut dibedakan antar perilaku internal dan perilaku eksternal. Keterampilan yang paling sederhana adalah keterampilan mekanis berupa hafalan atau ingatan. Murid menghafal dan mengingat bentuk-bentuk bahasa yang paling sederhana yang paling kompleks. Misal, dimulai dengan mendengar beberapa kosakata baru, membaca suku kata, kelompok kata, dan kalimat.

1.      Keterampilan tahap berikutnya adalah tahap pengetahuan berupa demonstrasi pengetahuan tentang fakta kaidah tentang bahasa yang dipelajari. Jenis perilaku yang internal (reseptif).
2.      Tahap pengenalan (metacognitif) .
3.      Tahap keterampilan transfer. Murid menggunakan pengetahuan dalam situasi baru. Penerapan kaidah yang disesuaikan dengan konteks bahasa yang dihadapi.
4.      Tahap komunikasi. Penggunakan bahasa yang dipelajari sebagai sarana komunikasi. Mulailah dengan pertanyaan yang sederhana, misalnya apakah kelas kita sudah bersih? Biarkan mereka secara bertahap menanggapi pertanyaan ini anda tidak perlu tergesa-gesa memperbaiki kosakata atau kaidahnya. Perilaku eksternal tahap ini adalah ekspresi diri. Murid menggunakan bahasa secara lisan atau tertulis untuk menyatakan dirinya, menyatakan gagasan atau ide. Murid membuat karangan sederhana, cerpen, novel, kisah sampai dengan karangan yang berbentuk karya tulis dan karya ilmiah atau pidato.
5.      Tahap kelima adalah kritik. Kemampuan menganalisis dan mengevaluasi karangan atau karya tulis untuk maupun lisan. Perilaku sikap ini adalah analisis. Factor internal, seperti motivasi belajar anak perlu di rangsang.

Fungsi khusus bahasa Indonesia, yaitu
(1) alat menjalankan administrasi Negara,
(2) alat pemersatu,
(3) wadah penampung kebudayaan.

B.   Prinsip-Prinsip Pembelajaran Bahasa
Belajar bahasa akan lebih baik apabila: Peserta didik atau pembelajar mampu menilai pengalaman sendiri atau menilai orang lain. Pembelajar terlibat dalam pengembangan tujuan dan telah mengembangkan cara teratur untuk memusatkan pada pengolahan informasi. Selain itu pembelajar mengandalkan observasi sebagai pengalaman. Pengalaman itu dapat berupa apa yang ia dapat sendiri atau dapat juga dari apa yang ia dengar dan ia lihat dari sekelilingnya. Dari pengalaman-pengalaman tersebut anak dapat menilai baik dan buruknya semua yang dilihatnya bagi perkembangan mental dan intelegtency seorang anak.

Fokus pada kegiatan belajar dengan serangkaian gambaran dan perasaan yang teratur dalam proses belajar membantu siswa dalam memahami suatu masalah sehingga apa yang ingin disampaikan oleh pengajar diterima secara maksimal oleh peserta didik.  Sebagai contohnya dalam proses pembelajaran seorang guru menjelaskan materi pelajaran mengenai membaca dalam hati maka untuk memfokuskan agar penjelasan guru tidak melenceng setelah guru memberikan materi mengenai membaca dalam hati siswa diberikan tugas untuk membaca dalam hati dengan baik dan benar.

Telah menemukan standar dan tujuan dari orang lain dimaksudkan bahwa dalam menstranformasikan ilmu kepada pebelajar seorang guru tidak dapat berdiri sendiri. Tetapi juga membutuhkan bentuan alat atau saran dari orang lain dalam memilih media yang sesuai dengan karakter peserta didik. Diharapkan dengan metode dan media yang tepat atau pas siswa dapat memahami materi pelajaran secara maksimal. 

Dalam proses belajar hendaknya siswa agar tidak terlalu dirangsang atau mengalami tekanan atau kecemasan berat karena hal itu tidak akan berdampak baik tetapi sebaliknya yaitu anak menjadi down dan dapat memicu menurunnya intelegency atau yang di sebut dengan IQ. Mampu memproses informasi dengan berbagai metode dan belajar (bagaimana belajar). Dengan penggunaan bahan belajar relevan dengan masa lalu dan sekarang diharapkan informasi baru yang disajikan melalui panca indera dan pengalaman dengan ulangan dan variasi tema yang cukup dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada siswa atau peserta didik. Selain uraian diatas terdapat 5 prinsip belajar lainnya yaitu:

a.      Prinsip 1. Mengetahui apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan minat belajar bahasa yaitu seorang guru harus menyelami dan mengetahui karakter setiap siswa dalam satu kelas agar guru dapat mencari metode dan cara belajar yang tepat sesuai dengan apa yang diinginkan siswa. Cara ini selain dapat meningkatkan hasil belajar juga dapat membantu guru dalam memberikan materi pembelajaran karena dengan mudah dapat diserap dan dipahami siswa secra maksimal.
b.      Prinsip 2. Keterpaduan keterampilan berbahasa keterampilan disajikan secara terpadu seperti dalam kehidupan nyata. Keterampilan ini seperti pemberian materi pembelajaran yang pemberian contohnya disesuaikan dengan apa yang sedang berkembang dan menjadi sorotan anak didik. Keterpaduan ini selain menarik juga membuat siswa tidak bosan dalam mengikuti proses pembelajaran.
c.       Prinsip 3. Belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Komunikasi ini diciptakan situasi yang mendorong terjadinya komunikasi dan interaksi dengan kegiatan yang ada kesenjangan informasinya (information gap). Komunikasi yang dibangun dan diterapkan oleh guru kepada anak didik hendaknya dimulai dari apa yang siswa atau anak didik minati. Dari itu pendidik dapat bertukar pikiran dengan baik dan selanjutnya komunikasi yang terjalin ini dapat mempermudah guru mengetahui kesukaran/kesulitan siswa dalam belajar.
d.      Prinsip 4. Pentingnya kebermaknaan dalam pengajaran. Kebermaknaan berdasarkan konteks, baik konteks kebahasaan maupun konteks situasi. Kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa jika hal itu berhubungan dengan kebutuhan, pengalaman, minat, tata nilai, dan masa depannya. Dalam penerapan prinsip ini, guru dituntut memiliki kemampuan berbahasa yang memadai dan memiliki berbagai keterampilan menyajikan bahan secara komunikatif
e.       Prinsip 5. Belajar dengan melakukan atau praktek hal ini dilakukan agar Guru menyiapkan bahan, menciptakan situasi dan kegiatan yang beragam untuk mendorong siswa berperan secara aktif belajar bahasa, bukannya mengetahui teori-teori atau ilmu tentang bahasa.

Pengaplikasian materi belajar dengan metode ini mengakibatkan siswa akan terdorong untuk selalu mengikuti serta berantusias dalam proses pembelajaran.















Bab III
TEORI BELAJAR BAHASA

A.    Teori - Teori Belajar Bahasa
         Dalam kegiatan belajar dan mengajar di sekolah terjadi sebuah proses yaitu interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa jika terjadi kegiatan belajar kelompok. Dalam interaksi tersebut akan terjadi sebuah proses pembelajaran, pembelajaran secara umum didefinisikan sebagai suatu proses yang menyatukan kognitif, emosional, dan lingkungan pengaruh dan pengalaman untuk memperoleh, meningkatkan, atau membuat perubahan’s pengetahuan satu, keterampilan, nilai, dan pandangan dunia (Illeris, 2000; Ormorod, 1995). Belajar sebagai suatu proses berfokus pada apa yang terjadi ketika belajar berlangsung. Penjelasan tentang apa yang terjadi merupakan teori-teori belajar.
         Teori belajar adalah upaya untuk menggambarkan bagaimana orang dan hewan belajar, sehingga membantu kita memahami proses kompleks inheren pembelajaran. (Wikipedia) Bertolak dari perubahan yang ditimbulkan oleh perbuatan belajar, para ahli teori belajar berusaha merumuskan pengertian belajar. Di bawah ini dikutip beberapa batasan belajar, agar dapat menjadi bahan pemikiran dan renungan mengenai pengertian belajar yang berlangsung di kelas. Belajar proses perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, di mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan, pemaksaan, atau kondisi  sementara (seperti  lelah, mabuk, perangsang dan sebagainya).
Menurut Morgan  (Gino, 1988: 5) menyatakan bahwa belajar adalah merupakan salah satu yang relatif tetap dari tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman.  Dengan demikian dapat diketahui bahwa belajar adalah usaha sadar yang dilakukan manusia melalui pengalaman dan latihan untuk memperoleh kemampuan baru dan merupakan perubahan tingkah laku yang relatif tetap, sebagai akibat dari latihan. Menurut Hilgard (Suryabrata, 2001:232) menyatakan belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perbuatan yang ditimbulkan oleh lainnya. Selanjutnya menurut Gerow (1989:168) mengemukakan bahwa “Learning is demonstrated by a relatively permanent change in behavior that occurs as the result of practice or experience”. Belajar adalah ditunjukkan oleh perubahan yang relatif tetap dalam perilaku yang terjadi karena adanya latihan dan pengalaman-pengalaman. Kemudian menurut Bower (1987: 150) “Learning is a cognitive process”.  Belajar adalah suatu proses kognitif. Dalam pengertian ini, tidak berarti semua perubahan berarti belajar, tetapi dapat dimasukan dalam pengertian belajar yaitu, perubahan yang mengandung suatu usaha secara sadar, untuk mencapai tujuan tertentu.
Berdasarkan pengertian belajar yang dikemukakan di atas dapat diidentifikasi beberapa elemen penting yang mencirikan pengertian belajar yaitu :
1.      Belajar adalah merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang buruk. Perubahan itu tidak harus segera nampak setelah proses belajar tetapi dapat nampak di kesempatan yang akan datang.
  1. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman.
  2. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru, yang berlaku dalam waktu yang relatif  lama.
Teori manapun pada prinsifnya, belajar meliputi segala perubahan baik berpikir, pengetahuan, informasi, kebiasaan, sikap apresiasi maupun pengertian. Ini berarti kegiatan belajar ditunjukan oleh adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman. Perubahan akibat proses belajar adalah karena adanya usaha dari individu dan perubahan tersebut berlangsung lama. Belajar merupakan kegiatan yang aktif, karena kegiatan belajar dilakukan dengan sengaja, sadar dan bertujuan. Agar kegiatan belajar mencapai hasil yang optimal, maka diusahakan faktor penunjang seperti kondisi peserta didik yang baik, fasilitas  dan lingkungan yang mendukung serta proses belajar mengajar yang tepat.
Pengertian teori. Menurut Mc lauglin dalam (Hadley: 43, 1993) Fungsi teori adalah untuk membantu kita mengerti dan mengorganisasi data tentang pengalaman dan memberikan makna yang merujuk dan sesuai. Ellis menyatakan bahwa setiap  guru pasti sudah memiliki teori tentang pembelajaran bahasa, tetapi sebagian besar guru tersebut tidak pernah mengungkapkan seperti apa teori itu. Teori mempunyai fungsi yaitu:
1).Mendeskripsikan, menerangkan, menjelaskan tentang fakta. Contohnya fakta bahwa mengapa air laut itu asin.
2).Meramalkan kejadian-kejadian yang akan terjadi berdasarkan teori yang sudah ada.
3).Mengendalikan yaitu mencegah sesuatu supaya tidak terjadi dan mengusahakan supaya terjadi.
Teori berhubungan dengan belajar, belajar adalah  pemerolehan ilmu melalui belajar, pengalaman, dan pelatihan. (Kimble and Garmezy 1963: 133). Dengan kata lain teori belajar bahasa adalah gagasan-gagasan tentang pemerolehan bahasa. Semua kegiatan belajar melibatkan ingatan. Jika kita tidak dapat mengingat apa pun pengalaman kita maka kita tidak dapat belajar. Walau kita sering sekali lupa, ingatan tetap dapat digali kembali dengan cara merangsang otak. Pengetahuan yang terlupakan dapat diingat kembali dengan cara belajar kembali. Menurut Oemar Hamalik (2001: 154), prinsip belajar meliputi: 

1. Dilakukan dengan sengaja.
2. Harus direncanakan sebelumnya dengan struktur tertentu.
3. Guru menciptakan pembelajaran untuk siswa.
4. Memberikan hasil tertentu buat siswa.
5. Hasil-hasil yang dicapai dapat dikontrol dengan cermat.
6. Sistem penilaian dilaksanakan secara berkesinambungan. 

Sedangkan ciri-ciri perubahan perilaku dalam belajar: terjadi secara sadar, bersifat konstitutional, fungsional, bersifat positif, aktif, tidak bersifat sementara, bertujuan atau terarah, mencakup seluruh aspek perilaku individu. Menurut Suryabrata dalam Sumardi (1998: 232) proses belajar diharapkan membawa perubahan, menghasilkan kecakapan baru, adanya usaha mencapai hasil yang lebih baik (dengan sengaja).

B.     Jenis-jenis Teori Belajar Bahasa
Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis mengenai teori-teori belajar, yaitu: teori belajar behaviorisme,  teori belajar kognitivisme, dan  teori belajar konstruktivisme.  Teori belajar behaviorisme hanya berfokus pada aspek objektif diamati pembelajaran. Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan pembelajaran berbasis otak. Dan pandangan konstruktivisme belajar sebagai sebuah proses di mana pelajar aktif membangun atau membangun ide-ide baru atau konsep.

1.Teori belajar Behaviorisme
Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
2. Teori  Belajar kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses. Peneliti yang mengembangkan teori kognitif  ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.
3.Teori Belajar Konstruktivisme
Teori Belajar Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.
1.1.Pengertian Pendekatan Behaviorisme
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respons. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons.  Sebagai contoh, anak belum dapat berhitung perkalian. Walaupun ia sudah berusaha giat dan gurunya pun sudah mengajarkan dengan tekun, namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan perhitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar. Karena ia belum dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Dalam contoh tersebut, stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman kerja, atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar siswa, sedangkan respons adalah reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.
Menurut teori ini yang terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement) penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative reinforcement) respons pun akan tetap dikuatkan (Suryabrata, 1990).  Misalnya, ketika peserta  didik di beri tugas oleh guru. Ketika tugasnya ditambahkan,  maka ia akan semakin giat belajarnya. Maka penambahan tugas tersebut merupakan penguatan positif (positif reinforcement) dalam belajar. Bila tugas-tugas dikurangi dan pengurangan ini justru meningkatkan aktifitas belajarnya, maka pengurangan tugas merupakan penguatan negatif (negative reinforcement) dalam belajar. Jadi penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting  diberikan atau dihilangkan untuk memungkinkan terjadinya respons. Terdapat beberapa pandangan tokoh-tokoh tentang pendekatan behaviorisme yang dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya sebagai berikut.
1)      Pavlov
2)      Thorndike
3)      Watson
4)      Clark Hull
5)      Edwin Guthrie, dan
6)       Skiner
Masing-masing tokoh memberikan pandangan tersendiri tentang apa dan bagaimana behavoristik tersebut
1.1        Teori Pengkondisian Klasikal dari Pavlov
Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta. Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi. Pavlov lulus sebagai sarjan kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Pada tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan. Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika. Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902) dan Conditioned Reflexes(1927). Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.
Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang diinginkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang. Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi pipi pada seekor anjing. Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. Kini sebelum makanan diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu, baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula.
Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula.   Makanan adalah rangsangan wajar, sedang sinar merah adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat(kondisi) untuk timbulnya air liur pada anjing tersebut. Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons.  Pavlov berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia, yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari manusia.
Melalui eksperimen tersebut Pavlov menunjukkan bahwa belajar dapat mempengaruhi perilaku seseorang.

2.2 Teori Koneksionisme Thorndike
Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dalam eksperimennya, Thorndike menggunakan kucing. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) tersebut diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi.
Dari percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut
a.   Hukum Kesiapan(law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
b.   Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. Sehingga prinsip dari hokum ini menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai.
c.   Hukum akibat(law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi. 
Selain tiga hukum di atas Thorndike juga menambahkan hokum lainnya dalam belajar yaitu Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response), Hukum Sikap ( Set/ Attitude), Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element), Hukum Respon by Analogy, dan Hukum perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting).
3.3 Teori Conditioning Watson
Watson merupakan seorang behavioris murni. Kajian Watson tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat diamati dan diukur. Menurut Watson, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons. Dalam hal ini, stimulus dan respons yang dimaksud dibentuk dari tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur. Watson mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar dan ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan.

4.4 Teori Systematic Behavior Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respons untuk menjelaskan pengertian tentang belajar. Dalam hal ini, ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu, teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemenuhan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia. Sehingga stimulus dalam belajar pun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respons yang mungkin akan muncul dapat bermacam-macam bentuknya. Dalam kenyataannya, teori-teori demikian tidak banyak digunakan dalam kehidupan praktis, terutama setelah Skinner memperkenalkan teorinya. Hingga saat ini, teori Hull masih sering dipergunakan dalam berbagai eksperimen di laboratorium.

       5.5   Teori Conditioning Edwin Guthrie
Demikian halnya dengan Edwin Guthrie, ia juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respons untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Menurut Edwin, stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Clark dan Hull. Dalam hal ini, hubungan antara stimulus dan respons cenderung hanya bersifat sementara. Oleh sebab itu, dalam kegiatan belajar perlu diberikan sesering mungkin stimulus agar hubungan antara stimulus dan respons bersifat lebih tetap. Ia juga mengemukakan agar respons yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, sehingga diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respons tersebut. Guthrie juga percaya bahwa hukuman(punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu merubah kebiasaan dan perilaku seseorang. Setelah Skinner mengemukakan dan mempopulerkan pentingnya penguatan (reinforcement) dalam teori belajarnya, sehingga hukuman tidak lagi dipentingkan dalam belajar.

6.6 Teori Operant Conditioning Skinner
Konsep-konsep yang dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana dan dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara komprehensif. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respons yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya.  Oleh sebab itu, untuk memahami tingkah laku seseorang secara benar perlu terlebih dahulu memahami hubungan antara stimulus satu dengan lainnya, serta memahami respons yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin akan timbul sebagai akibat dari respons tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa, dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah.
Sebab, setiap alat yang dipergunakan perlu penjelasan lagi, demikia  seterusnya. Dari semua pendukung Teori behavioristik, Teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berpogram, modul, dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh Skinner.
Keunggulan dan Kelemahan Teori Behaviorisme
a)        Keunggulan Teori Behaviorisme
1)    Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
2) Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar

3)     Kelemahan Teori Behaviorisme
Kelemahan teori behaviorisme adalah sebagai berikut.
1)        Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), bersifat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang diamati dan diukur.
2)        Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa (teori skinner) baik hukuman verbal maupun fisik seperti kata – kata kasar, ejekan ,  jeweran yang justru berakibat buruk pada siswa.

Aplikasi Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran
Teori psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah teori behaviorisme. Teori ini menekankan pada terbentuknya prilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behaviorisme dengan model hubungan stimulus-responsnya, mendudukkan yang belajar sebagai individu yang pasif. Respons atau prilaku tertentu dapat dibentuk karena dikondisi dengan cara tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya prilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman. 
Istilah-istilah seperti hubungan stimulus-respons, individu atau siswa pasif, prilaku sebagai hasil belajar yang tampak, pembentukan perilaku (shaping) dengan penataan kondisi secara tepat, reinforcement dan hukuman, ini semua merupakan unsur-unsur yang sangat penting dalam teori behaviorisme. Teori ini hingga sekarang masih merajai praktek pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, bahkan sampai di Perguruan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara drill (pembiasaan) disertai dengan reinforcement atau hukuman masih sering dilakukan.
Aplikasi teori behaviorisme dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti : tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi sehingga belajar adalah perolehan pendidikan. Sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau siswa. Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Aplikasi teori belajar behaviorisme menurut tokoh-tokoh antara lain :

a.   Aplikasi Teori Pavlov
Contohnya yaitu pada awal tatap muka antara guru dan murid dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru menunjukkan sikap yang ramah dan memberi pujian terhadap murid-muridnya, sehingga para murid merasa terkesan dengan sikap yang ditunjukkan gurunya.
b.   Aplikasi Teori Thorndike
1.   Sebelum guru dalam kelas mulai mengajar, maka anak-anak disiapkan mentalnya terlebih dahulu. Misalnya anak disuruh duduk yang rapi, tenang dan sebagainya.
2.   Guru mengadakan ulangan yang teratur, bahkan dengan ulangan yang ketat atau sistem drill.
3.   Guru memberikan bimbingan, pemberian hadiah, pujian, bahkan bila perlu hukuman sehingga memberikan motivasi proses belajar mengajar.
c.        Aplikasi Teori Skinner
Guru mengembalikan dan mendiskusikan pekerjaan siswa yang telah diperiksa dan dinilai sesegera mungkin.
Selain itu, penerapan teori behavioristik adalah dengan pemberian bahan pembelajaran dalam bentuk utuh kepada peserta didik, hasil belajar segera disampaikan kepada peserta didik, proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar, dan materi pelajaran digunakan sistem modul.
Kemudian Menurut Suryabrata dalam Sumardi (1998: 232) teori Belajar Bahasa yaitu :
1. Teori Behaviorisme
Tokoh aliran ini adalah John B. Watson (1878 – 1958) yang di Amerika dikenal sebagai bapak Behaviorisme. Teorinya memumpunkan perhatiannya pada aspek yang dirasakan secara langsung pada perilaku berbahasa serta hubungan antara stimulus dan respons pada dunia sekelilingnya. Menurut teori ini, semua perilaku ditimbulkan oleh adanya rangsangan (stimulus). Jika rangsangan telah diamati dan diketahui maka gerak balas pun dapat diprediksikan.Watson juga dengan tegas menolak pengaruh naluri (instinct) dan kesadaran terhadap perilaku. Jadi setiap perilaku dapat dipelajari menurut hubungan stimulus - respons. Untuk membuktikan kebenaran teorinya, Watson mengadakan eksperimen terhadap Albert, seorang bayi berumur sebelas bulan. Pada mulanya Albert adalah bayi yang gembira dan tidak takut bahkan senang bermain-main dengan tikus putih berbulu halus. Dalam eksperimennya, Watson memulai proses pembiasaannya dengan cara memukul sebatang besi dengan sebuah palu setiap kali Albert mendekati dan ingin memegang tikus putih itu. Akibatnya, tidak lama kemudian Albert menjadi takut terhadap tikus putih juga kelinci putih. Bahkan terhadap semua benda berbulu putih, termasuk jaket dan topeng Sinterklas yang berjanggut putih. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaziman dapat mengubah perilaku seseorang secaran yata.
     Seorang behavioris menganggap bahwa perilaku berbahasa yang efektif merupakan hasil respons tertentu yang dikuatkan. Respons itu akan menjadi kebiasaan atau terkondisikan, baik respons yang berupa pemahaman atau respons yang berwujud ujaran. Seseorang belajar memahami ujaran dengan mereaksi stimulus secara memadai dan memperoleh penguatan untuk reaksi itu. Salah satu percobaan yang terkenal untuk membentuk model perilaku berbahasa dari sudut behavioris adalah yang dikemukakan oleh Skinner (1957) dalam Verbal Behavior. Percobaan Skiner dikenal dengan percobaannya tentang perilaku binatang yang terkenal dengan kotak skinner. Teori skinner tentang perilaku verbal merupakan perluasan teorinya tentang belajar yang disebutnya operant conditioning. Konsep ini mengacu pada kondisi ketika manusia atau binatang mengirimkan respons atau operant (ujaran atau sebuah kalimat) tanpa adanya stimulus yang tampak. Operant itu dipertahankan dengan penguatan. Misalnya, jika seorang anak kecil mengatakan minta susu dan orang tuanya memberinya susu, maka operant itu dikuatkan. Dengan perulangan yang terus menerus operant semacam itu akan terkondisikan.
Menurut Skinner, perilaku verbal adalah perilaku yang dikendalikan oleh akibatnya. Bila akibatnya itu hadiah, perilaku itu akan terus dipertahankan. Kekuatan serta frekuensinya akan terus dikembangkan. Bila akibatnya hukuman, atau bila kurang adanya penguatan, perilaku itu akan diperlemah atau pelan-pelan akan disingkirkan. Sebagai contoh dapat kita saksikan perilaku anak-anak di sekeliling kita. Ada anak kecil menangis meminta es pada ibunya. Tetapi, karena ibunya yakin dan percaya bahwa es itu menggunakan pemanis buatan maka sang ibu tidak meluluskan permintaan anaknya. Sang anak terus menangis. Tetapi sang ibu bersikukuh tidak menuruti permintaannya. Lama kelamaan tangis anak tersebut akan reda dan lain kali lain tidak akan minta es semacam itu lagi kepada ibunya, apalagi dengan menangis. Seandainya anak itu kemudian dituruti keinginannya oleh ibunya, apa yang terjadi? Pada kesempatan yang lain sang anak akan minta es lagi. Apabila ibunya tidak meluluskannya maka ia akan menangis dan terus menangis sebab dengan menangis ia akan mendapatkan es. Kalau ibunya memberi es lagi maka perbuatan menangis itu dikuatkan. Pada kesempatan lain dia akan menangis manakala ia meminta sesuatu pada ibunya.
Implikasi teori ini ialah bahwa guru harus berhati-hati dalam menentukan jenis hadiah dan hukuman. Guru harus mengetahui benar kesenangan siswanya. Hukuman harus benar-benar sesuatu yang tidak disukai anak, dan sebaliknya hadiah merupakan hal yang sangat disukai anak. Jangan sampai anak diberi hadiah menganggapnya sebagai hukuman atau sebaliknya, apa yang menurut guru adalah hukuman bagi siswa dianggap sebagai hadiah. Contoh, anak yang suka bermain sepak bola, akan menganggap pemberian waktu untuk bermain sepak bola adalah hadiah, sebaliknya, melarang untuk sementara waktu tidak bermain sepakbola adalah hukuman yang menyakitkan.
Beberapa linguis dan ahli psikologi sependapat bahwa model Skinner tentang perilaku berbahasa dapat diterima secara memadai untuk kapasitas memperoleh bahasa, untuk perkembangan bahasa itu sendiri, untuk hakikat bahasa dan teori makna.
Teori yang tak kalah menariknya untuk kita kaji adalah Teori Pembiasaan Klasik dari Pavlov (1848-1936) yang merupakan teori stimulus – respons yang pertama menjadi dasar lahirnya teori-teori Stimulus – Respons yang lainnya.

Pavlov berpendapat bahwa pembelajaran merupakan rangkaian panjang dari respons-respons yang dibiasakan. Menurut teori Pembiasaan Klasik ini kemampuan seseorang untuk membentuk respons-respons yang dibiasakan berhubungan erat dengan jenis sistem yang digunakan. Teori ini percaya adanya perbedaan-perbedaan yang dibawa sejak lahir dalam kemampuan belajar. Respons yang dibiasakan (RD) dapat diperkuat dengan ulangan-ulangan teratur dan intensif. Pavlov tidak percaya dengan pengertian atau pemahaman atau apa yang disebut insight (kecepatan melihat hubungan-hubungan di dalam pikiran). Jadi dapat dikatakan bagi Pavlov respons yang dibiasakan adalah unit dasar pembelajaran yang paling baik.
 Teori Pavlov tersebut didukung pula oleh Thorndike (1874-1919) yang menghasilkan Teori Penghubungan atau dikenal dengan trial and error. Teori ini didasarkan pada sebuah eksperimen yang tak jauh berbeda dengan Pavlov. Thorndike menggunakan kucing sebagai sarana eksperimennya yang berhasil membuka engsel dengan cara dibiasakan dan dihubung-gubungkan. Dari hasil eksperimen itu, Thorndike berpendapat bahwa pembelajaran merupakan suatu proses menghubung-hubungkan di dalam sistem saraf dan tidak ada hubungannya dengan insight atau pengertian. Yang dihubungkan adalah peristiwa-peristiwa fisik dan mental dalam pembelajaran itu. Yang dimaksud dengan peristiwa fisik adalah segala rangsangan (stimulus) dan gerak balas (respons). Sedangkan peristiwa mental adalah segala hal yang dirasakan oleh pikiran (akal). Thorndike menemukan hukum latihan ( the law of exercise) dan hukum akibat (the law of effect) yang kita kenal sekarang dengan reinforcement atau penguatan. Contoh dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika belajar naik sepeda atau dalam belajar bahasa adalah dalam pengucapan kata-kata sulit. Kegagalan yang diulang terus menerus lama-kelamaan akan berhasil. 
Upaya lain untuk mendukung teori Behaviorisme dalam pemerolehan bahasa dilakukan Osgood (1953). Dia menjelaskan bahwa proses pemerolehan semantik (makna) didasarkan pada teori mediasi atau penengah. Menurutnya, makna merupakan hasil proses pembelajaran dan pengalaman seseorang dan merupakan mediasi untuk melambangkan sesuatu. Makna sebagai proses mediasi pelambang dan merupakan satu bagian yang distingtif dari keseluruhan respons terhadap suatu objek yang dibiasakan pada kata untuk objek itu, atau persepsi untuk objek itu. Osgood telah memperkenalkan konsep sign (tanda atau isyarat) sehubungan dengan makna Pendapat para ahli psikologi behaviorisme yang menekankan pada observasi empirik dan metode ilmiah hanya dapat mulai menjelaskan keajaiban pemerolehan dan belajar bahasa tapi ranah kajian bahasa yang sangat luas masih tetap tak tersentuh.
2. Teori Nativisme
Berbeda dengan kaum behavioristik, kaum nativistik atau mentalistik berpendapat bahwa pemerolehan bahasa pada manusia tidak boleh disamakan dengan proses pengenalan yang terjadi pada hewan. Mereka tidak memandang penting pengaruh dari lingkungan sekitar. Selama belajar bahasa pertama sedikit demi sedikit manusia akan membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah terprogramkan. Dengan perkataan lain, mereka menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian biologis. Menurut mereka bahasa terlalu kompleks dan mustahil dapat dipelajari oleh manusia dalam waktu yang relatif singkat lewat proses peniruan sebagaimana keyakinan kaum behavioristik. Jadi beberapa aspek penting yang menyangkut sistem bahasa menurut keyakinan mereka pasti sudah ada dalam diri setiap manusia secara alamiah.
Istilah nativisme dihasilkan dari pernyataan mendasar bahwa pembelajaran bahasa ditentukan oleh bakat. Bahwa setiap manusia dilahirkan sudah memiliki bakat untuk memperoleh dan belajar bahasa. Teori tentang bakat bahasa itu memperoleh dukungan dari berbagai sisi. Eric Lenneberg (1967) membuat proposisi bahwa bahasa itu merupakan perilaku khusus manusia dan bahwa cara pemahaman tertentu, pengkategorian kemampuan, dan mekanisme bahasa yang lain yang berhubungan ditentukan secara biologis. Chomsky dalam Hadley (1993: 48) yang merupakan tokoh utama golongan ini mengatakan bahwasannya hanya manusia makhluk Tuhan yang dapat melakukan komunikasi lewat bahasa verbal. Selain itu bahasa juga sangat kompleks oleh sebab itu tidak mungkin manusia belajar bahasa dari makhluk Tuhan yang lain. Chomsky juga menyatakan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia telah memiliki bekal dengan apa yang disebutnya “alat penguasaan bahasa” atau LAD (language Acquisition Device). Chomsky dalam Hadley (1993:50) mengemukakan bahwa belajar bahasa merupakan kompetensi khusus bukan sekedar subset belajar secara umum. Cara berbahasa jauh lebih rumit dari sekedar penetapan Stimulus- Respon. Chomsky dalam Hadley (1993: 48) mengatakan bahwa eksistensi bakat bermanfaat untuk menjelaskan rahasia penguasaan bahasa pertama anak dalam waktu singkat, karena adanya LAD. Menurut golongan ini belajar bahasa pada hakikatnya hanyalah proses pengisian detil kaidah-kaidah atau struktur aturan-aturan bahasa ke dalam LAD yang sudah tersedia secara alamiah pada manusia tersebut. Salah seorang penganut golongan ini Mc. Neil (Brown, 1980:22) mendeskripsikan LAD itu terdiri atas empat bakat bahasa, yakni:
a. Kemampuan untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi yang lain.
b. Kemampuan mengorganisasikan peristiwa bahasa ke dalam variasi yang beragam.
c. Pengetahuan adanya sistem bahasa tertentu yang mungkin dan sistem yang lain yang tidak mungkin.
d. Kemampuan untuk mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang membentuk sistem yang mungkin dengan cara yang paling sederhana dari data kebahasaan yang diperoleh.
Manusia mempunyai bakat untuk terus menerus mengevaluasi sistem bahasanya dan terus menerus mengadakan revisi untuk pada akhirnya menuju bentuk yang berterima di lingkungannya. Chomsky dalam Hadley (1993: 49) mengemukakan bahwa bahasa anak adalah sistem yang sah dari sistem mereka. Perkembangan bahasa anak bukanlah proses perkembangan sedikit demi sedikit stuktur yang salah, bukan dari bahasa tahap pertama yang lebih banyak salahnya ke tahap berikutnya, tetapi bahasa anak pada setiap tahapan itu sistematik dalam arti anak secara terus menerus membentuk hipotesis dengan dasar masukan yang diterimanya dan kemudian mengujinya dalam ujarannya sendiri dan pemahamannya. Selama bahasa anak itu berkembang hipotesis itu terus direvisi, dibentuk lagi atau kadang-kadang dipertahankan.

3.Teori Kognitivisme
Pada tahun 60-an golongan kognitivistik mencoba mengusulkan pendekatan baru dalam studi pemerolehan bahasa. Pendekatan tersebut mereka namakan pendekatan kognitif. Jika pendekatan kaum behavioristik bersifat empiris maka pendekatan yang dianut golongan kognitivistik lebih bersifat rasionalis. Konsep sentral dari pendekatan ini yakni kemampuan berbahasa seseorang berasal dan diperoleh sebagai akibat dari kematangan kognitif sang anak. Mereka beranggapan bahwa bahasa itu distrukturkan atau dikendalikan oleh nalar manusia. Oleh sebab itu perkembangan bahasa harus berlandas pada atau diturunkan dari perkembangan dan perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi manusia. Dengan demikian urutan-urutan perkembangan kognisi seorang anak akan menentukan urutan-urutan perkembangan bahasa dirinya. Menurut aliran ini kita belajar disebabkan oleh kemampuan kita menafsirkan peristiwa atau kejadian yang terjadi di dalam lingkungan. Titik awal teori kognitif adalah anggapan terhadap kapasitas kognitif anak dalam menemukan struktur dalam bahasa yang didengar di sekelilingnya. Pemahaman, produksi, komperehensi bahasa pada anak dipandang sebagai hasil dari proses kognitif anak yang secara terus menerus berubah dan berkembang. Jadi stimulus merupakan masukan bagi anak yang berproses dalam otak. Pada otak terjadi mekanisme mental internal yang diatur oleh pengatur kognitif,kemudian keluar sebagai hasil pengolahan kognitif tadi.
Konsep sentral teori kognitif adalah kemampuan berbahasa anak berasal dari kematangan kognitifnya. Proses belajar bahasa secara kognitif merupakan proses berpikir yang kompleks karena menyangkut lapisan bahasa yang terdalam. Lapisan bahasa tersebut meliputi: ingatan, persepsi, pikiran, makna, dan emosi yang saling berpengaruh pada struktur jiwa manusia. Bahasa dipandang sebagai manifestasi dari perkembangan aspek kognitif dan afektif yang menyatakan tentang dunia dan diri manusia itu sendiri. Dapat dikemukakan bahwa pendekatan kognitif menjelaskan bahwa:
a.dalam belajar bahasa, bagaimana kita berpikir
b.belajar terjadi dan kegiatan mental internal dalam dirikita
c.belajar bahasa merupakan proses berpikir yang kompleks.
 Laughlin dalam Elizabeth (1993: 54) berpendapat bahwa dalam belajar bahasa seorang anak perlu proses pengendalian dalam berinteraksi dengan lingkungan. Pendekatan kognitif dalam belajar bahasa lebih menekankan pemahaman, proses mental atau pengaturan dalam pemerolehan, dan memandang anak sebagai seseorang yang berperan aktif dalam proses belajar bahasa. Selanjutnya menurut Piaget dalam Mansoer Pateda (1990: 67), salah seorang tokoh golongan ini mengatakan bahwa struktur komplek dari bahasa bukanlah sesuatu yang diberikan oleh alam dan bukan pula sesuatu yang dipelajari lewat lingkungan. Struktur tersebut lahir dan berkembang sebagai akibat interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognitif si anak dan lingkungan lingualnya.Struktur tersebut telah tersedia secara alamiah. Perubahan atau perkembangan bahasa pada anak akan bergantung pada sejauh mana keterlibatan kognitif sang anak secara aktif dengan lingkungannya.
Proses belajar bahasa terjadi menurut pola tahapan perkembangan tertentu sesuai umur. Tahapan tersebut meliputi:
a. Asimilasi: proses penyesuaian pengetahuan baru dengan struktur kognitif
b. Akomodasi: proses penyesuaian struktur kognitif dengan pengetahuan baru
c.Disquilibrasi: proses penerimaan pengetahuan baru yang tidak sama dengan yang telah diketahuinya.
d. Equilibrasi: proses penyeimbang mental setelah terjadi proses asimilasi.
Menurut Ausubel dalam Elizabeth (1993: 59) mengatakan proses belajar bahasa terjadi bila anak mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan baru. Proses itu melalui tahapan memperhatikan stimulus yang diberikan, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.
Selanjutnya menurut Bruner dalam Mansoer Pateda (1990: 49) mengemukakan bahwa, proses belajar bahasa lebih ditentukan oleh cara anak mengatur materi bahasa bukan usia anak. Proses belajar bahasa didapat melalui: enaktif yaitu aktivitas untuk memahami lingkungan; ikonik yaitu melihat dunia lewat gambar dan visualisasi verbal; simbolik yaitu memahami gagasan-gagasan abstrak.

4. Teori Fungsional
Dengan munculnya kontruktivisme dalam dunia psikologi, dalam tahun-tahun terakhir ini menjadi lebih jelas bahwa belajar bahasa berkembang dengan baik di bawah gagasan kognitif dan struktur ingatan. Para peneliti bahasa mulai melihat bahwa bahasa merupakan manifestasi kemampuan kognitif dan efektif untuk menjelajah dunia, untuk berhubungan dengan orang lain dan juga keperluan terhadap diri sendiri sebagai manusia. Lebih lagi kaedah generatif yang diusulkan di bawah naungan nativisme itu bersifat abstrak, formal, eksplisit dan logis, meskipun kaidah itu lebih mengutamakan pada bentuk bahasa dan tidak pada tataran fungsional yang lebih dari makna yang dibentuk dari makna yang dibentuk dari interaksi sosial.
a.       Interaksi Sosial Kognisi dan perkembangan bahasa
 Piaget menggambarkan penelitian itu sebagai interaksi anak dengan lingkungannya dengan interaksi komplementer antara perkembangan kapasitas kognitif perseptual dengan pengalaman bahasa mereka. Penelitian itu berkaitan dengan hubungan antara perkembangan kognitif dengan pemerolehan bahasa pertama. Slobin menyatakan bahwa dalam semua bahasa, belajar makna bergantung pada perkembangan kognitif dan urutan perkembangannya lebih ditentukan oleh kompleksitas makna itu dari pada kompleksitas bentuknya. Menurut dia ada dua hal yang menentukan model: 
1) Pada asas fungsional, perkembangan diikuti oleh perkembangan kapasitas komunikatif dan konseptual yang beroperasi dalam konjungsi dengan skema batin konjungsi.
2) Pada asas formal, perkembangan diikuti oleh kapasitas perseptual dan pemerosesan informasi yang bekerja dalam konjungsi dan skema batin tata bahasa.

b. Interaksi Sosial dan Perkembangan Bahasa
Akhir-akhir ini semakin jelas bahwa fungsi bahasa berkembang dengan baik di luar pikiran kognitif dan struktur memori. Di sini tampak bahwa kontruktivis sosial menekankan prespektif fungsional. Bahasa pada hakikatnya digunakan untuk komunikasi interaktif. Oleh sebab itu kajian yang cocok untuk itu adalah kajian tentang fungsi komunikatif bahasa, fungsi pragmatik dan komunikatif dikaji dengan segala variabilitasnya.

5. Teori Konstruktvisme
Jean Piaget dan Leu Vygotski adalah dua nama yang selalu diasosiasikan dengan kontruktivisme. Ahli kontruktivisme menyatakan bahwa manusia membentuk versi mereka sendiri terhadap kenyataan, mereka menggandakan beragam cara untuk mengetahui dan menggambarkan sesuatu untuk mempelajari pemerolehan bahasa pertama dan kedua.
Pembelajaran harus dibangun secara aktif oleh pembelajar itu sendiri dari pada dijelaskan secara rinci oleh orang lain. Pengetahuan yang diperoleh didapatkan dari pengalaman. Namun demikian, dalam membangun pengalaman siswa harus memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pikirannya, menguji ide-ide tersebut melalui eksperimen dan percakapan atau tanya jawab, serta untuk mengamati dan membandingkan fenomena yang sedang diujikan dengan aspek lain dalam kehidupan mereka. Selain itu juga guru memainkan peranan penting dalam mendorong siswa untuk memperhatikan seluruh proses pembelajaran serta menawarkan berbagai cara eksplorasi dan pendekatan. Siswa dapat benar-benar memahami konsep ilmiah dan sains karena telah mengalaminya. Penjelasan mendetail dari guru belum tentu mencerminkan pemahaman siswa mengerti kata-kata ilmiahnya, tapi tidak memahami konsepnya. Namun jika siswa telah mencobanya sendiri, maka pemahaman yang didapat tidak hanya berupa kata-kata saja, namun berupa konsep. Dalam rangka kerjanya, ahli konstruktif menantang guru-guru untuk menciptakan lingkungan yang inovatif dengan melibatkan guru dan pelajar untuk memikirkan dan mengoreksi pembelajaran. Untuk itu ada dua hal yang harus dipenuhi, yaitu: 
1) Pembelajar harus berperan aktif dalam menyeleksi dan menetapkan kegiatan sehingga menarik dan memotivasi pelajar,
2) Harus ada guru yang tepat untuk membantu pelajar-pelajar membuat konsep-konsep, nilai-nilai, skema, dan kemampuan memecahkan masalah. 

6. Teori Humanisme
Teori ini muncul diilhami oleh perkembangan dalam psikologi yaitu psikologi Humanisme. Sesuai pendapat yang dikemukakan oleh McNeil (1977) “In many instances, communicative language programmes have incorporated educational phylosophies based on humanistic psikology or view which in the context of goals for other subject areas has been called ‘the humanistic curriculum’. Teori humanisme dalam pengajaran bahasa pernah diimplementasikan dalam sebuah kurikulum pengajaran bahasa dengan istilah Humanistic curriculum yang diterapkan di Amerika utara di akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Kurikulum ini menekankan pada pembagian pengawasan dan tanggungjawab bersama antar seluruh siswa didik. Humanistic curiculum menekankan pada pola pikir, perasaan dan tingkah laku siswa dengan menghubungkan materi yang diajarkan pada kebutuhan dasar dan kebutuhan hidup siswa.Teori ini menganggap bahwa setiap siswa sebagai objek pembelajaran memiliki alasan yang berbeda dalam mempelajari bahasa.  Tujuan utama dari teori ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa agar bisa berkembang di tengah masyarakat. The deepest goal or purpose is to develop the whole persons within a human society. (McNeil,1977)  Sementara tujuan teori humanisme menurut Coombs (1981):
a.Pengajaran disusun berdasarkan kebutuhan-kebutuhan dan tujuan siswa. program pengajaran diarahkan agar siswa mampu menciptakan pengalaman sendiri berdasarkan kebutuhannya. hal ini dilakukan untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki.
b. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengaktualisasikan dirinya dan untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya.
c. Pengajaran disusun untuk memperoleh keterampilan dasar (akademik, pribadi, antar pribadi, komunikasi, dan ekonomi) berdasarkan kebutuhan masing-masing siswa.
d.Memilih dan memutuskan aktivitas pengajaran secara individual dan mampu menerapkannya.
e. Mengenal pentingnya perasaan manusia, nilai, dan persepsi.
f. Mengembangkan suasana belajar yang menantang dan bisa dimengerti.
g.Mengembangkan tanggung jawab siswa, mengembangkan sikap tulus, respek, dan menghargai orang lain, dan terampil dalam menyelesaikan konflik.
Teori Humanisme dalam pangajaran bahasa banyak dipengaruhi oleh pemikiran para ahli psikologi humanisme seperti Abraham maslow, Carl Roger, Fritz Peers dan Erich Berne. Para ahli psikologi tersebut menciptakan sebuah teori dimana pendidikan berpusat pada siswa (learner centered-pedagogy). Prakteknya dalam dunia pendidikan yaitu dengan menggabungkan pengembangan kognitif dan afektif siswa.
Dalam teori humanisme, setiap siswa memiliki tanggung jawab terhadap pembelajaran mereka masing-masing, mampu mengambil keputusan sendiri, memilih dan mengusulkan aktivitas yang akan dilakukan mengungkapkan perasaan dan pendapat mengenai kebutuhan, kemampuan, dan kesenangannya. Dalam hal ini, guru berperan sebagai fasilitator pengajaran, bukan menyampaikan pengetahuan.  Sementara menurut Fraida Dubin dan Elita Olshtain (1992-76) pengajaran bahasa menurut teori humanisme, sbb.
1)  Sangat menekankan kepada komunikasi yang bermakna (meaningful communication) berdasarkan sudut pandang siswa. Teks harus otentik, tugas-tugas harus kommunikatif, Outcome menyesuaikan dan tidak ditentukan atau ditargetkan sebelumnya.
2)  Pendekatan ini berfokus pada siswa dengan menghargai existensi setiap individu.
3)  Pembelajaran digambarkan sebagai sebuah penerapan pengalaman individual dimana
siswa memiliki kesempatan berbicara dalam proses pengambilan keputusan.
4) Siswa lain sebagai kelompok suporter dimana mereka saling berinteraksi, saling membantu dan saling mengevaluasi satu sama lain.
5)  Guru berperan sebagai fasilitator yang lebih memperhatikan atmosphere kelas dibanding silabus materi yang digunakan. 
6)  Materi berdasarkan kebutuhan-kebutuhan siswa.
7)  Bahasa ibu para siswa dianggap sebagai alat yang sangat membantu jika diperlukan untuk memahami dan merumuskan hipotesa bahasa yang dipelajari. Carl Rogers (1902-1987) dianggap sebagai penemu dan panutan dalam perkembangan pendekatan humanistik dalam pendidikan. Roger (1980) menekankan pada kebutuhan secara alamiah dari setiap orang untuk belajar. Peran guru adalah sebagai fasilitator pengajaran.

7. Teori Sibernetik
Istilah sibernetika berasal dari bahasa Yunani (Cybernetics berarti pilot). Istilah Cybernetics yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi sibernetika, pertama kali digunakan th.1945 oleh Nobert Wiener dalam bukunya yang berjudul Cybernetics.
Nobert mendefinisikan Cybernetics sebagai berikut," The study of control and communication in the animal and the machine." Istilah sibernetika digunakan juga oleh Alan Scrivener (2002) dalam bukunya 'A Curriculum for Cybernetics and Systems Theory.' Sebagai berikut "Study of systems which can be mapped using loops (or more complicated looping structures) in the network defining the flow of information. Systems of automatic control will of necessity use at least one loop of information flow providing feedback." Artinya studi mengenai sistem yang bisa dipetakan menggunakan loops (berbagai putaran) atau susunan sistem putaran yang rumit dalam jaringan yang menjelaskan arus informasi. Sistem pengontrol secara otomatis akan bermanfaat, satu putaran informasi minimal akan menghasilkan feedback. Sementara Ludwig Bertalanffy memandang fungsi sibernetik dalam berkomunikasi. "Cybernetics is a theory of control systems based on communication (transfer of information) between systems and environment and within the system, and control (feedback) of the system's function in regard to environment.  Sibernetika adalah teori sistem pengontrol yang didasarkan pada komunikasi (penyampaian informasi) antara sistem dan lingkungan dan antar sistem, pengontrol (feedback) dari sistem berfungsi dengan memperhatikan lingkungan. 
Seiring perkembangan teknologi informasi yang diluncurkan oleh para ilmuwan dari Amerika sejak tahun 1966, penggunaan komputer sebagai media untuk menyampaikan informasi berkembang pesat. Teknologi ini juga dimanfaatkan dunia pendidikan terutama guru untuk berkomunikasi sesama relasi, mencari handout (buku materi ajar), menerangkan materi pelajaran atau pelatihan, bahkan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa. Prinsip dasar teori sibernetik yaitu menghargai adanya 'perbedaan', bahwa suatu hal akan memiliki perbedaan dengan yang lainnya, atau bahwa sesuatu akan berubah seiring perkembangan waktu. Pembelajaran digambarkan sebagai : INPUT => PROSES => OUTPUT
Teori sibernetik diimplementasikan dalam beberapa pendekatan pengajaran (teaching approach) dan metode pembelajaran, yang sudah banyak diterapkan di Indonesia. Misalnya virtual learning, e-learning, dll.  Beberapa kelebihan teori sibernetik:
a. Setiap orang bisa memilih model pembelajaran yang paling sesuai dengan untuk dirinya, dengan mengakses melalui internet pembelajaran serta modulnya dari berbagai penjuru dunia.
b. Pembelajaran bisa disajikan dengan menarik, interaktif dan komunikatif. Dengan animasi-animasi multimedia dan interferensi audio, siswa tidak akan bosan duduk berjam-jam mempelajari modul yang disajikan. 
c.Menganggap dunia sebagai sebuah 'global village', dimana masyarakatnya bisa saling mengenal satu sama lain, bisa saling berkomunikai dengan mudah, dan pembelajaran bisa dilakukan dimana saja tanpa dibatasi ruang dan waktu, sepanjang sarana pembelajaran mendukung.
d. Buku-buku materi ajar atau sumber pembelajaran lainnya bisa diperoleh secara autentik (sesuai aslinya), cepat dan murah. 
e. Ketika bertanya atau merespon pertanyaan guru atau instruktur, secara psikologis siswa akan lebih berani mengungkapkanya, karena siswa tidak akan merasa takut salah dan menanggung akibat dari kesalahannya secara langsung. 

C .Pendekatan Pembelajaran Bahasa
Dalam proses belajar mengajar, kita mengenal istilah pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Istilah-istilah tersebut sering digunakan dengan pengertian yang sama; artinya, orang menggunakan istilah pendekatan dengan pengertian yang sama dengan pengertian metode, dan sebaliknya menggunakan istilah metode dengan pengertian yang sama dengan pendekatan; demikian pula dengan istilah teknik dan metode. Pendekatan merupakan dasar teoretis untuk suatu metode. Asumsi tentang bahasa bermacam-macam, antara lain asumsi yang menganggap bahasa sebagai kebiasaan; ada pula yang menganggap bahasa sebagai suatu sistem komunikasi yang pada dasarnya dilisankan; dan ada lagi yang menganggap bahasa sebagai seperangkat kaidah, norma, dan aturan. Asumsi-asumsi tersebut menimbulkan adanya pendekatan-pendekatan yang berbeda, yakni:
1.      Pendekatan belajar berbahasa berarti berusaha membiasakan dan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi.
2.      Pendekatan belajar berbahasa berarti berusaha untuk memperoleh kemampuan berkomunikasi secara lisan sehingga berpengaruh pada kemampuan berbicara.
3.      Pendekatan pembelajaran bahasa yang harus diutamakan ialah pemahaman akan kaidah-kaidah yang mendasari ujaran, tekanan pembelajaran pada aspek kognitif bahasa, bukan pada kemampuan menggunakan bahasa.
Pendekatan yang telah lama diterapkan dalam pembelajaran bahasa antara lain ialah pendekatan tujuan dan pendekatan struktural. Kemudian menyusul pendekatan-pendekatan yang dipandang lebih sesuai dengan hakikat dan fungsi bahasa, yakni pendekatan komunikatif.
1.      Pendekatan Tujuan, dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan belajar mengajar, yang harus dipikirkan dan ditetapkan lebih dahulu ialah tujuan yang hendak dicapai. Jadi, proses belajar mengajar ditentukan oleh tujuan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan itu sendiri.Pada bagian terdahulu telah disebutkan bahwa kurikulum disusun berdasarkan suatu pendekatan. Misalnya, untuk pokok bahasan menulis, tujuan pembelajaran yang ditetapkan ialah “Siswa mampu membuat karangan/cerita berdasarkan pengalaman atau informasi dari bacaan”. Dengan berdasar pada pendekatan tujuan, maka yang penting ialah tercapainya tujuan, yakni siswa memiliki kemampuan mengarang. Penerapan pendekatan tujuan ini sering dikaitkan dengan “cara belajar tuntas”.
2.      Pendekatan Struktural, merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa dimana bahasa harus dipahami sebagai seperangkat kaidah, norma, dan aturan. Karena itu pembelajaran bahasa harus mengutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Selain itu, pembelajaran bahasa perlu dititikberatkan pada pengetahuan tentang ketatabahasaan yang menjadi sangat penting. Jelas bahwa aspek kognitif bahasa lebih diutamakan. Dengan pedekatan struktural, siswa akan menjadi cermat dalam menyusun kalimat, karena mereka memahami kaidah-kaidahnya.
3.      Pendekatan Komunikatif, merupakan pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam komunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Karena bahasa memiliki fungsi sebagai  sarana untuk berkomunikasi. Littlewood (1981) mengemukakan beberapa alternatif teknik pembelajaran bahasa.
D.   Macam-Macam Metode pembelajaran
1.Metode Ceramah                                                                                                                             Metode pembelajaran ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar. Dengan metode ceramah, guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya. Metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.
2.Metode Diskusi                                                                                                                    Metode pembelajaran diskusi adalah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif dibanding metode ceramah. Metode ini dapat meningkatkan pemahaman anak pada konsep dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan ceramah. Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas pengetahuan anak dari pada metode diskusi.
3. Metode Demonstrasi                                                                                                           Metode pembelajaran demontrasi merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Demonstrasi sebagai metode pembelajaran seorang guru atau seorang demonstrator (orang luar yang sengaja diminta) atau seorang siswa memperlihatkan kepada seluruh kelas sesuatu proses.
4. Metode Ceramah Plus                                                                                                         Metode Pembelajaran Ceramah Plus adalah metode pengajaran yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah yang dikombinasikan dengan metode lainnya. Ada tiga macam metode ceramah plus, diantaranya yaitu:
a)      Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas
b)      Metode ceramah plus diskusi dan tugas
c)      Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
5. Metode Study Tour (Karya wisata)                                                                                                            Metode Study Tour (Karya wisata)  adalah metode mengajar dengan mengajak peserta didik mengunjungi suatu objek guna memperluas pengetahuan dan selanjutnya peserta didik membuat laporan dan mendiskusikan serta membukukan hasil kunjungan tersebut dengan didampingi oleh pendidik.
6. Metode Latihan Keterampilan                                                                                            Metode Latihan Keterampilan adalah suatu metode mengajar dengan memberikan pelatihan keterampilan secara berulang kepada peserta didik, dan mengajaknya langsung ketempat latihan keterampilan untuk melihat proses tujuan, fungsi, kegunaan dan manfaat sesuatu (misal: membuat tas dari mute). Metode latihan keterampilan ini bertujuan membentuk kebiasaan atau pola yang otomatis pada pesertrta didik.
E. Teknik Pembelajaran Bahasa.
Teknik diartikan sebagai metode atau sistem mengerjakan sesuatu (KBBI, 2001:1158). Teknik pembelajaran merupakan cara guru menyampaikan bahan ajar yang telah disusun (dalam metode), berdasarkan pendekatan yang dianut. Teknik yang digunakan oleh guru bergantung pada kemampuan guru itu mencari akal atau siasat agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancer dan berhasil dengan baik. Untuk metode yang sama dapat digunakan teknik pembelajaran yanmg berbeda-beda bergantung pada situasi kelas, lingkungan dan sifat-sifat siswa serta kondisi yang lain. Teknik pembelajaran ditentukan berdasar pada metode yang digunakan, dan metode disusun berdasarkan pendekatan yang dianut. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, teknik ini mengacu pada implementasi perencanaan pembelajaraan Bahasa Indonesia di depan kelas. Teknik bersifat prosedural. Teknik yang baik dijabarkan metode dan serasi dengan pendekatan.
Berikut sejumlah teknik dalam pembelajaran bahasa Indonesia:
1.      Teknik Ceramah, pelaksanaan teknik ceramah dikelas rendah dapat berbentuk cerita kenyataan, dongeng atau informasi tentang ilmu pengetahuan.
2.      Teknik Tanya Jawab, teknik tanya jawab dapat diterapkan pada latihan keterampilan menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Selain guru bertanya pada murid, murid juga dapat bertanya pada guru.
3.      Teknik Diskusi Kelompok, teknik ini dapat dilakukan di kelas rendah dengan bimbingan guru. Peran guru terutama dalam pemilihan bahan diskusi, pemilihan ketua kelompok dan memotivasi siswa lainnya agar mau berbicara atau bertanya.
4.      Teknik Pemberian Tugas, teknik ini bertujuan agar siswa lebih aktif dalam mendalami pelajaran dan memiliki keterampilan tertentu, untuk siswa kelas rendah tugas individual dapat dilakukan dengan cara membuat catatan kegiatan harian atau disuruh menghafal puisi atau lagu.
5.      Teknik Bermain Peran, teknik ini bertujuan agar siswa menghayati kejadian atau peran seseorang dalam hubungan sosialnya. Dalam bermain peran siswa dapat mencoba menempatkan diri sebagai tokoh atau pribadi tertentu, misal: sebagai guru, sopir, dokter, pedagang, hewan, dan tumbuhan. Setelah itu diharapkan siswa dapat menghargai jasa dan peranan orang lain, alam dalam kehidupannya.
6.      Teknik Karya Wisata, teknik ini dilaksanakan dengan cara membawa langsung siswa kepada obyek yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Misalkan : museum, kebun binatang, tempat pameran atau tempat karya wisata lainnya.
7.      Teknik Sinektik, strategi pengajaran sinektik merupakan susatu strategi untuk menjadikan suatau masyarakat intelektual yang menyediakan berbagai siswa untuk bertindak kreatif dan menjelajahi gagasan-gagasan baru dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan alam, teknologi, bahasa dan seni.






BAB. IV
METODE DALAM BELAJAR BAHASA KEDUA

A. Pengertian Metode
Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:740), metode didefinisikan sebagai cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai yang dikehendaki. Selain itu metode juda didefinisikan sebagai cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
Adapun pengertian dan definisi metode menurut para ahli antara lain :
1.Rothwell & Kazanas : Metode adalah cara, pendekatan, atau proses untuk menyampaikan informasi.
2.Titus : Metode adalah rangkaian cara dan langkah yang tertib dan terpola untuk menegaskan bidang keilmuan.
3. Macquarie Metode adalah suatu cara melakukan sesuatu, terutama yang berkenaan dengan rencana tertentu.
4. Wiradi : Metode adalah seperangkat langkah (apa yang harus dikerjakan) yang tersusun secara sistematis (urutannya logis).
5.Almadk (1939) : Metode adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.
6. Ostle (1975): Metode adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.
7. Drs. Agus M. Hardjana ;Metode adalah cara yang sudah dipikirkan masak-masak dan dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah tertentu guna mencapai tujuan yang hendak dicapai.
9. Hebert Bisno (1969) : Metode adalah teknik-teknik yg digeneralisasikan dgn baik agar dapat diterima atau digunakan secara sama dalam satu disiplin, praktek, atau bidang disiplin dan praktek.
10.Max Siporin (1975) : Metode adalah sebuah orientasi aktifitas yg mengarah kepada persyaratan tugas-tugas dan tujuan-tujuan nyata.
11.Rosdy Ruslan (2003:24) : Metode merupakan kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan suatu cara kerja (sistematis) untuk memahami suatu subjek atau objek penelitian, sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya.
12.Nasir (1988:51) : Metode adalah cara yang digunakan untuk memahami sebuah objek sebagai bahan ilmu yang bersangkutan.
B. Metode Dalam Belajar Bahasa Kedua
Pengertian Bahasa Kedua
1.       Menurut Chaer dan Agustina
Pemerolehan bahasa kedua adalah rentang bertahap yang dimulai dari menguasai bahasa pertama (B1) ditambah sedikit mengetahui bahasa kedua (B2), lalu penguasaan B2 meningkat secara bertahap, sampai akhirnya penguasaan B2 sama baiknya dengan B1.
2.       Kholid A. Harras Bahasa kedua adalah bahasa yang diperoleh anak setelah mereka memperoleh bahasa             pertama.
3.      Henry Guntur Tarigan Pemerolehan bahasa kedua diartikan dengan mengajar dan belajar bahasa asing dan atau     bahasa kedua lainnya.
4.      Menurut Dardjowidjojo Pemerolehan bahasa kedua diperoleh melalui proses orang dewasa yang belajar di kelas    adalah pembelajaran secara formal di perbandingkan dengan bahasa permata secara alamiah.
5.      Wikipedia Pemerolehan bahasa kedua adalah proses seseorang belajar bahasa kedua disamping bahasa ibu, mereka mengacu pada aspek sadar dan bawah sadar dari masing-masing proses.

Bahasa kedua atau B2 biasanya mengacu pada semua bahasa yang dipelajari setelah bahasa ibu mereka, yang juga disebut bahasa pertama, B1. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, metode diartikan sebagai sistem perencanaan pembelajaran Bahasa Indonesia secara menyeluruh untuk memilih, mengorganisasikan, dan menyajikan materi pelajaran Bahasa Indonesia secara teratur.  Metode bersifat prosedural. Artinya, penerapan Pembelajaran Bahasa Indonesia harus dikerjakan menurut langkah-langkah yang teratur, bertahap yakni mulai perencanaan pembelajaran, penyajian sampai dengan penilaian dan hasil pembelajaran. Beberapa ciri metode yang baik, yaitu:
1)      Mengundang rasa ingin tahu siswa.
2)      Menantang siswa untuk belajar.
3)      Mengaktifkan mental, fisik, dan psikis siswa.
4)      Memudahkan guru.
5)      Mengembangkan kreativitas siswa.
6)      Mengembangkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap metode pembelajaran Bahasa Indonesia, antara lain sebagai berikut:
1)      Persamaan dan perbedaan antara sistem bahasa pertama siswa dengan bahasa kedua yang mereka pelajari.
2)      Usia siswa pada saat mereka belajar bahasa.
3)      Latar belakang sosial budaya siswa.
4)      Pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan berbahasa siswa dalam bahasa yang dipelajarinya yang sudah mereka punyai.
5)      Pengetahuan dan keterampilan berbahasa guru dalam bahasa yang akan dipelajarinya.
6)      Kedudukan dan fungsi bahasa yang dipelajari siswa dalam masyarakat tempat di mana mereka berada.
7)      Tujuan pembelajaran yang diinginkan.
8)      Alokasi waktu yang tersedia untuk kegiatan pembelajaran.
Ciri-ciri bahasa kedua
Proses penguasaan Bahasa Kedua mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Proses belajar bahasa secara sengaja.
2.      Berlangsung setalah terdidik berada di sekolah.
3.      Lingkungan sekolah sangat menentukan.
4.      Motivasi si terdidik tidak sekuat saat memppelajari bahasa pertama.
5.      Waktunya terbatas.
6.      Si terdidik tidak mempunyai bnyak waktu untuk mempraktekkan bahasa yang dipelajari.
7.      Bahasa pertama mempengaruhi proses belajar bahasa kedua.
8.      Umur kritis mempelajari bahasa kedua kadang-kadang telah lewat, sehingga proses belajar bahasa kedua berlangsung lama, dan disediakan alat bantu belajar.

      Strategi kemampuan bahasa kedua :
a. Strategi langsung adalah strategi yang melibatkan secara langsung sasaran bahasa terhadap pembelajar. Semua strategi langsung memerlukan proses mental, tetapi proses dan tujuannya berbeda-beda. Strategi langsung ini dugunakan oleh pembelajar untuk mengatasi masalah kebahasaannya melalui sentuhan langsung dengan materi kebahasaan yang ada.
b. Strategi secara tidak langsung adalah strategi untuk pengaturan belajar bahasa secara umum. Jika strategi secara langsung memiliki hubungan langsung dengan pemecahan problema kebahasaan, strategi tak langsung tidak.  Ibarat peran direktur permainan, strategi tak langsung memerankan berbagai fungsi sebagai tuan rumah: menfokuskan, mengorganisasi, menimbang, mengecek, mengoreksi, menumbuhkan percaya diri, dan menghibur para pelaku, demikian pula menyakinkan agar para aktor  (strategi langsung) dapat bekerja sama dengan para aktor lain dalam dalam permainan (penyelesaian tugas Bahasa Kedua).

C. METODE TRADISIONAL
1.Pengertian Metode Tradisional
            Pendekatan tradisional adalah istilah yang dipergunakan untuk mengacu pada penyelenggaraan (baca: perencanaan dan pelaksanaan) tes bahasa yang cenderung mengadopsi prinsip bahwa tes bahasa  dititikberatkan pada tes tatabahasa dan terjemahan.  Metode ini, seperti yang dikemukakan oleh Richards dan Rogers (1988:3-4), memiliki prinsip-prinsip pengajaran antara lain:
(a) mempelajari bahasa asing adalah mempelajari   bahasa dengan tujuan agar dapat membaca kesusasteraannya,
(b) membaca dan menulis adalah fokus utama pengajaran,
(c) ketepatan dalam penerjemahan sangat ditekankan, dan
(d) tatabahasa harus diajarkan secara deduktif, yakni beranjak dari kaidah-kaidah lalu menuju pada contoh-contoh ilustrasinya.
            Metode Tradisional dalam pembelajaran ilmu adalah sebuah metode melalui pengijazahan ilmu yang dimana seorang murid melakukan petunjuk dari sang guru untuk mendapatkan suatu keilmuan tertentu. Ada sebuah pendapat pengijazahan adalah sebuah pentransferan keyakinan dan energi dari sang guru kepada murid (tanpa mengurangi energi dari sang guru, justru energi sang guru semakin bertambah).  Pembelajaran melalui metode pengijazahan dari dulu sampai sekarang masih banyak yang menganutnya karena memang metode pengijazahan adalah metode yang mudah dan praktis untuk mendapatkan sebuah ilmu (kemampuan tertentu).
1.1Metode Tradisional TGT
1.1.1.Gambaran Mengenai Team Games Tournament (TGT)
            Model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
            Teams games tournament (TGT) pada mulanya dikembangkan oleh Davied Devries dan Keith Edward, ini merupakan metode pembelajaran pertama dari Johns Hopkins. Dalam model ini kelas terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 3 sampai dengan 5 siswa yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya, kemudian siswa akan bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecilnya.
            Pembelajaran dalam Teams games tournament (TGT) hampir sama seperti STAD dalam setiap hal kecuali satu, sebagai ganti kuis dan sistem skor perbaikan individu, TGT menggunakan turnamen permainan akademik. Dalam turnamen itu siswa bertanding mewakili timnya dengan anggota tim lain yang setara dalam kinerja akademik mereka yang lalu. Nur dan Wikandari (2000) menjelaskan bahwa Teams games tournament (TGT) telah  digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran, dan paling cocok digunakan untuk mengajar tujuan pembelajaran yang dirumuskan dengan tajam dengan satu jawaban benar, seperti perhitungan dan penerapan berciri matematika, dan fakta-fakta serta konsep ilmu pengetahuan alam.
Pendekatan Kelompok Kecil dalam Teams Games Tournament
            Pendekatan yang digunakan dalam Teams games tournament adalah pendekatan secara kelompok yaitu dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dalam pembelajaran. Pembentukan kelompok kecil akan membuat siswa semakin aktif dalam pembelajaran.  Ciri dari pendekatan secara berkelompok dapat ditinjau dari segi.
1.      Tujuan Pengajaran dalam Kelompok Kecil
Tujuan pembelajaran dalam kelompok kecil yaitu; (a) member kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional, (b) mengembangkan sikap social dan semangat bergotong royong (c) mendinamisasikan kegiatan kelompok dalam belajar sehingga setiap kelompok merasa memiliki tanggung jawab, dan (d) mengembangkan kemampuan kepemimpinan dalam kelompok tersebut (Dimyati dan Mundjiono, 2006).
2.      Siswa dalam Pembelajaran Kelompok Kecil
Agar kelompok kecil dapat berperan konstruktif dan produktif dalam pembelajaran  diharapkan; (a) anggota kelompok sadar diri menjadi anggota kelompok, (b) siswa sebagai anggota kelompok memiliki rasa tanggung jawab, (c) setiap anggota kelompok membina hubungan yang baik dan mendorong timbulnya semangat tim, dan (d) kelompok mewujudkan suatu kerja yang kompak (Dimyati dan Mundjiono, 2006).
3.      Guru dalam Pembelajaran Kelompok
Peranan guru dalam pembelajaran kelompok yaitu; (a) pembentukan kelompok (c) perencanaan tugas kelompok, (d) pelaksanaan, dan (d) evalusi hasil belajar kelompok.
Komponen dan Pelaksanaan Team Game Tournament dalam Pembelajaran
Ada lima komponen utama dalam TGT, yaitu:
1)      Penyajian kelas
            Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini , siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang diberikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.
2)       Kelompok ( team )
            Kelompok biasanya terdiri atas empat sampai dengan lima orang siswa. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
3)      Game  
Game terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapatkan skor.
4)      Turnamen
Untuk memulai turnamen masing-masing peserta mengambil nomor undian. Siswa yang mendapatkan nomor terbesar sebagai reader 1, terbesar kedua sebagai chalennger 1, terbesar ketiga sebagai chalenger 2, terbesar keempat  sebagai chalenger 3. Dan kalau jumlah peserta dalam kelompok itu lima orang maka yang mendapatkan nomor terendah sebagai reader2. Reader 1 tugasnya membaca soal dan menjawab soal pada kesempatan yang pertama. Chalenger 1 tugasnya menjawab soal yang dibacakan oleh reader1 apabila menurut chalenger 1 jawaban reader 1 salah.Chalenger 2 tugasnya adalah menjawab soal yang dibacakan oleh reader 1 tadi apabila jawaban reader 1 dan chalenger 1 menurut chalenger 2 salah. Chalenger 3 tugasnya adalah menjawab soal yang dibacakan oleh reader 1 apabila jawaban reader1, chalenger 1, chalenger 2 menurut chalenger 3 salah. Reader 2 tugasnya adalah membacakan kunci jawaban .
Permainan dilanjutkan pada soal nomor dua. Posisi peserta berubah searah jarum jam. Yang tadi menjadi chalenger 1 sekarang menjadi reader1, chalenger 2 menjadi chalenger 1, chalenger3 menjadi chalenger 2, reader 2 menjadi chalenger 3 dan reader 1 menjadi reader2. Hal itu terus dilakukan sebanyak jumlah soal yang disediakan guru.
5)      Penghargaan kelompok (team recognise)
            Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan.
Kriteria ( Rerata Kelompok )
Predikat
≥ 45
Super Team
40 – 45
Great Team
30 – 40
Good Team

Implementasi Model Pembelajaran TGT
Dalam pengimplementasian yang hal yang harus diperhatikan yaitu ;
a.       Pembelajaran terpusat pada siswa.
b.      Proses pembelajaran dengan suasana berkompetisi.
c.       Pembelajaran bersifat aktif ( siswa berlomba untuk dapat menyelesaikan persoalan).
d.      Pembelajaran diterapkan dengan mengelompokkan siswa menjadi tim-tim.
e.       Dalam kompetisi diterapkan system point
f.       Dalam kompetisi disesuaikan dengan kemampuan siswa atau dikenal kesetaraan dalam kinerja akademik.
g.      Kemajuan kelompok dapak diikuti oleh seluruh kelas melalui jurnal kelas yang diterbitkan secara mingguan.
h.      Dalam pemberian bimbingan guru mengacu pada jurnal.
i.        Adanya system penghargaan bagi siswa yang memperoleh point banyak


Kelemahan dan Kelebihan Model Pembelajaran TGT

            Slavin (2008), melaporkan beberapa laporan hasil riset tentang pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap pencapaian belajar siswa yang secara inplisit mengemukakan keunggulan dan kelemahan pembelajaran TGT, sebagai berikut:
§  Para siswa di dalam kelas-kelas yang menggunakan TGT memperoleh teman yang secara signifikan lebih banyak dari kelompok rasial mereka dari pada siswa yang ada dalam kelas tradisional.
§  Meningkatkan perasaan/persepsi siswa bahwa hasil yang mereka peroleh tergantung dari kinerja dan bukannya pada keberuntungan.
§  TGT meningkatkan harga diri sosial pada siswa tetapi tidak untuk rasa harga diri akademik mereka.
§  TGT meningkatkan kekooperatifan terhadap yang lain (kerja sama verbal dan nonberbal, kompetisi yang lebih sedikit).
§  Keterlibatan siswa lebih tinggi dalam belajar bersama, tetapi menggunakan waktu yang lebih banyak.
§  TGT meningkatkan kehadiran siswa di sekolah pada remaja-remaja dengan gangguan emosional, lebih sedikit yang menerima skors atau perlakuan lain.
            Sebuah catatan yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran TGT adalah bahwa nilai kelompok tidaklah mencerminkan nilai individual siswa. Dengan demikian, guru harus merancang alat penilaian khusus untuk mengevaluasi tingkat pencapaian belajar siswa secara individual.
            Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran TGT  Metode pembelajaran kooperatif Team Games Tournament (TGT) ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Menurut Suarjana (2000:10) dalam Istiqomah (2006), yang merupakan kelebihan dari pembelajaran TGT antara lain:
1.      Lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas.
2.      Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu.
3.      Dengan waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara mendalam.
4.      Proses belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa.
5.      Mendidik siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain.
6.      Motivasi belajar lebih tinggi.
7.      Hasil belajar lebih baik.
8.      Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi.
Sedangkan kelemahan TGT adalah:
1)      Bagi Guru
            Sulitnya pengelompokan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademis. Kelemahan ini akan dapat diatasi jika guru yang bertindak sebagai pemegang kendali teliti dalam menentukan pembagian kelompok waktu yang dihabiskan untuk diskusi oleh siswa cukup banyak sehingga melewati waktu yang sudah ditetapkan. Kesulitan ini dapat diatasi jika guru mampu menguasai kelas secara menyeluruh.
2)      Bagi Siswa
            Masih adanya siswa berkemampuan tinggi kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan kepada siswa lainnya. Untuk mengatasi kelemahan ini, tugas guru adalah membimbing dengan baik siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi agar dapat dan mampu menularkan pengetahuannya kepada siswa yang lain.
            Dari pembahasan materi model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) tersebut, maka dapat disimpulkan
1.      Dengan model pembelajaran TGT ( Teams Games Tournaments ) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Karena siswa dapat belajar lebih rileks, serta dapat menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
2.      Dengan model pembelajaran TGT ( Teams Games Tournaments ) dapat menambah wawasan tentang berbagai model pembelajaran serta dapat meningkatkan kompetensi guru.

1.2.Metode Tradisional Natural
a. Metode Alami (Natural Method)
Metode alami (Natural Method) disebut demikian karena dalam proses belajar, siswa dibawa ke alam seperti halnya pelajaran bahasa ibu sendiri. Dalam pelaksanaannya, metode ini tidak jauh berbeda dengan metode langsung (direct) dimana guru menyajikan materi pelajaran langsung dalam bahasa asing tanpa diterjemahkan sedikitpun, kecuali dalam hal-hal tertentu dimana kamus dan bahasa anak didik digunakan.
Ciri-ciri metode ini antara lain:
1.      Pelajaran mula-mula diberikan melalui menyimak/mendengarkan kemudian percakapan, membaca menulis dan terakhir gramatika.
2.      Pelajaran disajikan mula-mula memperkenalkan kata-kata yang sederhana yang telah diketahui anak didik, kemudian mempraktekkan benda-benda.
3.      Alat peraga dan kamus yang dapat digunakan sewaktu-waktu saat diperlukan.
4.      Kemampuan dan kelancaran membaca dan bercakap-cakap sangat diutamakan dalam metode ini maka pelajaran gramatikal (tata bahasa) kurang diperhatikan.
Keunggulan metode alami antara lain:
1.      Setiap individu siswa dibawa ke dalam suasana lingkungan sesungguhnya untuk aktif mendengarkan dan menggunakan percakapan dalam bahasa asing.
2.      Pengajaran membaca dan bercakap-cakap dalam bahasa asing sangat diutamakan, sedangkan pelajaran gramatikal diajarkan sewaktu-waktu saja.
3.      Pengajaran menjadi bermakna dan mudah diserap siswa, karena setiap kata dan kalimat yang diajarkan memiliki konteks (hubungan) dengan dunia (kehidupan sehari-hari) siswa atau anak didik.
Kelemahan metode alami antara lain:
1.      Siswa merasa kesulitan belajar apabila belum memiliki bekal dasar bahasa asing terutama pada tingkat-tingkat pemula.
2.      Anak didik dan guru bersikap tradisional mengutamakan gramatika lebih dahulu daripada membaca dan percakapa, sesuatu hal yang salah secara ilmiah yang amat perlu diubah.
3.      Kurangnya macam-macam media atau alat peraga yang diperlukan dalam pengajaran bahasa asing di sekolah-sekolah.
4.      Guru yang kurang memiliki kemampuan dan pengalaman praktis dalam berbahasa asing merupakan faktor sulitnya diterapkan dan berhasil secara baik metode tersebut.

1.3  Metode Tradisional Langsung
a.      Metode Langsung (Direct Method)
Metode ini muncul pada abad ke 19 dan berkembang pada abad ke 20. Karena metode ini mempunyai pemikiran baru sehingga berlawanan dengan metode qowa’id dan terjemah yang digunakan oleh para pemula dalam belajar bahasa. Metode ini tidak puas terhadap pengajaran bahasa dengan Metode Tata Bahasa Terjemah, diantaranya karena menggunakan bahasa siswa sebagai bahasa pengantar. Disamping itu, bertambahnya jumlah masyarakat Eropa dari berbagai negara yang menjalin komunikasi antar mereka sendiri menyebabkan mereka merasakan adanya kebutuhan yang mendesak untuk menguasai sebuah bahasa yang bisa menjadi lingua franca secara aktif dan produktif.
Metode langsung adalah suatu cara menyajikan suatu materi pelajaran bahasa asing dimana guru langsung menggunakan bahasa asing  tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikitpun dalam mengajar. Metode yang melihat bahasa sebagai apa yang diucapkan oleh penutur asli bahasa itu. Sehingga, para pelajar bahasa tidak hanya mempelajari bahasa sasaran tetapi juga mempelajari budaya dari penutur asli. Asumsi metode ini adalah proses belajar bahasa asing adalah sama dengan belajar bahasa ibu. Pelajar bahasa asing harus dibiasakan untuk berpikir dalam bahasa target, dan untuk mencapai kemampuan itu penggunaan bahasa ibu harus dihindarkan sepenuhnya. Metode ini berpijak dari pemahaman. Pengajaran bahasa asing  tidak sama halnya dengan mengajar ilmu pasti atau ilmu alam. Jika mengajar ilmu pasti, siswa dituntut agar dapat menghapal rumus-rumus tertentu, berpikir dan megingat.
Dalam pengajaran bahasa, siswa dilatih praktek langsung mengucapkan kata-kata atau kalimat tertentu. Sekalipun kata-kata atau kalimat tersebut mula-mula masih asing dan tidak dipahami anak didik, namun sedikit demi sedikit kata-kata dan kalimat-kalimat itu akan dapat diucapkan dan dapat pula mengartikannya. Pada prinsipnya metode langsung ini sangat utama dalam mengajar bahasa asing, karena melalui metode  ini siswa dapat langsung melatih kemahiran lidah tanpa menggunakan bahasa ibu (bahasa lingkungannya). Meskipun pada mulanya terlihat sulit anak didik untuk menirukannya, tapi metode ini menarik bagi anak didik.
Tujuan metode ini adalah adanya hubungan langsung dengan penutur asli secara alamiyah, menjadikan pelajar berkemauan keras untuk belajar bahasa asing dengan cepat tanpa tergantung terjemah kedalam bahasa ibu, mengutamakan bagaiamana cara mengucapkan dan mengakhirkan belajar menulis dilihat dari kemampuan berbahasa ada empat dimana dalam pemerolehannya secara bertahap serupa dengan bagaimana balita yang pertama kali belajar bahasa ibu, dimulai dengan memahami apa yang didengar secara bertahap, diikuti dengan berbicara, membaca kemudian menulis, siswa menggunakan bahasa asing sejak ia belajar bahasa itu, lebih mengutamakan kelancaran berbahasa.
Ciri-ciri metode ini antara lain:
1.      Materi pelajaran  pertama-tama diberikan kata demi kata, kemudian struktur kalimat.
2.      Gramatika diajarkan hanya bersifat sambil lalu, siswa tidak dituntut menghapal rumus gramatika, tapi yang utama adalah siswa mampu mengucapkan bahasa asing secara baik.
3.      Senantiasa menggunakan alat bantu (peraga) atau peragaan mealui simbol-simbol atau gerakan-gerakan tertentu.
4.      Setelah masuk kelas, anak didik benar-benar dikondisikan untuk menerima dan bercakap-cakap dalam bahasa asing dan dilarang menggunakan bahasa lain.
Peranan Guru, Siswa dan Bahan Ajar
Peranan guru adalah sebagai pengawas kegiatan siswa, pelaksana rancangan belajar, memulai dan mengakhiri belajar sesuai aturan yang ada pada buku pegangan, seperti mitra dalam pembelajaran dan juga sebagai fasilitator yakni menunjukkan kepada siswa apa kesalahan yang mereka perbuat dan bagaimana cara mengkoreksi kesalahan itu.
            Peranan siswa terbatas. Inisiasi interaksi pembelajaran berasal dari kedua belah pihak, dari guru kepada siswa dan sebaliknya, meskipun inisiasi dari siswa sering berada dalam pengawasan guru. Para siswa juga berbicara antara satu dengan yang lain.  Peranan bahan ajar adalah sebagai alat untuk mempermudah menjelaskan kata-kata yang sulit dimengerti oleh siswa, guru dapat menggunakan alat peraga, menggambarkan, dan lain-lain.

Keunggulan metode langsung antara lain:
1.      Siswa terampil menyimak dan berbicara karena mereka mendapat banyak latihan dalam bercakap-cakap, khususnya mengenai topik-topik yang sudah dilatih dalam kelas.
2.      Siswa mengusai pelafalan dengan baik seperti atau mendekati penutur asli.
3.      Siswa mengetahui banyak kosa kata dan pemakaiannya dalam kalimat.
4.      Siswa memiliki keberanian dan spontanitas dalam berkomunikasi karena sejak awal telah dilatih untuk  berpikir dalam bahasa target sehingga tidak terhambat oleh proses penerjemahan.
5.      Siswa menguasai tata bahasa secara fungsional tidak sekedar teoritis, artinya berfungsi untuk mengkontrol kebenaran  ujarannya.
6.      Siswa termotivasi untuk dapat menyebutkan dan mengerti kata-kata kalimat dalam bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya, apalagi guru menggunakan alat peraga dan macam-macam media yang menyenangkan.
7.      Metode ini biasanya guru mula-mula mengajarkan kata-kata dan kalimat-kalimat sederhana yang dapat dimengerti dan diketahui oleh siswa dalam bahasa sehari-hari misalnya (pena, pensil, bangku, meja, dan lain-lain), maka siswa dapat dengan mudah menangkap simbol-simbol bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya.
8.      Metode ini relatif banyak menggunakan berbagai macam alat peraga apakah video, film, radio, kaset, tape recorder, dan berbagai media atau alat peraga yang dibuat sendiri, maka metode ini menarik minat siswa, karena sudah merasa senang atau tertarik, maka pelajaran terasa tidak sulit.
9.      Siswa memperoleh pengalaman langsung dan praktis, sekalipun mula-mula kalimat yang diucapkan itu belum dimengerti dan dipahami sepenuhnya.
10.  Alat ucap atau lidah siswa atau anak didik menjadi terlatih dan jika menerima ucapan-ucapan yang semula sering terdengar dan terucapkan.

Kelemahan metode langsung antara lain:
1.      Kemampuan pelajar dalam membaca untuk pemahaman lemah, karena materi dan latihan yang disediakan lebih menekankan pada keterampilan berbahasa lisan.
2.      Menuntut para guru yang ideal dari segi keterampilan berbahasa (mempunyai kelancaran berbicara seperti atau mendekati penutur asli) dan kelincahan dalam penyajian pelajaran.
3.      Mempunyai prinsip-prinsip yang lebih tepat untuk digunakan dalam kelas kecil yang jumlah pelajarnya tidak banyak (kurang dari 20 siswa).
4.      Terbuangnya waktu untuk menjelaskan makna satu kata abstrak.
5.      Terlalu membesar-besarkan persamaan antara pemerolehan bahasa pertama dan kedua.
6.      Pengajaran dapat menjadi pasif, jika guru tidak dapat memotivasi siswa, bahkan mungkin siswa merasa jenuh dan merasa dongkol karena kata-kata dan kalimat yang dituturkan gurunya itu tidak dapat dimengerti, karena memang guru hanya menggunakan bahasa asing tanpa diterjemahkan ke dalam bahasa anak.
7.      Pada tingkat-tingkat permulaan kelihatannya metode ini terasa sulit diterapkan, karena siswa belum memiliki bahan (perbendaharaan kata) yang sudah dimengerti.
8.      Meskipun pada dasarnya metode ini guru tidak boleh menggunakan bahasa sehari-hari dalam menyampaikan bahan pelajaran bahasa asing, tapi pada kenyataannya tidak selalu konsisten demikian, guru terpaksa misalnya menterjemahkan kata-kata sulit bahasa asing itu ke dalam bahasa anak didik.

A.  Pengertian Metode Pengajaran Bahasa
Metode pengajaran adalah pola-pola tindakan pembelajaran yang dirancang  untuk mendapatkan hasil pembelajaran tertentu. Tiap-tiap metode pengajaran menggunakan asumsi tertentu tentang sifat bahasa, proses belajar, peran guru dan peran pembelajar, serta jenis-jenis kegiatan pembelajaran dan meteri pengajaran (Ghazali, 2010:91). Metodologi pengajaran, menurut Richard (dikutip Ghazali, 2010:92), mencakup: kegiatan, tugas dan pengalaman belajar yang digunakan oleh guru dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Metodologi pengajaran bukanlah sederet prinsip atau prosedur pengajaran yang baku atau pasti, melainkan sebuah proses yang dinamis dan kreatif yang mencerminkan asumsi tertentu tentang bahasa (bagaimana kita dapat menggambarkan atau berbicara tentang bahasa?), tentang profisiensi (apa yang dimaksud dengan menguasai bahasa?), dan pembelajaran (bagaimana mengajarkan bahasa?).

D. Metode Offbit
1. Silent Way
Metode Cara Diam atau The Silent Way yang diperkenalkan oleh Gattegno ini dalam orientasinya dapat diklasifikasikan sebagai kognitivis. Dalam pandangan Gattegno, pikiran merupakan agen, wali, atau perantara aktif yang mampu membangun kriteria intinya sendiri buat belajar. Ketiga kata kunci filisofi yang berada di belakang pendekatan ini adalah kebebasan (independence), otonomi (autonomy), dan pertanggungjawaban (responsibility). Metode Cara Diam beranggapan bahwa para pelajar bekerja dengan sumber-sumber dalam diri mereka (yaitu struktur kognitif yang ada, pengalaman, perasaan, pengetahuan mengenai dunia, dsb) (Tarigan, 1986:257).
Dalam  metode ini siswa tidak diminta untuk merespon stimulus-stimulus dalam lingkungan seperti pada orientasi audio-lingual tetapi didasarkan pandangan bahwa pembelajar dapat mengembangkan kriteria yang mereka buat sendiri untuk belajar bahasa tanpa perlu diberi materi bahasa secara langsung atau secara "silent", hening, tanpa suara. Dalam metode Silent Way, guru biasanya menggunakan Cuisenaire rods atau batangan-batangan berwarna. Guru mengajarkan kosakata dasar dan sedikit aturan tatabahasa lalu siswa belajar untuk mengucapkan kata rod dan angka-angka, ditambah kata sifat, kata kerja, konjungsi, pronomina dan adverb. Stevick mengemukakan lima prinsip dasar atau cirri utama metode Cara Diam, yaitu:
a.       mengajar haruslah merupakan bawahan (subordinasi) belajar,
b.      belajar bukanlah merupakan tiruan atau latihan,
c.       dalam belajar, pikirn memperlengkapi dirinya dengan karyanya sendiri, mencoba-coba (trial and error), eksperimentasi yang disengaja, menunda keputusan, dan merevisi konklusi (atau memperbaiki kesimpulan).
d.      dalam pelaksanaannya, pikiran menarik atau mengambil segala sesuatu yang sudah pernah diperolehnya, terutama sekali pengalamannya dalam belajar bahasa ibu.
e.       pengajar atau guru harus berhenti mencampuri atau campur tangan dan mengarahkan atau membelokkan kegiatan sebelumnya (Stevick, 1980:137). Pakar lain, yaitu Karambelas, mengutarakan teknik-teknik dan prinsip-prinsip metode Cara Diam sebagai berikut:
1). Menghindari mengulangi contoh ucapan guru, karena tidak perlu,
2). Mengenali dan memahami bahan pelajaran melalui pemakaian dan praktek dalam konteks,
3). Perbikan atau koreksi jarang dilakukan guru,
4). Pekerjaan lisan diikuti oleh praktek menulis,
5). Pelajar bertanggungjawab terhadap kegiatan belajar mereka sendiri.
Metode ini barangkali lebih terkenal karena penggunaan balok-balok berwarna, yang disebut balok-balok Cuisenaire, untuk mengajarkan struktur-struktur dasar bahasa. Seperangkat kartu-kartu fonetik dan kata yang berupa balok berwarna juga merupakan bahan penting bagi kelas yang menerapkan metode Cara Diam.
Keunggulan metode ini antara lain: dapat menstimulasi penghipotesisan kaidah; bahasa dipelajari dalam konteks situasional. Sedangkan kelemahan metode ini adalah: hanya dapat dipraktekkan pada kelompok kecil; dibutuhkan guru yang terampil; situasinya amat sibuk dan berat bagi para siswa; sukar membuat ucapan yang tepat tanpa model atau contoh yang baik; dan tiadanya model bahasa yang baik jusru membatasi perkembangan yang baik, sehingga tidak jarang berada di bawah tingkat pemula (Steinberg, 1986:192).

2. Metode Sugestopedia
Metode Sugestopedia adalah metode pengajaran yang menggunakan teknik-teknik relaksasi dan konsentrasi untuk merangsang pembelajar agar menggunakan daya pikir bawah sadarnya untuk menambah kemampuannya mengingat lebih banyak kosakata dan struktur (Lazanov dikutip Ghazali, 2010:100). Ciri utama dari pendekatan ini adalah penciptaan suasana pembelajaran yang "sugestif",merangsang pikiran bawah sadar dengan menggunakan cahaya yang lembut, musik barok, tempat duduk yang nyaman, dan teknik-teknik dramatis yang dilakukan guru untuk menyajikan materi bahasa. Kegiatan pengajaran dengan metode ini terdiri dari tiga bagian, yaitu:
a. pertama, siswa membaca materi pelajaran sebelumnya melalui percakapan, permainan atau skit (drama humoris yang pendek).
b.  berikutnya, bahan baru disajikan melalui dialog-dialig panjang yang didasarkan pada situasi nyata. Tahap ini diikuti dengan "active concert" dan "passive concert".
c.  sesi ketiga disebut fase aktivasi (activation phase). Pada tahap ini diberikan   penguatan terhadap materi baru yang sudah dipelajari pada fase kedua.
Agar metode Lozanov dapat dipraktekkan atau diterapkan secara efektif, diperlukan tiga unsur penting (Tarigan, 1986:263), yaitu:
a.       ruang kelas yang menarik atau atraktif (dengan cahaya yang lembut) dan suasana kelas yang menyenagkan;
  1. guru yang berkepribadian dinamis yang mampu memerankan bahan dan memotivasi belajar para siswa; dan
  2. para siswa yang dapat siap-siaga dalam kesantaian (Bancroft 1978:172; Krashen, 1986:143-144).
Kelemahan metode ini antara lain: hanya dapat digunakan bagi kelompok kecil,  menjengkelkan dan menggelisahkan bagi orang-orang yang tidak menyukai Hayden dan penggubah lagu klasik lainnya; biayanya terlalu mahal; belum ada ketentuan dan persiapan bagi tingkat-tingkat menengah dan lanjutan (Steinberg, 1986:193); membuat pemahaman membaca dan menyimak terlalu terbatas; dan bahan masukan secara pedagogis dipersiapkan terlalu bersifat eksklusif (Omagio dikutip Tarigan, 1986:264).

E.Metode Kontemporer
1. Responsi Fisik Total
Pendekatan ini didasarkan pada keyakinan bahwa pemahaman menyimak haruslah dikembangkan secara penuh, seperti halnya dengan anak-anak belajar bahasa ibu mereka, sebelum ada partisipasi lisan aktif dari para siswa yang dapat diharapkan. (Tarigan, 1986:247). Metode Responsi Fisik Total atau Total Physical Response (TPR) (Asher, 1982) menggunakan perintah-perintah lisan yang harus dilakukan siswa agar dapat menunjukkan pemahaman mereka terhadap maksud dari perintah-perintah lisan itu. Guru memberikan contoh gerakan atau tindakan yang diperintahkan itu sehingga siswa secara tidak langsung mendapatkan struktur tatabahasa dan kosakata dari bahasa target (Ghazali, 2010:97).
Asher (dikutip Tarigan, 1986:247-248) merangkumkan tiga gagasan utama yang mendasari metode Responsi Fisik Total sebagai berikut:
a.       pemahaman bahasa lisan haruslah dikembangkan dalam berbicara;
b.      pemahaman dan ingatan diperoleh dengan baik melalui gerakan tubuh;
c.       para siswa hendaknya tidak pernah dipaksa berbicara sebelum mereka siap.
Metode ini mempunyai potensi yang sangat besar untuk mengaktifkan para siswa karena situasi dalam kelas memang hidup memberi kesempatan pada siswa untuk mengujicobakan keterampilan mereka dengan cara yang kreatif.

2.Komunikatif
Belajar Bahasa Masyarakat (Community Language Learning) adalah  sebuah pendekatan dalam pengajaran bahasa yang memberi penekanan pada peranan ranah afektif dalam mempromosikan belajar kognitif. Community Language Learning atau bisa juga disebut Counseling-Learning dikembangkan oleh Charles Curran (1976) berdasarkan teknik-teknik yang dipinjam dari penyuluhan psikologis. Yang menjadi premis teoritis dasar bagi pendekatan ini ialah bahwa insan secara individual membutuhkan pemahaman dan bantuan dalam proses pemenuhan nilai-nilai dan tujuan-tujuan pribadi (Tarigan, 1986:255). Guru perlu memerhatikan kebutuhan individual dari para siswa serta apa ketakutan-ketakutan atau masalah-masalah siswa dalam pembelajaran. Dengan membangkitkan perasaan diterima oleh lingkungan (sense of community) dalam diri siswa maka guru bisa mengarahkan energi positif siswa pada pembelajaran bahasa.
Ciri utama pendekatan BBM antara lain:
a.       guru bertindak sebagai “knower/councelor”,
b.      guru menyediakan bahasa yang dibutuhkan siswa untuk mengekspresikan diri,
c.       kelas terdiri dari enam sampai duabelas pelajar yang duduk dalam suatu lingkaran kecil deng seorang atau dua orang guru yang berdiri di luar lingkaran dan siap membantu.
d.      teknik-teknik dipakai dapat mungkin mengurangi kegelisahan dalam kelompok dan meningkatkan pengekspresian gagasan dan perasaan secara bebas.
          Dalam metode ini terdapat lima tahap belajar (Tarigan, 1986:255-256), yaitu:
1. Para siswa membuat pernyataan-pernyataan dengan suara nyaring dalam bahasa ibu mereka, dengan bantuan guru dalam penerjemahannya.
2. Tahap kedua ini dikenal sebagai “tahap swa-asertif” atau “self-assertive stage”, siswa mengatakan apa yang ingin dikatakan tanpa bantuan guru.
3. Dalam “tahap kelahiran” ini, para siswa meningkatkan kemandirian mereka dan berbicara dalam bahasa sasaran tanpa terjemahan, kecuali jika siswa lain memintanya atau memerlukannya.
4. Tahap ini disebut “tahap remaja” atau “tahap pembalikan”. Dalam tahap ini sang pelajar menjadi cukup kuat menerima umpan balik korektif dari sang guru dan/atau dari anggota kelompok lainnya.
5. “Tahap Kemerdekaan” ini ditandai oleh interaksi bebas antara para siswa dengan (para) guru. Setiap orang memberikan koreksi dan perbaikan stalistik dalam semangat kelompok.
Keunggulan metode ini adalah bahwa bahasa dipakai dalam konteks bagi interaksi personal (personal interaction). Sementara kelemahan metode ini adalah  bahwa metode ini hanya dapat dipakai untuk kelompok kecil saja, dibutuhkan guru yang terampil dalam bidang linguistik, percakapan kerapkali terasa dipaksakan atau terasa kaku, atau sebaliknya terasa muluk-muluk dan tidak wajar.




3.Natural
Pendekatan Alamiah atau The Natural Approach dalam pengajaran bahasa diperkenalkan dan dikembangkan oleh Terrel (1977:1982) berdasarkan teori Krasen mengenai PB2. Premis utama yang dikemukakan oleh Terrel ialah bahwa “adalah mungkin bagi para siswa dalam suatu situasi kelas belajar berkomunikasi dalam bahasa kedua”(1977:325).
Tujuan pendekatan alamiah adalah seperangkat kecakapan atau kemampuan tingkat menengah atau lanjutan dalam B2, paling tidak dalam keterampilan-keterampilan oral. Hal ini akan mempunyai beberapa implikasi penting bagi praktek kelas. Pendekatan alami lebih menekankan pada pemahaman sebagai keterampilan dasar yang bisa menunjang akuisisi bahasa sehingga pendekatan alami ini menganggap bahwa pemahaman harus sudah ada sebelum siswa mulai memproduksi bahasa. Kemampuan berbicara tumbuh secara bertahap, dari yang pada awalnya berupa reaksi terhadap perintah sampai pada akhirnya bisa menghasilkan wacana yang koheren (Ghazali, 2010:97). Ciri-ciri utama pendekatan alamiah ini terlihat pada petunjuk-petunjuk praktek kelas yang dikemukakan oleh Terrel, antara lain (Tarigan, 1986:251): distribusi belajar dan kegiatan-kegiatan pemerolehan, koreksi kesalahan, dan responsi-responsi dalam B1 dan B2.
Selanjutnya Tarrel merangkumkan prinsip-prinsip dasar metode yang dikemukakannya ini sebagai berikut (Tarigan, 2010:252):
a.       tujuan awal pengajaran bahasa adalah kompetensi komunikatif langsung,
b.      pengajaran harus diarahkan  untuk memodifikasi serta meningkatkan tata bahasa parasiswa, bukan membangun satu kaidah pada suatu waktu;
c.       para siswa harus diberi kesempatan memperoleh bahasa, bukan memaksanya untuk mempelajarinya
d.      faktor-faktor afektif yang harus dipaksakan beroperasi dalam pengajaran, bukan faktor-faktor kognitif
e.       belajar kosakata merupakan kunci bagi pemahaman dan prodiksi ujaran.








BAB. V
STRATEGI  BELAJARAN BAHASA

A. STRATEGI  BELAJAR BAHASA
  Michel Pressley (1991) mengatakan strategi pembelajaran bahasa ialah operator-operator kognitif yang memproses suatu masalah pembelajaran bahasa yang secara langsung terlibat dalam menyelesaikan tugas. Artinya, strategi pembelelajaran bahasa ialah perilaku dan proses-proses berfikir termasuk proses memori dan metakognitif yang dilakukan oleh siswa yang dapat mempengaruhi terhadap apa yang dipelajari sehingga dengan strategi pembelajaran bahasa siswa dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik dan benar. Sebagai contoh, siswa sering ditugasi untuk mengerjakan tugas-tugas belajar tertentu, seperti mengisi suatu lembar kerja dalam pelajaran membaca atau mencari bahan sumebr untuk suatu laporan sejarah. Untuk menyelesaikan tugas-tugas belajar tersebut siswa memerlukan keterlibatan dalam proses-proses berfikir dan melakukan perilaku-perilaku tertentu, sperti membaca sepintas judul-judul utama, meringkas, dan membuat catatan, disamping itu juga memonitor jalan berfikir diri sendiri. Dengan demikian agar dapat menyelesaikan tugas-tugas belajar tersebut siswa harus menggunakan beberapa strategi belajar.
Menurut Oxford (1990:8), strategi belajar adalah suatu cara yang digunakan pembelajar dalam pemerolehan, penyimpanan, percobaan, dan pemanfaatan atas informasi yang didapat. Ditambahkan pula bahwa strategi belajar merupakan suatu aktifitas yang dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih mudah, lebih cepat, lebih menyenangkan, lebih terarah, lebih efektif, dan lebih mudah untuk digunakan dalam situasi baru.
Strategi pembelajaran bahasa ialah semua siasat, kebijaksanaan, atau rencana untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa (Suardi Saparani, dkk, 1997: 22). Bahkan suyatno (2004: 14) mengatakan bahwa keberhasilan pembelajaran disiplin ilmu apa pun ditentukan oleh strategi pembelajaran yang digunakan.
Thomas dan Rohwer (1986) berpendapat tentang prinsip strategi pembelajaran. Seperangkat prinsip pembelajaran tersebut ialah:
1.      kekhususan: strategi-strategi belajar harus sesuai dengan tujuan pembelajaran dan tipe siswa yang mempergunakan strategi belajar tersebut. Sebagai contoh, penelitian telah menemukan bahwa strategi pembelajaran yang sama memberikan hasil belajar yang berbeda jika diterapkan pada siswa yang lebih tua dan siswa yang lebih muda atau diterapkan pada siswa yang pandai dan siswa yang kurang pandai (Hidi dan Anderson, 1986).
2.      Keumuman: salah satu prinsip utama dari strategi belajar efektif ialah strategi-strategi tersebut melibatkan pengolahan kembali materi yang dipelajari, untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Misalnya, menulis ringkasan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk orang lain, mengorganisasikan catatan dalam bentuk kerangka, membuat suatu diagram hubungan antara ide-ide utama, dan mengajar teman sendiri tentang isi bacaan. Strategi dengan tingkat keumuman rendah misalnya ialah menggarisbawahi kata-kata tanpa membedakan mana yang penting dan mana yang tidak, membuat catatan tanpa mengidentifikasi ide-ide pokok, atau menulis ringkasan secara luas tanpa dapat memfokuskan pada hal-hal yang penting, kurang berhasil untuk membantu siswa belajar.
3.      Pemantauan yang efektif: prinsip monitoring yang efektif berarti bahwa siswa seharusnya mengetahui bagaimana dan kapan menerapkan strategi belajarnya dan bagaimana mengatakan bahwa ia sedang bekerja dengan strategi itu (Nist: 1991).
4.      Keyakinan pribadi: siswa harus memiliki keyakinan bahwa belajar akan memberikan hasil bagi mereka apabila mereka bekerja keras untuk pelajaran itu. Guru dapat menciptakan suatu pengertian bahwa belajar akan memberikan tes untuk pelajaran itu. Guru dapat menciptakan suatu pengertian bahwa belajar akan memberikan hasil dengan cara sering memberikan kuis dan tes langsung berdasarkan pada bahan ajar yang dipelajari siswa dan dengan membuat kinerja pada penelitian ini menjadi bagian utama dalam menentukan nilai siswa.
Berdasarkan target yang akan dicapai, Strategi pembelajaran bahasa kususnya belajar bahasa kedua, ketiga, atau belajar bahasa lanjutan terbagi atas dua jenis, yakni:

B.STRATEGI BELAJAR BAHASA LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG

1.      Strategi pembelajaran bahasa langsung .
Strategi pembelajaran bahasa secara langsung ialah suatu cara yang digunakan pembelajar dalam pemerolehan, penyimpanan, percobaan, dan pemanfaatan atas informasi yang didapat. Strategi pembelajaran bahasa secara langsung terdiri atas tiga jenis, yakni: strategi memori, strategi kognitif, dan strategi kompensasi sedangkan
2.      Strategi pembelajaran bahasa tidak langsung.
Strategi pembelajaran bahasa secara tidak langsung ialah suatu aktifitas yang dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih mudah, lebih cepat, lebih menyenangkan, lebih terarah, lebih efektif, dan lebih mudah untuk digunakan dalam situasi baru
Strategi pembelajaran bahasa secara tidak langsung terdiri atas tiga jenis,
yakni: strategi metakognitif, strategi affektif, dan strategi sosial.

1. Strategi pembelajaran bahasa langsung yaitu terdiri atas ;
1.1 Stategi Memori
Strategi memori ialah strategi yang digunakan untuk mengingat dan menerima informasi baru. Ada dua syarat untuk memahami bagaimana individu belajar dan bagaimana mereka menerapkan strategi-strategi belajar tertentu ialah:
1.      pentingnya pengetahuan awal atau informasi baru, dan
2.      cara otak memproses pengetahuan awal atau informasi baru itu.
Sejumlah ahli spikologi kognitif telah mengembangkan apa yang mereka sebut
pandangan pemrosesan informasi (information processing) tentang pembelajaran. Para ahli teori ini sepenuhnya menyandarkan pada komputer sebagai analogi untuk menjelaskan bagaimana otak dan sistem memorinya bekerja. Dari sudut oandang ini, informasi masuk ke dalam otak melalui indera-indera (analog dengan memasukkan data melalui keyboard komputer) dan disimpan sementara di dalam suatu ruang kerja yang disebut memori jangka pendek atau short-term memory (ruang penyimpanan dari sebuah komputer). Dari memori jangka pendek data itu kemudian dikirimkan ke memori jangka panjang atau long-term memory (hard disk komputer) dan disimpan sampai dipanggil kembali untuk pengguanaan di kemudian hari (M.Nur, 2004: 18-19).
Berikut prosedur kerja sistem memori:
a.       Hubungan kreasi mental meliputi:
·         mengelompokkan,
·          berhubungan/ perluasan,dan
·          menempatkan kata baru dalam konteks,
b.      Menerapkan gambar dan suara meliputi:
·         penggunaan gambar,
·         pemetaan semantik,
·         penggunaan kata kunci, dan
·         pemberian suara dalam memori,
c.       Mengulas kembali dengan baik, dan
d.      Melakukan kegiatan/ aksi meliputi:
·         menggunakan respon atau sensasi fisik,
·         menggunakan teknik mekanik.
1.2 Strategi Kognitif
Strategi kognitif ialah strategi untuk memahami bahasa dan menghasilkan atau melakukan produksi bahasa. Teori Piaget (1896) tentang kognitif ialah pemahaman manusia terhadap suatu objek itu berlangsung secara bertahap yang meliputi tahap manipulasi dan tahap interaksi aktif. Setelah manusia bisa memanipulasi objek, kemampuan interaksi aktif manusia berfungsi untuk memantapkan dan memproduksi pengetahuan baru. Secara bertahap, strategi kognitif meliputi:
(a) terbentuknya konsep “kepermanenan objek” dan kemajuan gradual (tahap demi tahap) dari perilaku refleksif ke perilaku yang mengarah kepada tujuan,
(b) penggunaan simbol-simbol bahasa untuk menyatakan objek-objek di dunia,
 (c) perbaikan dalam kemampuan untuk berfikir secara logis, mulai berpikir produksi sebuah bahasa, dan
(d) pemikiran berkembang lebih luas, dan disinilah produksi sebuah bahasa dihasilkan (M.Nur, 2004: 16).


Berikut kerja sistem kognitif:
a. Melakukan praktik yaitu meliputi:
a)      mengulang,
b)      secara formal melatih dengan sistem suara dan menulis,
c)      mengenali atau menggunakan formula dan pola,
d)     menggabungkan kembali,
e)      melatih secara alami,
b. Menerima dan mengirim pesan yang meliputi:
a)      mendapat ide dengan cepat, dan
b)      menggunakan sumber untuk menerima dan mengirim pesan,
c.menganalisis dan memberi alasan yang meliputi:
a)      memberi alasan deduktif,
b)      menganalisis ekspresi,
c)      menganalisis kontras (antar bahasa),
d)     menerjemah, dan
e)      mentransfer,
d.mengkreasi struktur untuk input dan output yang meliputi:
a)      mencatat,
b)      menjumlahkan, dan
c)      menuliskan pokok-pokok penting.
1.3 Strategi Kompensasi
Strategi kompensasi ialah strategi belajar yang sangat bermanfaat bagi pembelajar yang sedang belajar sedikit tentang bahasa kedua. Terkadang, dengan keterbatasan kosakata dan pengetahuan tentang bahasa kedua, pembelajar akan panik, tidak dapat bicara atau bahkan sering sekali melihat kamus untuk memastikan kata yang tepat. Dengan strtaegi belajar kompensasi, pembelajar bahasa kedua dapat menggunakan strategi menerka kata atau tata bahasa dan juga dapat menggunakan bantuan, bahasa tubuh, menghindari topik pembicaraan yang tidak dikuasai, dan juga dapat menggunakan persamaan kata.
Berikut ini sistem kerja strategi kompensasi:
1.menebak dengan cerdas yang meliputi:
1)      menggunakan petunjuk linguistik, dan
2)      menggunakan petunjuk lain,
2. melebihi batas dalam bicara dan menulis yang meliputi:
1)      kembali ke topik asal,
2)      menerima bantuan,
3)      menggunakan tiruan atau isyarat,
4)      menghindarim komunikasi sebagian atau total,
5)      memilih topik,
6)      mengatur atau menduga pesan,
7)      memperkaya perbendaharaan kata, dan perbendaharaan kata yang memiliki persamaan atau perlawanan arti: sinonim atau antonim
Strategi pembelajaran bahasa tidak langsung terdiri atas ;

1.METAKOGNITIF
 Strategi metakognisi ( metakognitif ) adalah strategi tidak langsung belajar bahasa kedua. Strategi ini menekankan akan pentingnya pembelajar untuk memusatkan konsentrasi belajar bahasa, menyusun dan merencanakan belajar bahasa, dan mengevaluasi cara belajar bahasa tersebut. Terkadang, pembelajar sibuk dengan materi belajar saja tanpa menyadari bahwa strategi belajarnya seharusnya diubah atau diperbaiki dengan melihat hasil kemajuan belajarnya.
 Dengan strategi metakogisi ini, pembelajar akan menyadari bahwa strategi belajar bahasanya sudah tepat atau belum. Dalam hal ini pembelajar dapat mengevaluasi sendiri atau dapat berkonsultasi dengan guru atau mentor dalam mengevaluasi hasil belajarnya. Strategi metakognitif berhubungan dengan berfikir siswa dengan berfikirnya sendiri dan kemampuannya untuk memonitor proses-proses kognitif. Strategi metakognitif meliputi dua-duanya, yaitu pengetahuan tentang kognisi dan kemampuan memonitor, mengendalikan, dan mengevaluasi fungsi-fungsi kognitif diri sendiri.

Berikut ini prosedur sistem kerja strategi metakognitif:
A.    Memusatkan belajar yang meliputi:
(a) mengulas materi baru dan menghubungkan dengan materi yang sudah dikuasai,
(b) memberi perhatian terhadap pokok bahasan, dan
(c) menunda percakapan atau obrolan dengan orang lain untuk memusatkan pikiran terfokus pada pokok bahasan,
B.     Mengatur dan merencanakan belajar yang meliputi:
(a) mencari tahu tentang pembelajaran bahasa,
(b) mengatur,
(c) menentukan tujuan, mengidentifikasi tujuan pembelajaran bahasa (tujuan mendengar/ membaca/ menulis/ berbicara),
(d) merencanakan untuk tugas bahasa, dan
(e) mencari kesempatan latihan,
C.     Mengevaluasi belajar yang meliputi:
(a) memonitor atau mengewasi diri, dan
(b) mengevaluasi diri terhadap porses dan hasil belajar.

2. AFEKTIF
Strategi affektif ialah Strategi kedua dari strategi belajar bahasa secara tidak langsung. Strategi belajar ini mencakup emosi, sikap, motivasi, dan nilai –nilai dalam proses mempelajari bahasa kedua. Terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh oleh pembelajar untuk mencapai hasil yang memuaskan dalam belajar bahasa kedua. Menurut Oxford (1990:141) terdapat tiga cara dalam memanfaatkan strategi afektif ini dalam belajar bahasa kedua, yaitu
1.      Dengan mengurangi kecemasan dengan cara mendengarkan musik, tertawa, dan meditasi setelah belajar bahasa kedua;
2.      Meningkatkan kepercayaan diri dengan membuat pernyataan positif, menghargai diri sendiri dalam belajar bahasa kedua;
3.      Mengatur suhu emosi sendiri dengan berdiskusi dengan rekan ketika mempunyai masalah, berusaha untuk mendengarkan suara tubuh ketika sudah terlalu capek dalam belajar bahasa kedua.

Berikut prosedur sistem kerja strategi affektif:

a.       Menurunkan kegelisahan yang meliputi:
(a) menggunakan relaksasi,
(b) mendengarkan musik,
(c) tertawa-tawa,

b.      Menyemangati diri sendiri yang meliputi:
(a) membuat pernyataan positif,
(b) mengambil resiko dengan bijak,
(c) menghargai diri sendiri,

c.       Mengontrol temperatur emosi yang meliputi:
(a) mendengarkan gerakan tubuh,
(b) membuat daftar kegiatan atau perencanaan,
(c) menulis diari pembelajaran bahasa, dan
(d) mendiskusikan perasaan dengan orang lain (curhat).

3.  SOSIAL

Stategi sosial ialah strategi pembelajaran bahasa secara tidak langsung bahwa peserta didik telah terjun ke dunia sosial. Tanpa disadari, peserta didik telah melakukan kegiatan belajar bahasa kepada orang lain melalui kegitan sosial.

Sebagaimana prinsip strategi pembelajaran di atas sebagai berikut bahwa peserta didik melakukan suatu aktivitas belajar bahasa kedua atau bahasa target dengan penuh menyenangkan dan efektif dalam kondisi baru.
Peserta didik akan mendapatkan dua kemampuan saat melakukan strategi sosial:
 (a) kemampuan belajar bahasa, dan
(2) kemampuan bersosial.




Berikut prosedur sistem kerja strategi sosial:

a)      Menanyakan pertanyaan yang meliputi:
·         menanyakan klarifikasi dan verivikasi,
·         menanyakan pembeltulan,

b)      Bekerja sama dengan orang lain yang meliputi:
·         bekerjasama dengan kawan sebaya, dan
·         bekerja sama dengan pemakai bahasa yang sudah cerdas atau mahir,
·         Memiliki rasa empati kepada orang lain yang meliputi:
·         mengembangkan pemahaman budaya, dan
·         hati-hati dengan lidah dan perasaan orang lain.


















BAB.VI
MODEL PEMBELAJARAN UNTUK BAHASA INDONESIA

A.    PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN
Dalam dunia pengajaran, model pembelajaran adalah sesuatu yang sangat biasa disebut. Akan tetapi masih banyak orang yang tidak dapat memahami dengan baik apa yang dimaksud dengan model pembelajaran. Menurut Joyce dan Weil (dalam Rusman, 2010:133) menyatakan bahwa : Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Sementara itu, menurut Kemp (dalam Rusman, 2010:132) “strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien”.
Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah rencana tentang pola kegiatan yang akan dilaksanakan dalam proses pembelajaran dan merancang bahan-bahan pembelajaran.
B.MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
1.      MODEL KOMUNIKATIF LEARNING
a.       Pengertian Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi, menekankan pembinaan dan pengembangan kemampuan komunikatif siswa. Penerapan pendekatan komunikatif sepenuhnya dilakukan oleh siswa (student centre) sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Dengan demikian siswa akan mampu bercerita, menanggapi masalah, dan mengungkapkan pendapatnya secara lisan dengan bahasa yang runtut dan mudah dipahami.  Menurut Littiewood (dalam Rofi’uddin,  1999) pendekatan komunikatif didasarkan pada pemikiran bahwa:
o   Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang luas dalam pembelajaran bahasa. Hal ini terutama menyebabkan orang melihat bahwa bahasa tidak terbatas pada tata bahasa dan kosa kata, tetapi juga pada fungsi komunikasi bahasa.
o   Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang luas dalam pembelajaran bahasa. Hal ini menimbulkan kesadaran bahwa pembelajaran bahasa, tidak cukup dengan memberikan kepada siswa bagaimana bentuk-bentuk bahasa itu, tetapi siswa harus mampu mengembangkan cara-cara menerapkan bentuk-bentuk itu sesuai dengan fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi dalam situasi dan waktu yang tepat.

Muncul pendekatan komunikatif inilah yang menandai perubahan pandangan pengajaran bahasa dari “struktural” ke “fungsional”. Perbedaan pendekatan komunikatif dan pendekatan struktural menurut Muchlisoh, dkk, (1993) adalah pendekatan struktural menuntut ketepatan pengucapan dan menunda latihan kelancaran, sedangkan pendekatan komunikatif lebih mengutamakan kelancaran berkomunikasi, ketepatan komunikasi serta perbaikan struktur dapat dilakukan dalam pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran bahasa dengan menggunakan pendekatan komunikatif lebih tepat dilihat sebagai sesuatu yang berkenaan dengan makna apa yang dapt diungkapkan (nosi) melalui bahasa, bukannya berkenaan dengan butir-butir tata bahasa (struktural). Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Meley (dalam Brumfit,1986) bahwa kemampuan berkomunikasi adalah kemampuan berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya. Dengan demikian, pendekatan komunikatif adalah pendekatan pengajaran bahasa yang sasaran akhirnya adalah kemampuan berkomunikasi.

b.      Karakteristik Model Pembelajaran Komunikatif Learning
o   Acuan berpijaknya adalah kebutuhan peserta didik dan fungsi bahasa;
o   Tujuan belajar bahasa adalam membimbing peserta didik agar mampu berkomunkasi dalam situasi yang sebenarnya;
o   Silabus pengajaran harus ditata sesuai dengan fungsi pemakaian bahasa;
o   Peranan tatabahasa dalam pengajaran bahasa tetap diakui;
o   Tujuan utama adalah komunikasi yang bertujuan;
o   Peran pengajar sebagai pengelola kelas dan pembimbing peserta didik dalam berkomunikasi diperluas; dan
o   Kegiatan belajar harus didasarkan pada teknik-teknik kreatif peserta didik sendiri, dan peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok kecil



c.       Langkah-langkah Model Pembelajaran Komunikatif Learning
Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan komunikatif
o   Tahap persiapan, guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran dan menyiapkan berbagai strategi yang berhubungan dengan pokok bahasan yang diajarkan.
o   Tahap pelaksanaan, guru menyajikan materi pelajaran dengan memanfaatkan pendekatan komunikatif, sehingga menarik perhatian siswa dalam proses belajar mengajar, sehingga pembelajaran berlangsung efektif dan efesien.
o   Tahap evaluasi, guru mengadakan evaluasi materi pelajaran

d.      Keunggulan Model Pembelajaran Komunikatif Learning
Manfaat pendekatan komunikatif :
o   Siswa termotivasi untuk mengembangkan keterampilan berbahasanya setelah mengetahui bahwa ada kaitannya dengan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari
o   Siswa akan lebih mudah untuk berkomunikasi dan berinteraksi dalam kehidupan sosialnya
o   Siswa tidak hanya memiliki pengetahuan tentang kebahasaan, tetapi juga memiliki kompetensi untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari

e.       Kekurangan Model Pembelajaran Komunikatif Learning
Kekurangan pendekatan komunikatif :
o   Guru harus kreatif menciptakan suasana belajar yang mampu membuat siswa untuk aktif dan interaktif. Bila guru tidak kreatif, maka pembelajaran akan tidak menarik
o   Bila siswa tidak memiliki pengatahuan interaksi dan komunikasi yang cukup baik atau siswa cenderung pasif, maka siswa akan kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran

f.       Implementasi pendekatan komunikatif

o   Konteks dan tema digunakan untuk mengembangkan perbendaharaan kata siswa. Tujuannya adalah agar pembelajaran bahasa berlangsung dalam suasana kebahasaan yang wajar, tidak disajikan dalam kalimat-kalimat yang sulit dimengerti siswa, misalnya penggambaran kegiatan di rumah, di dapur, di jalan, di desa, di sekolah, dan sebagainya.
o   Bahasa sebagai alat komunikasi digunakan untuk bermacam-macam fungsi sesuai dengan apa yang ingin disampaikan oleh penutur, misalnya :
1). Untuk menyatakan informasi faktual (melaporkan, menanyakan, mengoreksi, dan mengidentifikasi)
2). Menyatakan sikap intelektual (menyatakan setuju atau tidak setuju, menyanggah, dan sebagainya)
3). Menyatakan sikap emosional (senang, tidak senang, harapan, kepuasan, dan sebagainya)
4). Menyatakan sikap moral (meminta maaf, menyatakan penyasalan, penghargaan, dan sebagainya)
5). Menyatakan perintah (mengajak, mengundang, memperingatkan, dan sebagainya).
Pengajian fungsi itu sebaiknya disajikan di dalam konteks, tidak dalam bentuk kalimat-kalimat yang lepas.
o   Pembelajaran menekankan pada pengembangan kompetensi bahasanya, bukan pada pengetahuan bahasanya saja, sehingga siswa dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal yang harus diperhatikan guru dalam merancang materi pengajaran yang mengacu pada pendekatan komunikatif menurut Brown, yaitu:
1). Tujuan pembelajaran di dalam kelas difokuskan pada semua komponen dari kemampuan berkomunikasi
2). Teknik dalam pembelajaran bahasa dirancang untuk melibatkan siswa dalam penggunaan bahasa yang pragmatis, autentik, fungsional dan bermakna
3). Kelancaran dan ketepatan berbahasa yang dapat melandasi teknik-teknik komunikatif
4). Siswa pada akhirnya harus menggunakan bahasa, baik secara produktif maupun reseptif.
Contoh pembelajran dengan pendekatan komunikatif
o   Ketika Tanya jawab antara siswa dengan guru, maka akan terjadi interaksi dan pertukaran informasi
o   Ketika siswa menggunakan keterampilan berbahasanya (menyimak, membaca, menulis, dan berbicara), maka secara langsung maupun tidak, telah terjadi pembelajaran dengan pendekatan komunikatif
o   Simulasi dan bermain peran. Contoh :
1). Siswa diminta membayangkan dirinya ada dalam situasi yang dapat terjadi di luar kelas. Ini dapat saja berupa kejadian yang sederhana, misalnya bertemu seorang teman di jalan, tetapi dapat pula kejadian yang bersifat kompleks, negosiasi di dalam bisnis.
2). Siswa diminta memilih peran tertentu dalam suatu situasi. Dalam beberapa kasus, mungkin mereka berlaku sebagai dirinya sendiri, tetapi dalam beberapa kasus-kasus lain mungkin mereka memperagakan sesuatu, di dalam simulasi
3). Mereka diminta berbuat seperti kalau situasi ini benar-benar terjadi, sesuai dengan peran mereka masing-masing. Permainan peran tidak selalu dalam bentuk akting, tetapi dapat juga dalam bentuk debat, atau improvisasi.
2.      MODEL KOOPERATIF LEARNING
a.       Pengertian Model Kooperatif Learning
Kooperatif dalam bahasa inggris ‘cooperative’ mengandung pengertian bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama (Hamid Hasandalam Solihatin dan Raharjo. 2005:4). Sedangkan menurut Solihatin dan Raharjo (2005:4) bahwa :‘cooverative learning’ mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok. Sementara itu, menurut Marno dan Idris (2008:84) bahwa : Pola interaksi yang monoton Guru-Siswa(G-S), misalnya guru menerangkan–siswa mendengarkan atau guru bertanya dan murid menjawab, biasanya tidak berhasil memikat perhatian siswa untuk waktu yang lama.
Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah teori kontruktivisme. Pada dasarnya pendekatan teori kontruktivisme dalam belajara adalah suatu pendekatan dimana siswa harus secara individual menemukan dan mentranformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan merevisinya bila perlu (Soejadi dalam Rusman, 2010:201). Selanjutnya menurut Slavin (dalam Rusman, 2010:201) pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Hal ini memperbolehkan pertukaran ide dan pendapat masing-masing siswa dalam suasana yang tidak mengancam sesuai dengan falsafah kontruktivisme. Dengan demikian, seorang pendidik harus mampu mengondisikan, memberikan dorongan, memaksimalkan dan membangkitkan potensi siswa serta menumbuhkan aktivitas dan kreativitas peserta didik agar tumbuh dinamika di dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan dari teori belajar kontruktivisme yang lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky. Berdasarkan penelitian Piaget, dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak (Ratna dalam Rusman, 2010:201).
Selain itu, pembelajaran kooperatif menempatkan peserta didik sebagai  bagian dari suatu sistem kerja sama dalam mencapai suatu hasil yang optimal dalam belajar. Keberhasilan belajar menurut model pembelajaran kooperatif bukan semata-mata ditentukan oleh kemampuan individu secara utuh, melainkan perolehan hasil belajar akan semakin baik jika dilakukan secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil yang terstruktur dengan baik.
Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menitikberatkan pada keikutsertaan peserta didik dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif juga mendorong peningkatan kemampuan peserta didik dalam memecahkan berbagai permasalahan yang ditemui selama pembelajaran, oleh karena peserta didik dapat bekerja sama dengan peserta didik lain untuk menemukan dan merumuskan alternatif pemecahan terhadap masalah yang dihadapi dalam pembelajaran. Hal itu tentu saja dapat mengurangi beban seorang guru dalam melakukan proses pembelajaran. Oleh karena itu, dalam pembelajaran kooperatif Guru harus bisa merangsang minat siswa agar secara aktif mampu berinteraksi dengan guru maupun teman-temannya. Dalam hal ini seorang guru harus mampu menjadi seorang pengajar sekaligus sebagai seorang motivator dalam kegiatan pembelajaran sehingga peserta didik dapat belajar dengan nyaman dan proses pembelajaran berjalan lebih menarik. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan baik.
b.      Karakteristik Model Pembelajaran kooperatif Learning
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang menitikberatkan proses pembelajaran pada keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran melalui kerja sama dalam kelompok-kelompok kecil. Akan tetapi pembelajaran kooperatif bukanlah sekedar belajar kelompok atau kelompok kerja, karena belajar dalam model pembelajaran kooperatif harus ada struktur dorongan dan tugas-tugas yang sifatnya kooperatif sehingga terjadi interaksi yang saling membangun diantara peserta didik.
Menurut Stahl (dalam Solihatin dan Raharjo,2005:7-9) prinsip-prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
o   Perumusan tujuan belajar harus jelas
Sebelum menggunakan model pembelajaran kooperatif, guru harus merumuskan tujuan dengan jelas dan spesifik menyangkut apa yang diinginkan oleh guru untuk dilakukan oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya.
o   Penerimaan yang menyeluruh oleh peserta didik tentang tujuan belajar
Guru harus bisa mengondisikan agar peserta didik dapat menerima tujuan pembelajaran dari sudut kepentingan diri dan kepentingan kelas. Oleh karena itu peserta didik harus memahami bahwa setiap orang dalam kelompoknya menerima dirinya untuk bekerja sama dalam belajar.
o   Ketergantungan yang bersifat positif
Guru harus mampu mengondisikan terjadinya interaksi antara peserta didik dalam kelompok dan mengorganisasikan materi dan tugas-tugas pelajaran sehingga peserta didik memahami dan mungkin melakukan hal itu dalam kelomponya
o   Interaksi yang bersifat terbuka
Dalam kelompok belajar, interaksi antara peserta didik harus langsung dan terbuka dalam mendiskusikan materi dan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Suasana belajar seperti itu akan menumbuhkan sikap saling memberi dan menerima masukan, ide, saran, dan kritik dari temannya secara positif dan terbuka.
o   Tanggung jawab individu
Salah satu dasar pembelajaran kooperatif adalah keberhasilan belajar akan lebih mungkin tercapai secara lebih baik apabila dilakukan secara bersama-sama. Oleh karena itu setiap peserta didik bertanggung jawab menerima dan memberi apa yang telah dipelajarinya kepada peserta didik lainnya.
o   Kelompok bersifat heterogen
Dalam pembentukan kelompok belajar, keanggotaan kelompok harus bersifat heterogen sehingga interaksi yang terjadi merupakan akumulasi dari berbagai karakteristik peserta didik yang berbeda. Dalam suasana belajar seperti itu akan tumbuh  dan berkembang nilai, sikap, moral, dan perilaku peserta didik.
o   Interaksi sikap dan perilaku sosial yang positif
Dalam mengerjakan tugas kelompok, peserta didik bekerja sebagai suatu kelompok kerja sama. Dalam berinteraksi dengan peserta didik lainnya, seorang peserta didik tidak boleh begitu saja menerapkan dan memaksakan sikap dan pendiriannya pada anggota kelompoknya. Peserta didi harus belajar bagaimana meningkatkan kemampuan dalam memimpin, berdiskusi, bernegosiasi dan mengklarifikasi berbagai masalah dalam menyelesaikan tugas-tugas elompok. Dalam hal ini guru harus mampu membantu peserta didik  tentang bagaimana sikap dan perilaku yang baik dalam bekerja sama . perilaku-perilaku tersebut antara lain kepemimpinan, pengembangan kepercayaan, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, menyampaikan kritik dan perasaan-perasaan sosial.
o   Tindak lanjut (follow up)
Setelah masing-masing kelompok belajar menyelesaikan tugas dan pekerjaannya, selanjutnya perlu dianalisis bagaimana hasil kerja peserta didik dalam kelompok belajarnyatermasuk bagaimana hasil kerja yang dihasilkan, bagimana mereka membantu anggota kelompoknya dalam mengerti dan memahami materi dan masalah yang dibahas, bagaimana sikap dan perilaku mereka dalam berinteraksi, dan apa yang mereka butuhkan untuk meningkatkan keberhasilan kelompok belajarnya dikemudian hari. Oleh karena itu guru harus mengevaluasi dan memberikan masukan terhadap hasil pekerjaan dan aktivitas peserta didik.
o   Kepuasan dalam belajar
Setiap peserta didik dan kelompok harus mendapat waktu yang cukup untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilannya. Apabila peserta didik tidak mendapatkan waktu yang cukup dalam belajar, maka keuntungan akademis dari penggunaan pembelajaran kooperatif akan sangat terbatas.
c.       Jenis-jenis model pembelajaran kooperatif
Ada beberapa variasi jenis model pembelajaran kooperatif, walaupun prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif ini tidak berubah, jenis-jenis tersebut adalah sebagai berikut :
o   Model Jigsaw ( Model Tim Ahli )
Model ini dikembangkan dan diujicoba oleh Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas. Arti Jigsaw dalam bahasa Inggris adalah gergaji ukir dan ada juga yang menyebut dengan istilah puzzle yaitu sebuah teka-teki menyusun potongan gambar. Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw mengambil pola cara kerja gergaji (zigzag) yaitu siswa melakukan suatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama. Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen yang lebih kecil.
Selanjutnya guru membagi siswa kedalam kelompok belajar yang terdiri dari 4 oarng siswa sehingga setiap orang bertanggung jawab terhadap penguasaan setiap komponen yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Langkah-langkah:
1) Siswa dikelompokkan dengan anggota 4 orang
2) Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda
3) Anggota dari tim yang berbeda dengan penguasaan yang sama membentuk kelompok baru (kelompok ahli)
4) Setelah kelompok ahli berdiskusi, tiap anggota kembali kekelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok  tentang subbab yang mereka kuasai
5) Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
6) Pembahasan
7) Penutup
o   Berpikir-Berpasangan-Berempat
Model pembelajaran Berpikir-Berpasangan-Berempat dikembangkan untuk menciptakan kegiatan pembelajaran gotong royong. Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan lain dari model ini adalah optimalisasi partisipasi siswa.
Dengan model klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, model Berpikir-Berpasangan-Berempat ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Bagaimana caranya?
1)        Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok
2)        Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri
3)        Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya
4)        Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat
5)        Perwakilan kelompok berempat berbagi hasil pekerjaan dengan kelompok lainnya, dengan cara menyajikannya di depan kelas

o   Berkirim Salam dan Soal
Model pembelajaran Berkirim Salam dan Soal memberi siswa kesempatan untuk melatih pengetahuan dan keterampilan mereka. Siswa membuat pertanyaan sendiri, sehingga akan merasa lebih terdorong untuk belajar dan menjawab pertanyaan yang dibuat oleh teman-teman sekelasnya. Kegiatan Berkirim Salam dan Soal cocok untuk persiapan menjelang tes dan ujian. Bagaimana caranya?
1)      Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan setiap kelompok ditugaskan untuk menuliskan beberapa pertanyaan yang akan dikirim ke kelompok yang lain. Guru bisa mengawasi dan membantu memilih soal-soal yang cocok
2)      Kemudian, masing-masing kelompok mengirimkan satu orang utusan yang akan menyampaikan salam dan soal dari kelompoknya (Salam kelompok bisa berupa sorak kelompok, misalnya “Hebat ... hebat ... hebat ... sehebat Einsten!, Kami datang untuk belajar bersama-sama ... ya ... ya ... ya!, Ole ... ole ... ole ... terimalah kami /datang bertamu /untuk belajar /kepada Anda, Oke...oke...oke?!, Hai teman-teman /ayo...ayo... ayo/ kita belajar supaya pintar!, dan sebagainya
3)      Setiap kelompok mengerjakan soal kiriman dari kelompok lain
4)      Setelah selesai, jawaban masing-masing kelompok dicocokkan dengan jawaban kelompok yang membuat soal



o   Kepala Bernomor Terstruktur
Model ini merupakan modifikasi dari Kepala Bernomor. Model ini memudahkan pembagian tugas. Dengan cara ini, siswa belajar melaksanakan tanggung jawab pribadinya dalam saling keterkaitan dengan rekan-rekan kelompoknya. 
Bagaimana caranya?
1)      Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
2)      Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomornya. Misalnya, siswa nomor 1 bertugas membaca soal dengan benar dan mengumpulkan data yang mungkin berhubungan dengan penyelesaian soal. Siswa nomor 2 bertugas mencari penyelesaian soal. Siswa nomor 3 mencatat dan melaporkan hasil kerja kelompok
3)      Jika perlu (untuk tugas-tugas yang lebih sulit), guru juga bisa mengadakan kerja sama antarkelompok. Siswa bisa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa yang bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini, siswa-siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja mereka.

o   Model Make a Match (Membuat Pasangan)
Model Make a Match dikembangan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan model ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Penerapan model pembelajaran ini dimulai dengan menyuruh siswa mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. Langkah-langkah :
1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep/topik yang cocok untuk sesi review (satu sisi kartu berupa kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban)
2) Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal  dari kartu yang dipegang.
3) Siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal/kartu jawaban)
4) Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu  diberi poin
5) Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat  kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya
6) Kesimpulan.
o   Bertukar Pasangan
a) Setiap siswa mendapatkan satu pasang.
b) Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan  tugas dengan pasangannya.
c) Setelah selesai, setiap pasangan bergabung dengan pasangan yang lain.
d) Kedua pasangan tersebut bertukar. Masing-masing pasangan yang baru akan bertukar informasi.
f) Temuan baru yang didapatkan dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula.
o   Kepala Bernomor
a) Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
b) Guru memberikan tugas masing-masing kelompok mengerjakannya.
c) Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.
d) Guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.
o   Dua Tinggal Dua Tamu
a) Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat
b) Setelah selesai, dua orang dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya untuk bergabung ke kelompok yang lain.
c)  Dua orang yang tinggal mempunyai tugas untuk memberi informasi kepada tamu.
d) Tamu akan kembali ke tempat semula untuk melaporkan hasil kunjungannya.
e) Kelompok akan membahasnya.

d.      Keunggulan model pembelajaran kooperatif
Sebuah model pembelajaran tentunya mempunyai karakteristik tersendiri sehingga akan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Demikian juga dengan model pembelajaran kooperatif mempunyai kelebihan dan kekurangan di dalam implementasinya di dalam pembelajaran. Sehingga seorang guru dituntun untuk mampu menganalisa dan mencocokkan model pembelajaran yang akan digunakan dengan materiyang akan diajarkan.
Menurut Wina (2006:249-250) keunggulan model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
o   Siswa tidak terlalu tergantung pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, dan belajar dari siswa yang lain.
o   Dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
o   Membantu siswa untuk respek terhadap orang lain dan menyadari keterbatasannya.
o   Membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
o   Cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, keterampilan mengatur waktu dan sikap positif terhadap sekolah.
o   Mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri dan menerima umpan balik.
o   Meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
o   Interaksi selama pembelajaran kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal itu sangat berguna untuk endidikan jangka panjang.

e.       Kekurangan model pembelajaran kooperatif
Selanjutnya, juga diutarakan tentang kelemahan model pembelajaran kooperatif. Kelemahan itu antara lain :
o   Untuk memahami dan mengerti filosofis pembelajaran kooperatif butuh waktu yang lama. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan, mereka akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan.
o   Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif didasarkan pada hasil kerja kelompok, sehingga guru harus menyadari bahwa prestasi yang diharapkan adalah pretasi setiap individu.
o   Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual. Oleh karena itu selain siswa belajar bekerja bersama, siswa juga haru belajar bagaimana belajar membangun kepercayaan diri.

3.      CONTEXTUAL TEACHING LEARNING
a.       Pengertian Contextual Teaching Learning
Menurut Nurhadi dalam Sugiyanto (2007) CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Menurut Jonhson dalam Sugiyanto (2007) CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan untuk menolong para siswa melihat siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
b.      Tujuan Contextual Teaching Learning
o   Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari sehingga siswa memiliki pengetahuan atau keterampilan yang secara refleksi dapat diterapkan dari permasalahan kepermasalahan lainya.
o   Model pembelajaran ini bertujuan agar dalam belajar itu tidak hanya sekedar menghafal tetapi perlu dengan adanya pemahaman
o   Model pembelajaran ini menekankan pada pengembangan minat pengalaman siswa.
o   Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk melatih siswa agar dapat berpikir kritis dan terampil dalam memproses pengetahuan agar dapat menemukan dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain
o   Model pembelajaran CTL ini bertujun agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna
o   Model pembelajaran model CTL ini bertujuan untuk mengajak anak pada suatu aktivitas yang mengkaitkan materi akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari
o   Tujuan pembelajaran model CTL ini bertujuan agar siswa secara individu dapat menemukan dan mentrasfer informasi-informasi komplek dan siswa dapat menjadikan informasi itu miliknya sendiri.

c.       Prinsip Contextual Teaching Learning
Dengan menerapkan CTL tanpa disadari pendidik telah mengikuti tiga prinsip ilmiah modern yang menunjang dan mengatur segala sesuatu di alam semesta, yaitu: 1) Prinsip Kesaling-bergantungan, 2) Prinsip Diferensiasi, dan 3) Prinsip Pengaturan Diri.
o   Prinsip kesaling-bergantungan mengajarkan bahwa segala sesuatu di alam semesta saling bergantung dan saling berhubungan.Dalam CTL prinsip kesaling-bergantungan mengajak para pendidik untuk mengenali keterkaitan mereka dengan pendidik lainnya, dengan siswa-siswa, dengan masyarakat dan dengan lingkungan. Prinsip kesaling-bergantungan mengajak siswa untuk saling bekerjasama, saling mengutarakan pendapat, saling mendengarkan untuk menemukan persoalan, merancang rencana, dan mencari pemecahan masalah. Prinsipnya adalah menyatukan pengalaman-pengalaman dari masing-masing individu untuk mencapai standar akademik yang tinggi.
o   Prinsip diferensiasi merujuk pada dorongan terus menerus dari alam semesta untuk menghasilkan keragaman, perbedaan dan keunikan. Dalam CTL prinsip diferensiasi membebaskan para siswa untuk menjelajahi bakat pribadi, memunculkan cara belajar masing-masing individu, berkembang dengan langkah mereka sendiri.
Disini para siswa diajak untuk selalu kreatif, berpikir kritis guna menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
o   Prinsip pengaturan diri menyatakan bahwa segala sesuatu diatur, dipertahankan dan disadari oleh diri sendiri. Prinsip ini mengajak para siswa untuk mengeluarkan seluruh potensinya.
Mereka menerima tanggung jawab atas keputusan dan perilaku sendiri, menilai alternatif, membuat pilihan, mengembangkan rencana, menganalisis informasi, menciptakan solusi dan dengan kritis menilai bukti.
Selanjutnya dengan interaksi antar siswa akan diperoleh pengertian baru, pandangan baru sekaligus menemukan minat pribadi, kekuatan imajinasi, kemampuan mereka dalam bertahan dan keterbatasan kemampuan.
d.      Komponen-komponen Pembelajaran Contextual Teaching Learning
komponen-komponen model pembelajaran CTL ini antara lain :
o   Kontruktivisme
Kontruktivisme adalah proses membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Pembelajaran ini harus dikemas menjadi proses”mengkontruksi”bukan menerima pengetahuan.
o   Inquiry
Inquiry adalah proses pembelajaran yang didasarkan pada proses pencarian penemuan melalui proses berfikir secara sistematis, merupakan proses pemindahan dari pengamatan menjadi pemahaman sehingga siswa belajar mengunakan ketrampilan berfikir kritis.
Langkah-langkah dalam proses inquiry antara lain :
a. Merumuskan masalah
b. Mengajukan hipotesis
c. Mengumpilkan data
d. Menguji hipotesis
e. Membuat kesimpulan

o   Bertanya
Bertanya adalah bagian inti belajar dan menemukan pengetahuan .
o   Masyarakat belajar
Menurut Vygotsky dalam masyarakat belajar  ini pengetahuan dan pengalaman anak banyak dibentuk oleh komunikasi dengan orang lain.Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperolah dari ‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antar yang tau ke yang belum tau. Masyarakat belajar terjadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar.
o   Pemodelan
Pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sebagai suatu contoh yang dapat ditiru oleh siswa.
o   Refleksi
Refleksi adalah proses pengengalaman yang telah dipelajari dengan cara mengerutkan dan mengevalusi kembali kejadian atau peristiwa pembelajaran telah dilaluinya untukmendapatkan pemahaman yang dicapai baik yang bersifat positif maupun bernilai negative.
o   Penilaian nyata
Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan oleh guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan oleh siswa.Penialaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil.
e.       Langkah-langkah Pembelajaran Contextual Teaching Learning
Langkah-langkah pembelajaran CTL antara lain :
o   Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,menemukan sendiri ,dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
o   Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topic
o   Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
o   Menciptakan masyarakat belajar
o   Menghadirkan model sebagia contoh belajar
o   Melakukan refleksi diakhir pertemuan.
o   Melakukan penialain yang sebenarnya dengan berbagai cara.

f.       Kelebihan dari model pembelajaran CTL
o   Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimiliki sisiwa sehingga siswa terlibat aktif dalam PBM.
o   Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif
o   Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.
o   Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru.
o   Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
o   Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
o   Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok.

g.      Kelemahan dari model pembelajaran CTL
o   Dalam pemilihan informasi atau materi  dikelas didasarkan pada kebutuhan  siswa  padahal,dalam kelas itu tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda sehinnga guru akan kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa tadi tidak sama
o   Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM
o   Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang kemampuannya
o   Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri.
jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
o   Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini.
o   Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk mengapresiasikannya dalam bentuk lesan akan mengalami kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan ketrampilan dan kemampuan soft skill daripada kemampuan intelektualnya.
o   Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata.
Dalam CTL ini peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing, karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi
















BAB.VII
KOMPETENSI BELAJAR BAHASA DAN PENGEMBANGANNYA

A. Hakikat Kompetensi
       Kompetensi merupakan bentuk kata benda dari kata sifat ‘kompeten’ yang berarti cakap (mengetahui).  Dalam linguistik, kompetensi berarti kemampuan menguasai gramatika satuan bahasa secara abstrak atau batiniah. Hal itu, sesuai dengan pendapat DP Tampubolon bahwa kompetensi bahasa adalah penguasaan bahasa (dalam hal ini bahasa Indonesia) secara keseluruhan, terutama tata bahasa dan kosa kata, termasuk berbagai arti dan nuansa serta ejaan dan tanda-tanda baca, dan pengelompokan kata. Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Jadi, kompetensi bahasa adalah kemampuan seseorang dalam menguasai keterampilan bahasa untuk berkomuniksi.

Seseorang yang memiliki kompetensi bahasa, adalah orang yang memiliki kemampuan bahasa. Kemampuan bahasa adalah kecakapan seseorang menggunakan bahasa yang memadai dilihat dari sistem bahasa, Dalam kompetensi bahasa, seseorang harus menguasai empat keterampilan bahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan bahasa : menyimak, berbicara, membaca, dan menulis memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya, empat keterampilan tersebut saling mempengaruhi satu dengan yangn lainnya. Pada beberapa tugas yang lalu telah diuraikan mengenai keterampilan – keterampilan bahasa, dan strategi pengajarannya.

B.KOMPETENSI BELAJAR BAHASA INDONESIA
a. Kompetensi kebahasaan
Kompetensi kebahasaan adalah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat abstrak, yang berisi pengetahuan tentang kaidah, parameter atau prinsip-prinsip, serta sistem bahasa. Kompetensi kebahasaan merupakan pengetahuan gramatikal yang berada dalam struktur mental. Kompetensi kebahasaan tidak sama dengan pemakaian bahasa. Kompetensi kebahasaan bukanlah kemampuan untuk menyusun dan memakai kalimat, melainkan pengetahuan tentang kaidah-kaidah atau sistem kaidah.
Dalam hal ini kita dapat memahami bahwa mengetahui pengetahuan sistem kaidah belum tentu sama atau jangan disamakan dengan kemampuan menggunakan kaidah bahasa tersebut dalam aktualisasi pemakaian bahasa pada situasi konkret. Masalah bagaimana menggunakan bahasa dalam aktualisasi konkret merupakan masalah performansi.
Berkaitan dengan kompetensi ini, Chomsky mengemukakan konsep ’keberterimaan’ dan konsep ’kegramatikalan’. Keberterimaan mengacu pada bentuk-bentuk tuturan yang benar-benar alamiah dan dengan cepat dapat dipahami, tidak aneh, tidak asing dan tidak janggal. Sedangkan kegramatikalan, mengacu pada bentuk-betuk tuturan yang apabila dilihat dari kaidah kebahasaan yang bersangkutan tidak menyimpang. Masalah keberterimaan berkaitan dengan performansi kebahasaan, sedangkan kegramatikalan berkaitan dengan kompetensi kebahasaan. Pengertian kedua istilah tersebut tidak boleh dicampuradukkan. Contoh pada kalimat berikut (1) dan (2) merupakan contoh kalimat yang memiliki tingkat kegramatikalan dan keberterimaan yang tinggi, sedangkan kalimat (3) dan (4) memiliki kegramatikalan yang rendah namun keberterimaannya tinggi.
1.      Bapak membaca surat kabar di ruang tamu
2.      Sopyan belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa lulus dalam ujian
3.      ….Satu kilo gula, tiga kilo tepung dan setengah kilo mentega bu….  
4.      …Besok pagi jam delapan dari stasiun Turi, dik!

B.Kompetensi Sosiolinguistik dan Pragmatik

                 Kompetensi Sosiolinguistik adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa tepat dalam konteks yang berbeda. Kompetensi sosiolinguistik signifikan tumpang tindih dengan kompetensi wacana karena ada hubungannya dengan mengungkapkan, menafsirkan dengan makna yang diturunkan sesuai dengan norma-norma budaya dan harapan. Kompetensi sosiolinguistik yang paling jelas ketika konvensi yang mengatur penggunaan bahasa yang entah bagaimana dilanggar, seperti misalnya ketika seorang anak polos menggunakan "buruk" kata atau ketika harapan hadir di satu budaya yang tidak berhasil diterjemahkan bagi orang lain.
                     Ini adalah kompetensi sosiolinguistik yang memungkinkan kita untuk menjadi sopan sesuai dengan situasi kita dalam dan untuk dapat menyimpulkan maksud orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari bervariasi jenis bahasa yang kita gunakan sesuai dengan tingkat formalitas dan keakraban misalnya menyampaikan rasa hormat pada pertemuan internasional sarjana di bidang yang sama. Dalam situasi ini ada perbedaan status yang jelas antara peserta, kita berhati-hati untuk menyatakan hormat.

Kompetensi pragmatik secara umum dirumuskan oleh Hymes (1972) dalam pertanyaannya apakah dan sejauh mana ujaran yang digunakan penutur sesuai dengan kontek penggunaannya, dan diisyaratkan sebagai „the rules of use without which the rules of grammar will be useless‟(1972:278). Kompetensi pragmatik yang dikemukakan oleh Hymes diformulasikan menjadi beberapa konsepsi, yaitu secara implisit dikemukakan sebagai pengetahuan sosiolinguistik,kaidah penggunaan bahasa, komponen yang memungkinkan pengguna bahasa untuk menghubungkan arti dan maksud ujaran dengan konteks penggunaannya (Bachman, 1990), dan kemampuan aksional yakni kemampuan mengungkapkan dan memahami maksud atau tujuan komunikasi melalui penggunaan fungsi bahasa (language fuction) dan tindak tutur (speech act) . Pragmatik memandang bahasa sebagai alat komunikasi yang keberadaannya(baik bentuk maupun maknanya) ditentukan oleh penutur dan ditentukan dankeberagamannya ditentukan oleh topik, tempat, sarana, dan waktu. Fakta-fakta ini dimanfaatkan oleh sosiolinguistik untuk menjelaskan variasi-variasi bahasa atauragam bahasa.

C.Kompetensi Penggunaan Bahasa
          Sehubungan dengan kemampuan bahasa komunikatif, Bachman(1990) mengemukakan bahwa kemampuan bahasa ini sebenarnya mengandung di dalamnya pengetahuan atau kompetensi serta kemampuan mengimplementasikan kompetensi itu dalam penggunaan bahasa yang benar dan tepat dalam konteks baahasa yang beragam. Dia lebih lanjut menyatakan bahwa kemampuan bahasa yang komunikatif pada dasarnya terdiri atas 3 komponen utama : (a) kopentensi bahasa, (b) kopetensi strategis, dan (c) mekanisme psikofisiologis.
Kompetensi bahasa mengandung serangkaian komponen pengetahuan khusus yang digunakan dalam komunikasi lewat bahasa. Kompenen strategis menunjuk pada kemampuan mental untuk melaksakan komponen kompetensi bahasa dalam berbagai konteks dan situasi komunikasi yang bermakna. Mekanisme psikofisiologis mengacu pada proses neurologis dan psikologi yang terlibat dalam pengimplementasian bahasa sebagai suatu fenomena fisik.