TUGAS UJIAN KHIR SEMESTER II
TEORI BELAJAR BAHASA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
Disusun
Oleh :
Siti
Mawansari.daulae
(A1B116003)
Reguler. A
Dosen Pengampu : Yossie Ana Welvi ,M.Pd.
PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA
UNIVERSITAS JAMBI
2017
KATA PENGANTAR
Puji
syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan
hidayah-nya lah saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini , pada mata
kuliah “Teori Belajar Bahasa ”. Makalah ini merupakan Kumpulan dari materi yang
terdapat pada silabus Teori Belajar Bahasa untuk mahasiswa semester dua yang
dimulai dari Hakikat belajar , Hakikat Bahasa, Prinsip belajar Bahasa , Teori
Belajar Bahasa yang terdiri atas Teori Behavioristik , Teori Nativistik , Teori
Kognitivistik , dan Teori
Konstruktivistik, dan Metode dalam Belajar Bahasa Kedua yang terdiri atas Metode Tradisional
yaitu terdiri atas TGT, Natural, Langsung, Metode Offbit yaitu terdiri dari
atas metode Sillent Way, Sugestopedia ,Metode Kontemporer yang terdiri atas
Respon Fisik Total, Komunikatif, Natural, Strategi Belajar Bahasa yaitu strategi memorial, kognitif, kompensasi,
metakognitif, afektif, dan sosial, serta Model Pembelajaran untuk Bahasa Indonesia yang terdiri atas model
Komunikatif Learning ,Kooperatif Learning,Contextual Teaching Learning dan
Kompetensi Belajar Bahasa dan Pengembangannya yang terdiri atas Kompetensi
Kebahasaan, Kompetensi Sosiolinguistik dan Pragmatik ,Kompetensi Penggunaan
Bahasa.
Makalah Teori Belajar
Bahasa ini merupakan hasil dari sumber-sumber buku yang suda saya kumpulkan dan
dari makalah kelompok lain . Saya Siti Mawansari merupakan Penulis makalah ini
, dan saya berasal dari mahasiswi pendidikan bahasa sastra indonesia di
UNIVERSITAS JAMBI.
Makalah
ini saya buat sedemikian lengkap untuk memenuhi tugas Ujian akhir semester mata
kuliah Teori Belajar Bahasa dengan Dosen pengampu Yossie Ana Welvi,M.Pd.
Meskipun begitu, saya mengharapkan masukan terhadap makalah ini demi perbaikan.
Akhirnya
saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat , dan dapat digunakan dalam
proses pembelajaran Teori Belajar Bahasa Selanjutnya.
Jambi, 3 Mei 2017
Penulis
Siti
mawansari
i
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar.................................................................................. .........................................i
Daftar
Isi............................................................................................ ........................................ii
BAB
I.
PENDAHULUAN........................................................................................................1
BAB
II. HAKIKAT BAHASA DAN PRINSIP BELAJAR BAHASA....................................2
A. Hakikat Bahasa...................................................................... ........................................3
B. Prinsip
Belajar Bahasa........................................................... ........................................6
Bab
III.TEORI BELAJAR BAHASA............................................. ........................................9
A. Teori
Belajar Bahasa.............................................................. ........................................9
B. Jenis-Jenis Teori Belajar
Bahasa..................................................................................11
C. Pendekatan
Pembelajaran Bahasa.......................................... ......................................30
D.
Macam-Macam Metode pembelajaran ........................................................................32
E. Teknik
Pembelajaran Bahasa................................................. ......................................33
Bab IV. METODE DALAM BELAJAR
BAHASA KEDUA............................................ ..35
A. Pengertian
Metode................................................................. ......................................35
B. Metode
Dalam Belajar Bahasa Kedua................................... ......................................36
C. Metode
Tradisional................................................................ ......................................38
D. Metode
Offbit....................................................................... ......................................49
E. Metode kontemporer....................................................................................................52
Bab
V. STRATEGI BELAJAR BAHASA.......................................................................... ..56
A. Strategi
Belajar Bahasa.......................................................... ......................................56
B. Strategi
Pembelajaran Langsung dan Tidak Langsung.......... ......................................56
Bab VI. MODEL UNTUK
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA........................ ..64
A. Pengertian
Model Pembelajaran............................................ ......................................64
B. Model
Pembelajaran Bahasa Indonesia................................. ......................................64
Bab
VII. KOMPETENSI BELAJAR BAHASA DAN PENGEMBANGANNYA.......... ..83
A. Hakikat
Kompetensi.............................................................. ......................................83
B. Kompetensi
Belajar Bahasa Indonesia.................................. ......................................83
Daftar
Pustaka................................................................................... ......................................86
ii
DAFTAR
PUSTAKA
SUMBER
BUKU :
Azies, Furqanul, dan Chaedar Alwasilah. 2000. Pengajaran Bahasa Komunikatif : Teori dan Praktek. Bandung : Remaja
Rosdakarya.
Pateda, Mansoer, Aspek-aspek
Psikolinguistik, 1990, Nusa Indah. Flores.
Suharnan, 2005. Psikologi Kognitif. Srikandi. Surabaya.
Suharnan, 2005. Psikologi Kognitif. Srikandi. Surabaya.
Roekhan-Nurhadi,
1990. Dimensi-dimensi dalam Pembelajaran Bahasa Kedua. Bandung: Sinar
Baru
Sugono,
Dendy, dkk. 2008. Kamus Besar Bahasa
Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Tarigan,
Henry Guntur. 2009. Strategi Pengajaran
dan Pembelajaran Bahasa. Bandung : Angkasa
Tarigan, Henry
Guntur, 1986. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung: Angkasa
Ghazali,
Syukur, 2010. Pembelajaran Keterampilan Berbahasa dengan Pendekatan Komunikatif-Interaktif.
Bandung: PT Refika Aditama
Usantini, E.
2004.Memperbaiki Kualitas Proses Belajar
Genetika melalui Strategi Metakognitif dalam Pembelajaran Kooperatif pada Siswa
SMU. Disertasi tidak diterbitkan. Malang. Program Pascasarjana Universitas
Negeri Malang.
Ugiarso.
2004. Strategi Pembelajaran
Kognitivistik: Kajian Teoritik dan Temuan Empirik. Surabaya: Reksa Budaya.
Zuchdi, Darmiyanti.
dan Budiasih. (1997). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah.
Jakarta: Departemen P dan K
86
Tadkiroatun Musfiroh.
2016. Psikolinguistik Edukasional. UNY Press.
Chaer,
Abdul. 2009. Psikolinguistik: Kajian Teoritik. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Dj Ardjowidjojo,
Soejono. 2010. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Kholid
A.Harras. 2009. Dasar-Dasar Psikolinguistik. Jakarta: UPI Press.
Subyakto,
Sri Utari. 1988. Metodologi Pengajaran
Bahasa. Jakarta: Depdikbud
SUMBER INTERNET :
Ian. (2010). Teknik
Pembelajaran Bahasa Indonesia. [Online]. Tersedia:http://
ian43.wordpress.com/2010/10/25/teknik-pembelajaran-bahasa-indonesia/
Macam-macam Metode
Pembelajaran.[Online].Tersedia:http://belajarpsikologi .com/macam-macam-metode-pembelajaran/#ixzz1m2gOMob3
Suryabrata, Sumardi.1998. Psikologi pendidikan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta
Theoryabs@well.com
Suryabrata, Sumardi.1998. Psikologi pendidikan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta
Theoryabs@well.com
Usan, E.,
Israel, Kathryn, L.,Bauserman, Block, C. C. Tanpa
Tahun. Metacognitve Assessment Strategies, (Online),
(http://www.ctnet/rcwt.consortium, diakses 11 Maret 2006).
http://www.eurekapendidikan.com/2014/10/definisi-metode-menurut-para-ahli.html
ady-madani.blogspot.co.id/2013/03/23/metode-dan-strategi-pembelajaran-bahasa.html
http://hipni.blogspot.com//2011/09/pengertian-definisi-metode-pembelajaran-bahasa.html
87
BAB.1
PENDAHULUAN
Dapat
berpikir dan berbahasa merupakan ciri utama yang membedakan manusia dengan
makhluk lainnya. Karena memeiliki keduanya, maka sering disebut manusia sebagai
makhluk yang mulia dan makhluk sosial. Dengan pikirannya manusia menjelajah
kesetiap fenomena yang nampak bahkan yang tidak nampak. Dengan bahasanya
manusia berkomunikasi untuk bersosialisasi dan menyampaikan hasil pemikirannya.
Salah satu objek
pemikiran manusia adalah bagaimana manusia dapat berbahasa. Pendapat para ahli
tentang belajar bahasa tersebut bermacam-macam . diantara pendapat mereka ada
yang bertentangan namun ada juga yang salng mendukung dan melengkapi. Pemikiran pra ahli tentang
belajar bahasa begitu variatif dan
menarik.
BAB II
HAKIKAT BAHASA DAN PRINSIP BELAJAR
BAHASA
A. Hakikat bahasa
1. Pengertian
bahasa
Manusia merupakan
mahluk yang perlu berinteraksi dengan manusia lainnya. Bahasa yang dalam bahasa
inggrisnya disebut language berasal dari bahsa latin yang bearti”lidah”. Secara
universal pengertian bahasa ialah suatu bentuk ungkapan yang bentuk dasarnya
ujaran. Bahasa merupakan alat komunikasi yang mengandung beberapa sifat yakni,
systematik, mana suka, ujar, manusiawi dan komunikatif. Disebut sistematik
karena bahasa diatur oleh system.
2. Bentuk dan
makna
Bahasa yang
digunakan sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat terbagi atas dua
unsur, yakni bentuk (arus ujaran) dan makna (isi). Bentuk merupakan bagian yang
dapat diserap oleh unsur panca indra (mendengar atau membaca). Bagian ini
terdiri dua unsur, yaitu unsur segmental dan unsur suprasegmental. Unsur
segmental secara hierarkis dari segmen yang paling besar sampai segmen yang
paling kecil, yaitu wacana, kalimat, frasa, kata, morfem, dan fonem. Unsur
suprasegmental terdiri atas intonasi. Unsure-unsur intonasi adalah : tekanan,
(keras, lembut ujaran), nada (tinggi rendah ujaran), durasi (panjang pendek
waktu pengucapan), perhentian (yang membatasi arus ujaran).
Makna adalah isi
yang terkandung dalam bentuk-bentuk diatas. Sesuai dengan urtan bentuk dari
segmen yang palin besar sampai segmen yang terkecil, makna pun dibagi
berdasarkan hierarki itu, yaitu makna morfemis (makna imbuhan), makna leksikal
(makna kata) dan makna sintaksis (makna frasa, klausa, kalimat) serta makna
wacana yang disebut tema.
3. Fungsi
bahasa
Bahasa
sebagai alat komunikasi memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Fungsi
informasi, yaitu untuk menyampaikan informasi timbal balik antara
anggota keluarga ataupun anggota-anggota masyarakat.
b. Fungsi
eksfresi, diri yaitu untuk menyalurkan perasaan, sifat, gagasan, emosi atau
tekanan-tekanan perasaan pembicaraan.
c. Fungsi
adaptasi dan integrasi, yaitu untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan
anggota masyarakat.
d. Fungsi
control social, bahasa berfungsi untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang
lain.
o Fungsi khusus bahasa Indonesia
Bahasa
Indonesia sebagai bahasa nasional mempunyai fungsi khusus yang sesuai dengan kepentingan bangsa Indonesia,
fungsi itu adalah sebagai berikut:
a.
Alat untuk
menjalankan administrasi Negara.
b. Alat pemersatu
berbagai suku yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda.
c. Wadah
penampung kebudayaan. Semua ilmu pengetahuan dan kebudayaan harus diajarkan dan
diperdalam dengan mempergunakan bahasa Indonesia sebagai medianya.
4. Ragam bahasa
Dengan dasar
ini ragam bahasa dapat dibedakan atas:
a. Ragam ilmiah, yaitu
ragam bahasa yang digunakan dalam kegiatan ilmiah, ceramah, tulisan-tulisan
ilmiah.
b. Ragam popular, yaitu bahasa yang digunakan dalam
pergaulan sehari-hari dan dalam tulusan popular.
Ragam bahasa dapat digolongkan menurut sarana dibagi
atas ragam lisan dan ragam tulisan. Makna ragam lisan diperjelas dengan intonasi,
yaitu tekanan, nada, tempo suara dan perhentian. Sedangkan pengunaan ragam
tulisan dipengaruhi oleh bentuk, pola kalimat, dan tanda baca. Ragam bahasa
dari sudut pendidikan dapat dibagi atas bahasa baku dan bahasa tidak baku.
Ragam baku menggunakan kaidah bahasa yang lebih lengkap dibandingkan dengan
ragam tidak baku. Ciri ragam bahasa baku adalah
a, memiliki
sifat kematapan dinamis yang artinya konsisten dengan kaidah dan aturan yang
tetap,
b,memiliki
sifat kecendikian,
c,bahasa
baku dapat mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis dan masuk
akal.
A.A. Hakikat Belajar Bahasa
a.
Pengertian
Pembelajaran Bahasa
Belajar bahasa pada
hakikatnya adalah belajar komunikasi.Oleh karena itu, pembelajaran bahasa
diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pembelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995).Hal
ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pembelajar bahasa diarahkan ke dalam empat sub aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Oleh karena itu, setiap pengajar harus memiliki keterampilan dalam memilih
strategi pembelajaran untuk setiap jenis kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, pemilihan strategi pembelajaran yang tepat dalam kegiatan
pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar dapat terpenuhi.
Gilstrap dan Martin (1975)
menyatakan bahwa peran pengajar lebih erat kaitannya dengan keberhasilan pembelajar, terutama berkenaan dengan kemampuan pengajar dalam menetapkan
strategi pembelajaran.Sedangkan tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran (1999) adalah
keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir,
menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Kesemuanya itu dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan.
Uraian di
atas sudah jelas bahwa pembelajaran bahasa pada anak didik atau pembelajar yang
ditransformasikan oleh guru meliputi empat aspek yaitu menyimak, berbicara,
membaca, dan menulis. Proses guru sendiri dalam mentransformasikan materi atau bahan untuk membantu siswa dalam menguasai atau
mempelajari keempat aspek tersebut diserahkan kepada guru sepenuhnya. Sehingga, sebagai guru dan calon guru sedini
mungkin sudah harus diperkenalkan untuk berfikir kritis dan inovatif dalam
mencari metode serta bahan ajar yang akan di sampaikan kepada paserta didik
atau anak didik sesuai dengan tahap perkembangannya. Pemilihan bahan ajar serta
metode yang digunakan bervariasi sesuai dengan minat serta kemampuan yang
dimiliki siswa. Misal untuk mengajarkan anak SD kelas VI berbeda dengan metode
mengajar anak kelas V walaupun materi pokok yang diajarkan sama. Bagi siswa
kelas VI belajar berpidato sudah dapat dilakukan tanpa teks, sedangkan anak
kelas V masih boleh menggunakan teks. Hal ini dilakukan agar setiap siswa mempunyai kompetensi pembelajaran yang
meningkat seiring dengan perkembangan mental anak.
Belajar merupakan
perubahan prilaku manusia atau perubahan kapabilitas yang relative permanen
sebagai hasil pengalaman. Belajar juga merupakan kegiatan yang kompleks.
Artinya didalam proses belajar tedapat berbagai kondisi yang dapat menentukan
keberhasilan belajar. Factor yang mempengaruhi keberhasilan belajar adalah
berbagai kondisi yang berkaitan dengan proses belajar yakni kondisi eksternal
dan kondisi internal.
1. Faktor
yang mempengaruhi keberhasilan belajar bahasa .
a. Kondisi eksternal
adalah factor diluar diri murid, seperti lingkungan
sekolah, guru, teman sekolah, keluarga, orang tua, masyarakat. Kondisi
eksternal terdiri dari 3 prinsip belajar, yaitu
(a)memberikan situasi atau materi
yang sesuai dengan respon yang diharapkan,
(b) pengulangan agar belajar lebih
sempurna dan lebih lama diingat,
(c) penguatan respon yang tepat
untuk mempertahankan dan menguatkan respon itu.
b.
Kondisi
internal
adalah faktor dalam diri murid yang terdiri atas
(a) moltivasi poositif dan percaya
diri dalam belajar,
(b) tersedia materi yang memadai
untuk memancing aktivitas siswa,
(c) adanya strategi dan aspek –
aspek jiwa anak.
Factor eksternal lebih banyak ditangani oleh pendidik,
sedangkan factor internal dikembangkan sendiri oleh para siswa dengan bimbingan
guru.
2. Jenis Keterampilan dan Perilaku dalam Proses Belajar
Bahasa
Belajar
bahasa pada dasarnya bertujuan untuk mengungkapkan kemampuan menggunakan bahasa
untuk berbagai keperluan. Keterampilan – keterampilan tersebut dibedakan antar
perilaku internal dan perilaku eksternal. Keterampilan yang paling sederhana
adalah keterampilan mekanis berupa hafalan atau ingatan. Murid menghafal dan
mengingat bentuk-bentuk bahasa yang paling sederhana yang paling kompleks.
Misal, dimulai dengan mendengar beberapa kosakata baru, membaca suku kata,
kelompok kata, dan kalimat.
1.
Keterampilan tahap berikutnya adalah tahap pengetahuan
berupa demonstrasi pengetahuan tentang fakta kaidah tentang bahasa yang
dipelajari. Jenis perilaku yang internal (reseptif).
2. Tahap pengenalan
(metacognitif) .
3. Tahap
keterampilan transfer. Murid menggunakan pengetahuan dalam situasi baru.
Penerapan kaidah yang disesuaikan dengan konteks bahasa yang dihadapi.
4. Tahap komunikasi.
Penggunakan bahasa yang dipelajari sebagai sarana komunikasi. Mulailah dengan
pertanyaan yang sederhana, misalnya apakah kelas kita sudah bersih? Biarkan
mereka secara bertahap menanggapi pertanyaan ini anda tidak perlu tergesa-gesa
memperbaiki kosakata atau kaidahnya. Perilaku eksternal tahap ini adalah
ekspresi diri. Murid menggunakan bahasa secara lisan atau tertulis untuk
menyatakan dirinya, menyatakan gagasan atau ide. Murid membuat karangan
sederhana, cerpen, novel, kisah sampai dengan karangan yang berbentuk karya
tulis dan karya ilmiah atau pidato.
5. Tahap kelima
adalah kritik. Kemampuan menganalisis dan mengevaluasi karangan atau karya
tulis untuk maupun lisan. Perilaku sikap ini adalah analisis. Factor internal,
seperti motivasi belajar anak perlu di rangsang.
Fungsi
khusus bahasa Indonesia, yaitu
(1) alat menjalankan administrasi
Negara,
(2) alat pemersatu,
(3) wadah penampung kebudayaan.
B. Prinsip-Prinsip
Pembelajaran Bahasa
Belajar
bahasa akan lebih baik apabila: Peserta didik atau pembelajar mampu menilai pengalaman sendiri atau menilai orang lain. Pembelajar terlibat dalam pengembangan tujuan dan telah mengembangkan cara
teratur untuk memusatkan pada pengolahan informasi. Selain itu pembelajar mengandalkan observasi sebagai pengalaman. Pengalaman itu dapat
berupa apa yang ia dapat sendiri atau dapat juga dari apa yang ia dengar dan ia
lihat dari sekelilingnya. Dari pengalaman-pengalaman tersebut anak dapat
menilai baik dan buruknya semua yang dilihatnya bagi perkembangan mental dan
intelegtency seorang anak.
Fokus pada
kegiatan belajar dengan serangkaian gambaran dan perasaan yang teratur dalam
proses belajar membantu siswa dalam memahami suatu masalah sehingga apa yang
ingin disampaikan oleh pengajar diterima secara maksimal oleh peserta
didik. Sebagai contohnya dalam proses pembelajaran seorang guru
menjelaskan materi pelajaran mengenai membaca dalam hati maka untuk memfokuskan
agar penjelasan guru tidak melenceng setelah guru memberikan materi mengenai
membaca dalam hati siswa diberikan tugas untuk membaca dalam hati dengan baik
dan benar.
Telah
menemukan standar dan tujuan dari orang lain dimaksudkan bahwa dalam
menstranformasikan ilmu kepada pebelajar seorang guru tidak dapat berdiri
sendiri. Tetapi juga membutuhkan bentuan alat atau saran dari orang lain dalam
memilih media yang sesuai dengan karakter peserta didik. Diharapkan dengan
metode dan media yang tepat atau pas siswa dapat memahami materi pelajaran
secara maksimal.
Dalam proses
belajar hendaknya siswa agar tidak terlalu dirangsang atau mengalami tekanan
atau kecemasan berat karena hal itu tidak akan berdampak baik tetapi sebaliknya
yaitu anak menjadi down dan dapat memicu menurunnya intelegency atau yang di
sebut dengan IQ. Mampu
memproses informasi dengan berbagai metode dan belajar (bagaimana belajar). Dengan penggunaan bahan belajar relevan dengan masa lalu dan sekarang
diharapkan informasi baru yang disajikan melalui panca indera dan pengalaman dengan ulangan dan variasi tema yang cukup dapat
memberikan sumbangan pemikiran kepada siswa atau peserta didik. Selain uraian diatas terdapat 5 prinsip belajar lainnya yaitu:
a. Prinsip 1. Mengetahui apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan minat
belajar bahasa yaitu seorang guru harus menyelami dan mengetahui karakter
setiap siswa dalam satu kelas agar guru dapat mencari metode dan cara belajar
yang tepat sesuai dengan apa yang diinginkan siswa. Cara ini selain dapat
meningkatkan hasil belajar juga dapat membantu guru dalam memberikan materi
pembelajaran karena dengan mudah dapat diserap dan dipahami siswa secra
maksimal.
b. Prinsip 2. Keterpaduan keterampilan berbahasa keterampilan disajikan secara
terpadu seperti dalam kehidupan nyata. Keterampilan ini seperti pemberian materi pembelajaran yang pemberian contohnya disesuaikan dengan apa yang sedang berkembang
dan menjadi sorotan anak didik. Keterpaduan ini selain menarik juga
membuat siswa tidak bosan dalam mengikuti proses pembelajaran.
c. Prinsip 3. Belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi. Komunikasi ini diciptakan situasi yang mendorong terjadinya komunikasi dan
interaksi dengan kegiatan yang ada kesenjangan informasinya (information gap).
Komunikasi yang dibangun dan diterapkan oleh guru kepada anak didik hendaknya dimulai dari apa yang siswa atau anak didik minati.
Dari itu pendidik dapat bertukar pikiran dengan baik dan selanjutnya komunikasi
yang terjalin ini dapat mempermudah guru mengetahui kesukaran/kesulitan siswa
dalam belajar.
d. Prinsip 4. Pentingnya kebermaknaan dalam pengajaran. Kebermaknaan berdasarkan konteks, baik konteks kebahasaan maupun konteks
situasi. Kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa jika hal itu
berhubungan dengan kebutuhan, pengalaman, minat, tata nilai, dan masa depannya. Dalam penerapan prinsip ini, guru dituntut memiliki kemampuan berbahasa
yang memadai dan memiliki berbagai keterampilan menyajikan bahan secara
komunikatif
e. Prinsip 5. Belajar dengan melakukan atau praktek hal ini dilakukan agar
Guru menyiapkan bahan, menciptakan situasi dan kegiatan yang beragam untuk
mendorong siswa berperan secara aktif belajar bahasa, bukannya mengetahui
teori-teori atau ilmu tentang bahasa.
Pengaplikasian
materi belajar dengan metode ini mengakibatkan siswa akan terdorong untuk selalu mengikuti serta berantusias dalam proses
pembelajaran.
Bab III
TEORI BELAJAR BAHASA
A. Teori -
Teori Belajar Bahasa
Dalam
kegiatan belajar dan mengajar di sekolah terjadi sebuah proses yaitu interaksi
antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa jika terjadi kegiatan belajar
kelompok. Dalam interaksi tersebut akan terjadi sebuah proses pembelajaran,
pembelajaran secara umum didefinisikan sebagai suatu proses yang menyatukan
kognitif, emosional, dan lingkungan pengaruh dan pengalaman untuk memperoleh,
meningkatkan, atau membuat perubahan’s pengetahuan satu, keterampilan, nilai,
dan pandangan dunia (Illeris, 2000; Ormorod, 1995).
Belajar sebagai suatu proses
berfokus pada apa yang terjadi ketika belajar berlangsung. Penjelasan tentang
apa yang terjadi merupakan teori-teori belajar.
Teori belajar adalah upaya untuk
menggambarkan bagaimana orang dan hewan belajar, sehingga membantu kita
memahami proses kompleks inheren pembelajaran. (Wikipedia) Bertolak dari
perubahan yang ditimbulkan oleh perbuatan belajar, para ahli teori belajar
berusaha merumuskan pengertian belajar. Di bawah ini dikutip beberapa batasan
belajar, agar dapat menjadi bahan pemikiran dan renungan mengenai pengertian
belajar yang berlangsung di kelas. Belajar proses perubahan tingkah laku
seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya
yang berulang-ulang dalam situasi itu, di mana perubahan tingkah laku itu tidak
dapat dijelaskan atau dasar kecendrungan respon pembawaan, pemaksaan, atau
kondisi sementara (seperti lelah, mabuk, perangsang dan
sebagainya).
Menurut Morgan (Gino, 1988: 5) menyatakan
bahwa belajar adalah merupakan salah satu yang relatif tetap dari tingkah laku
sebagai akibat dari pengalaman. Dengan demikian dapat diketahui bahwa
belajar adalah usaha sadar yang dilakukan manusia melalui pengalaman dan latihan
untuk memperoleh kemampuan baru dan merupakan perubahan tingkah laku yang
relatif tetap, sebagai akibat dari latihan. Menurut Hilgard (Suryabrata, 2001:232) menyatakan belajar merupakan
proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan
perubahan, yang keadaannya berbeda dari perbuatan yang ditimbulkan oleh
lainnya. Selanjutnya menurut Gerow (1989:168)
mengemukakan bahwa “Learning is demonstrated by a relatively permanent change
in behavior that occurs as the result of practice or experience”. Belajar adalah ditunjukkan oleh
perubahan yang relatif tetap dalam perilaku yang terjadi karena adanya latihan
dan pengalaman-pengalaman. Kemudian menurut
Bower (1987: 150) “Learning is a cognitive process”. Belajar adalah suatu proses kognitif. Dalam
pengertian ini, tidak berarti semua perubahan berarti belajar, tetapi dapat
dimasukan dalam pengertian belajar yaitu, perubahan yang mengandung suatu usaha
secara sadar, untuk mencapai tujuan tertentu.
Berdasarkan
pengertian belajar yang dikemukakan di atas dapat diidentifikasi beberapa
elemen penting yang mencirikan pengertian belajar yaitu :
1.
Belajar
adalah merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat
mengarah kepada tingkah laku yang baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah
kepada tingkah laku yang buruk. Perubahan itu tidak harus segera nampak setelah
proses belajar tetapi dapat nampak di kesempatan yang akan datang.
- Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman.
- Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru, yang berlaku dalam waktu yang relatif lama.
Teori manapun pada
prinsifnya, belajar meliputi segala perubahan baik berpikir, pengetahuan,
informasi, kebiasaan, sikap apresiasi maupun pengertian. Ini berarti kegiatan
belajar ditunjukan oleh adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman.
Perubahan akibat proses belajar adalah karena adanya usaha dari individu dan
perubahan tersebut berlangsung lama. Belajar
merupakan kegiatan yang aktif, karena kegiatan belajar dilakukan dengan
sengaja, sadar dan bertujuan. Agar kegiatan belajar mencapai hasil yang
optimal, maka diusahakan faktor penunjang seperti kondisi peserta didik yang
baik, fasilitas dan lingkungan yang mendukung serta proses belajar
mengajar yang tepat.
Pengertian
teori. Menurut Mc lauglin dalam
(Hadley: 43, 1993) Fungsi teori
adalah untuk membantu kita mengerti dan mengorganisasi data tentang pengalaman
dan memberikan makna yang merujuk dan sesuai. Ellis menyatakan bahwa setiap
guru pasti sudah memiliki teori tentang pembelajaran bahasa, tetapi
sebagian besar guru tersebut tidak pernah mengungkapkan seperti apa teori itu. Teori
mempunyai fungsi yaitu:
1).Mendeskripsikan, menerangkan, menjelaskan tentang
fakta. Contohnya fakta bahwa mengapa air laut itu asin.
2).Meramalkan kejadian-kejadian yang akan terjadi
berdasarkan teori yang sudah ada.
3).Mengendalikan yaitu mencegah sesuatu supaya tidak terjadi dan mengusahakan supaya terjadi.
3).Mengendalikan yaitu mencegah sesuatu supaya tidak terjadi dan mengusahakan supaya terjadi.
Teori berhubungan dengan belajar, belajar adalah pemerolehan ilmu melalui belajar, pengalaman,
dan pelatihan. (Kimble and Garmezy 1963:
133). Dengan kata lain teori belajar bahasa adalah gagasan-gagasan tentang
pemerolehan bahasa. Semua kegiatan belajar melibatkan ingatan. Jika kita
tidak dapat mengingat apa pun pengalaman kita maka kita tidak dapat belajar.
Walau kita sering sekali lupa, ingatan tetap dapat digali kembali dengan cara
merangsang otak. Pengetahuan yang terlupakan dapat diingat kembali dengan cara
belajar kembali. Menurut Oemar Hamalik
(2001: 154), prinsip belajar meliputi:
1. Dilakukan dengan sengaja.
2. Harus direncanakan sebelumnya dengan struktur
tertentu.
3. Guru menciptakan pembelajaran untuk siswa.
4. Memberikan hasil tertentu buat siswa.
5. Hasil-hasil yang dicapai dapat dikontrol dengan
cermat.
6. Sistem penilaian dilaksanakan secara
berkesinambungan.
Sedangkan ciri-ciri perubahan perilaku dalam belajar:
terjadi secara sadar, bersifat konstitutional, fungsional, bersifat positif,
aktif, tidak bersifat sementara, bertujuan atau terarah, mencakup seluruh aspek
perilaku individu. Menurut Suryabrata
dalam Sumardi (1998: 232) proses belajar diharapkan membawa perubahan,
menghasilkan kecakapan baru, adanya usaha mencapai hasil yang lebih baik
(dengan sengaja).
B. Jenis-jenis Teori Belajar Bahasa
Ada tiga kategori utama
atau kerangka filosofis mengenai teori-teori belajar, yaitu: teori belajar
behaviorisme, teori belajar kognitivisme, dan teori belajar konstruktivisme.
Teori belajar behaviorisme hanya berfokus pada aspek objektif diamati
pembelajaran. Teori kognitif melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan
pembelajaran berbasis otak. Dan pandangan konstruktivisme belajar sebagai
sebuah proses di mana pelajar aktif membangun atau membangun ide-ide baru atau
konsep.
1.Teori
belajar Behaviorisme
Teori
behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan
oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang
berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan
pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan
pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik
dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar
sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan
metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat
bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
2. Teori Belajar
kognitivisme
Teori
belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir
sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya.
Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses
infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian
menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah
ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses. Peneliti yang
mengembangkan teori kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari
ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel
menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama
terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk
konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi
dari lingkungan.
3.Teori Belajar
Konstruktivisme
Teori
Belajar Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam
konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya
membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan
landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan
dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui
konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah
seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan
diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui
pengalaman nyata.
Dengan teori
konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea
dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung
dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu
mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara
langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.
1.1.Pengertian Pendekatan Behaviorisme
Menurut
teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku
sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respons. Seseorang
dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah
laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa
dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai
hasil interaksi antara stimulus dan respons. Sebagai
contoh, anak belum dapat berhitung perkalian. Walaupun ia sudah berusaha giat
dan gurunya pun sudah mengajarkan dengan tekun, namun jika anak tersebut belum
dapat mempraktekkan perhitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar.
Karena ia belum dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagai hasil belajar.
Dalam contoh tersebut, stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada
siswa misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman kerja, atau cara-cara
tertentu, untuk membantu belajar siswa, sedangkan respons adalah reaksi atau
tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.
Menurut teori ini yang
terpenting adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau
output yang berupa respons. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan
respons dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak bisa diamati. Faktor
lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor
penguatan (reinforcement) penguatan
adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan
ditambahkan (positive reinforcement)
maka respons akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi (negative
reinforcement) respons pun akan tetap dikuatkan (Suryabrata, 1990). Misalnya, ketika
peserta didik di beri tugas oleh guru.
Ketika tugasnya ditambahkan, maka ia
akan semakin giat belajarnya. Maka penambahan tugas tersebut merupakan penguatan
positif (positif reinforcement) dalam
belajar. Bila tugas-tugas dikurangi dan pengurangan ini justru meningkatkan
aktifitas belajarnya, maka pengurangan tugas merupakan penguatan negatif (negative reinforcement) dalam belajar.
Jadi penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting diberikan atau dihilangkan untuk memungkinkan
terjadinya respons.
Terdapat
beberapa pandangan tokoh-tokoh tentang pendekatan behaviorisme yang dikemukakan
oleh beberapa ahli, diantaranya sebagai berikut.
1)
Pavlov
2)
Thorndike
3)
Watson
4)
Clark Hull
5)
Edwin Guthrie,
dan
6)
Skiner
Masing-masing tokoh
memberikan pandangan tersendiri tentang apa dan bagaimana behavoristik tersebut
1.1
Teori Pengkondisian Klasikal dari Pavlov
Ivan
Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu desa tempat
ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta. Ia dididik di sekolah
gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi. Pavlov lulus sebagai sarjan
kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Pada tahun 1884 ia menjadi direktur
departemen fisiologi pada institute of Experimental Medicine dan memulai
penelitian mengenai fisiologi pencernaan. Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel
pada bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Karyanya mengenai pengkondisian
sangat mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika. Karya tulisnya adalah
Work of Digestive Glands(1902) dan Conditioned Reflexes(1927). Classic
conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang
ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli
dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga
memunculkan reaksi yang diinginkan.
Eksperimen-eksperimen
yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan
behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya.
Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan
tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang diinginkan.
Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing)
karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian,
dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang. Ia
mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi pipi pada seekor anjing.
Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan
sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. Kini sebelum
makanan diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih
dahulu, baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula.
Apabila
perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan
hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan
keluar pula. Makanan adalah rangsangan wajar, sedang sinar merah adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang
demikian dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan
syarat(kondisi) untuk timbulnya air liur pada anjing tersebut. Peristiwa ini
disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons. Pavlov
berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. Bectrev
murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia, yang
ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari
manusia.
Melalui
eksperimen tersebut Pavlov menunjukkan bahwa belajar dapat mempengaruhi
perilaku seseorang.
2.2
Teori Koneksionisme Thorndike
Menurut Thorndike,
belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara
peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus
adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk
mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah
sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dalam
eksperimennya, Thorndike menggunakan kucing. Dari eksperimen kucing lapar yang
dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) tersebut diketahui bahwa supaya tercapai
hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih
respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials)
dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari
belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting
learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori
belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar
koneksionisme atau teori asosiasi.
Dari percobaan ini
Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut
a. Hukum
Kesiapan(law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu
perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan
kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
b. Hukum
Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih
(digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Prinsip law of exercise
adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan
menjadi lebih kuat karena latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi
antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. Sehingga prinsip dari hokum
ini menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. Makin sering
diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai.
c. Hukum
akibat(law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila
akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan.
Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil
perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung
dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang
diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan
diulangi.
Selain
tiga hukum di atas Thorndike juga menambahkan hokum lainnya dalam belajar yaitu
Hukum Reaksi Bervariasi (multiple response), Hukum Sikap ( Set/ Attitude),
Hukum Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element), Hukum Respon by
Analogy, dan Hukum perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting).
3.3
Teori Conditioning Watson
Watson merupakan
seorang behavioris murni. Kajian Watson tentang belajar disejajarkan dengan
ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada
pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat diamati dan diukur. Menurut Watson, belajar adalah proses
interaksi antara stimulus dan respons. Dalam hal ini, stimulus dan respons
yang dimaksud dibentuk dari tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan
dapat diukur. Watson mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri
seseorang selama proses belajar dan ia menganggap hal-hal tersebut sebagai
faktor yang tak perlu diperhitungkan.
4.4
Teori Systematic Behavior Clark Hull
Clark Hull
juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respons untuk
menjelaskan pengertian tentang belajar. Dalam hal ini, ia sangat terpengaruh
oleh teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti
halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk
menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu, teori Hull mengatakan bahwa
kebutuhan biologis dan pemenuhan kebutuhan biologis adalah penting dan
menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia. Sehingga stimulus
dalam belajar pun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun
respons yang mungkin akan muncul dapat bermacam-macam bentuknya. Dalam
kenyataannya, teori-teori demikian tidak banyak digunakan dalam kehidupan
praktis, terutama setelah Skinner memperkenalkan teorinya. Hingga saat ini,
teori Hull masih sering dipergunakan dalam berbagai eksperimen di laboratorium.
5.5
Teori Conditioning Edwin Guthrie
Demikian
halnya dengan Edwin Guthrie, ia juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan
respons untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Menurut Edwin, stimulus
tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana
yang telah dijelaskan oleh Clark dan Hull. Dalam hal ini, hubungan antara
stimulus dan respons cenderung hanya bersifat sementara. Oleh sebab itu, dalam
kegiatan belajar perlu diberikan sesering mungkin stimulus agar hubungan antara
stimulus dan respons bersifat lebih tetap. Ia juga mengemukakan agar respons
yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, sehingga diperlukan
berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respons tersebut. Guthrie juga
percaya bahwa hukuman(punishment)
memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat
yang tepat akan mampu merubah kebiasaan dan perilaku seseorang. Setelah Skinner
mengemukakan dan mempopulerkan pentingnya penguatan (reinforcement) dalam teori belajarnya, sehingga hukuman tidak lagi
dipentingkan dalam belajar.
6.6
Teori Operant Conditioning Skinner
Konsep-konsep
yang dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep
lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep
belajar secara sederhana dan dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara
komprehensif. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respons yang
terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan
perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang digambarkan oleh para tokoh
sebelumnya. Oleh sebab itu, untuk
memahami tingkah laku seseorang secara benar perlu terlebih dahulu memahami
hubungan antara stimulus satu dengan lainnya, serta memahami respons yang
mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin akan timbul sebagai
akibat dari respons tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa, dengan
menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah
laku hanya akan menambah rumitnya masalah.
Sebab,
setiap alat yang dipergunakan perlu penjelasan lagi, demikia seterusnya. Dari semua pendukung Teori
behavioristik, Teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya. Program-program
pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berpogram, modul, dan
program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan
stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program-program pembelajaran yang
menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh Skinner.
Keunggulan
dan Kelemahan Teori Behaviorisme
a)
Keunggulan Teori Behaviorisme
1) Teori
ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi
peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan
senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau
pujian.
2)
Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar
3) Kelemahan
Teori Behaviorisme
Kelemahan teori behaviorisme adalah sebagai
berikut.
1)
Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher
centered learning), bersifat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil
yang diamati dan diukur.
2)
Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa
yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan
hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan siswa (teori skinner) baik
hukuman verbal maupun fisik seperti kata – kata kasar, ejekan , jeweran yang justru berakibat buruk pada
siswa.
Aplikasi Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran
Teori
psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan
praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah teori behaviorisme.
Teori ini menekankan pada terbentuknya prilaku yang tampak sebagai hasil
belajar. Teori behaviorisme dengan model hubungan stimulus-responsnya, mendudukkan
yang belajar sebagai individu yang pasif. Respons atau prilaku tertentu dapat
dibentuk karena dikondisi dengan cara tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya
prilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement
dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Istilah-istilah
seperti hubungan stimulus-respons, individu atau siswa pasif, prilaku sebagai
hasil belajar yang tampak, pembentukan perilaku (shaping) dengan penataan kondisi secara tepat, reinforcement dan hukuman, ini semua merupakan unsur-unsur yang
sangat penting dalam teori behaviorisme. Teori ini hingga sekarang masih
merajai praktek pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada
penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti Kelompok
Bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, bahkan sampai di
Perguruan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara drill (pembiasaan) disertai dengan reinforcement atau hukuman masih sering dilakukan.
Aplikasi
teori behaviorisme dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal
seperti : tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik, media dan
fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan
dilaksanakan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan
adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur
dengan rapi sehingga belajar adalah perolehan pendidikan. Sedangkan mengajar
adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau siswa. Siswa diharapkan
akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya,
apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh
murid.
Aplikasi
teori belajar behaviorisme menurut tokoh-tokoh antara lain :
a. Aplikasi Teori Pavlov
Contohnya
yaitu pada awal tatap muka antara guru dan murid dalam kegiatan belajar
mengajar, seorang guru menunjukkan sikap yang ramah dan memberi pujian terhadap
murid-muridnya, sehingga para murid merasa terkesan dengan sikap yang
ditunjukkan gurunya.
b. Aplikasi Teori Thorndike
1. Sebelum
guru dalam kelas mulai mengajar, maka anak-anak disiapkan mentalnya terlebih
dahulu. Misalnya anak disuruh duduk yang rapi, tenang dan sebagainya.
2. Guru
mengadakan ulangan yang teratur, bahkan dengan ulangan yang ketat atau sistem
drill.
3. Guru
memberikan bimbingan, pemberian hadiah, pujian, bahkan bila perlu hukuman sehingga
memberikan motivasi proses belajar mengajar.
c. Aplikasi Teori Skinner
Guru
mengembalikan dan mendiskusikan pekerjaan siswa yang telah diperiksa dan
dinilai sesegera mungkin.
Selain itu, penerapan teori behavioristik adalah
dengan pemberian bahan pembelajaran dalam bentuk utuh kepada peserta didik,
hasil belajar segera disampaikan kepada peserta didik, proses belajar harus
mengikuti irama dari yang belajar, dan materi pelajaran digunakan sistem modul.
Kemudian Menurut Suryabrata dalam Sumardi (1998: 232) teori Belajar Bahasa
yaitu :
1. Teori Behaviorisme
Tokoh aliran ini adalah John B. Watson (1878 – 1958)
yang di Amerika dikenal sebagai bapak Behaviorisme. Teorinya memumpunkan
perhatiannya pada aspek yang dirasakan secara langsung pada perilaku berbahasa
serta hubungan antara stimulus dan respons pada dunia sekelilingnya. Menurut
teori ini, semua perilaku ditimbulkan oleh adanya rangsangan (stimulus). Jika
rangsangan telah diamati dan diketahui maka gerak balas pun dapat
diprediksikan.Watson juga dengan tegas menolak pengaruh naluri (instinct) dan
kesadaran terhadap perilaku. Jadi setiap perilaku dapat dipelajari menurut
hubungan stimulus - respons. Untuk membuktikan kebenaran teorinya, Watson
mengadakan eksperimen terhadap Albert, seorang bayi berumur sebelas bulan. Pada
mulanya Albert adalah bayi yang gembira dan tidak takut bahkan senang
bermain-main dengan tikus putih berbulu halus. Dalam eksperimennya, Watson
memulai proses pembiasaannya dengan cara memukul sebatang besi dengan sebuah
palu setiap kali Albert mendekati dan ingin memegang tikus putih itu.
Akibatnya, tidak lama kemudian Albert menjadi takut terhadap tikus putih juga
kelinci putih. Bahkan terhadap semua benda berbulu putih, termasuk jaket dan
topeng Sinterklas yang berjanggut putih. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa pelaziman dapat mengubah perilaku seseorang secaran yata.
Seorang
behavioris menganggap bahwa perilaku berbahasa yang efektif merupakan hasil
respons tertentu yang dikuatkan. Respons itu akan menjadi kebiasaan atau
terkondisikan, baik respons yang berupa pemahaman atau respons yang berwujud
ujaran. Seseorang belajar memahami ujaran dengan mereaksi stimulus secara
memadai dan memperoleh penguatan untuk reaksi itu. Salah satu percobaan yang
terkenal untuk membentuk model perilaku berbahasa dari sudut behavioris adalah
yang dikemukakan oleh Skinner (1957)
dalam Verbal Behavior. Percobaan Skiner dikenal dengan percobaannya tentang
perilaku binatang yang terkenal dengan kotak skinner. Teori skinner tentang
perilaku verbal merupakan perluasan teorinya tentang belajar yang disebutnya
operant conditioning. Konsep ini mengacu pada kondisi ketika manusia atau
binatang mengirimkan respons atau operant (ujaran atau sebuah kalimat) tanpa
adanya stimulus yang tampak. Operant itu dipertahankan dengan penguatan.
Misalnya, jika seorang anak kecil mengatakan minta susu dan orang tuanya
memberinya susu, maka operant itu dikuatkan. Dengan perulangan yang terus
menerus operant semacam itu akan terkondisikan.
Menurut
Skinner, perilaku verbal adalah perilaku
yang dikendalikan oleh akibatnya. Bila akibatnya itu hadiah, perilaku itu akan
terus dipertahankan. Kekuatan serta frekuensinya akan terus dikembangkan. Bila
akibatnya hukuman, atau bila kurang adanya penguatan, perilaku itu akan
diperlemah atau pelan-pelan akan disingkirkan. Sebagai contoh dapat kita
saksikan perilaku anak-anak di sekeliling kita. Ada anak kecil menangis meminta
es pada ibunya. Tetapi, karena ibunya yakin dan percaya bahwa es itu
menggunakan pemanis buatan maka sang ibu tidak meluluskan permintaan anaknya.
Sang anak terus menangis. Tetapi sang ibu bersikukuh tidak menuruti
permintaannya. Lama kelamaan tangis anak tersebut akan reda dan lain kali
lain tidak akan minta es semacam itu lagi kepada ibunya, apalagi dengan
menangis. Seandainya anak itu kemudian dituruti keinginannya oleh ibunya, apa yang
terjadi? Pada kesempatan yang lain sang anak akan minta es lagi. Apabila ibunya
tidak meluluskannya maka ia akan menangis dan terus menangis sebab dengan
menangis ia akan mendapatkan es. Kalau ibunya memberi es lagi maka perbuatan
menangis itu dikuatkan. Pada kesempatan lain dia akan menangis manakala ia
meminta sesuatu pada ibunya.
Implikasi teori ini ialah bahwa guru harus
berhati-hati dalam menentukan jenis hadiah dan hukuman. Guru harus mengetahui
benar kesenangan siswanya. Hukuman harus benar-benar sesuatu yang tidak disukai
anak, dan sebaliknya hadiah merupakan hal yang sangat disukai anak. Jangan
sampai anak diberi hadiah menganggapnya sebagai hukuman atau sebaliknya, apa
yang menurut guru adalah hukuman bagi siswa dianggap sebagai hadiah. Contoh,
anak yang suka bermain sepak bola, akan menganggap pemberian waktu untuk
bermain sepak bola adalah hadiah, sebaliknya, melarang untuk sementara waktu
tidak bermain sepakbola adalah hukuman yang menyakitkan.
Beberapa linguis dan ahli psikologi sependapat bahwa
model Skinner tentang perilaku berbahasa dapat diterima secara memadai untuk
kapasitas memperoleh bahasa, untuk perkembangan bahasa itu sendiri, untuk
hakikat bahasa dan teori makna.
Teori yang tak kalah menariknya untuk kita kaji adalah Teori Pembiasaan Klasik dari Pavlov (1848-1936) yang merupakan teori stimulus – respons yang pertama menjadi dasar lahirnya teori-teori Stimulus – Respons yang lainnya.
Teori yang tak kalah menariknya untuk kita kaji adalah Teori Pembiasaan Klasik dari Pavlov (1848-1936) yang merupakan teori stimulus – respons yang pertama menjadi dasar lahirnya teori-teori Stimulus – Respons yang lainnya.
Pavlov
berpendapat bahwa pembelajaran
merupakan rangkaian panjang dari respons-respons yang dibiasakan. Menurut teori
Pembiasaan Klasik ini kemampuan seseorang untuk membentuk respons-respons yang
dibiasakan berhubungan erat dengan jenis sistem yang digunakan. Teori ini
percaya adanya perbedaan-perbedaan yang dibawa sejak lahir dalam kemampuan belajar.
Respons yang dibiasakan (RD) dapat diperkuat dengan ulangan-ulangan teratur dan
intensif. Pavlov tidak percaya dengan pengertian atau pemahaman atau apa yang
disebut insight (kecepatan melihat hubungan-hubungan di dalam pikiran). Jadi
dapat dikatakan bagi Pavlov respons yang dibiasakan adalah unit dasar
pembelajaran yang paling baik.
Teori Pavlov tersebut didukung pula oleh
Thorndike (1874-1919) yang menghasilkan Teori Penghubungan atau dikenal dengan
trial and error. Teori ini didasarkan pada sebuah eksperimen yang tak jauh
berbeda dengan Pavlov. Thorndike menggunakan kucing sebagai sarana
eksperimennya yang berhasil membuka engsel dengan cara dibiasakan dan
dihubung-gubungkan. Dari hasil eksperimen itu, Thorndike berpendapat bahwa pembelajaran merupakan suatu proses
menghubung-hubungkan di dalam sistem saraf dan tidak ada hubungannya dengan
insight atau pengertian. Yang dihubungkan adalah peristiwa-peristiwa fisik dan
mental dalam pembelajaran itu. Yang dimaksud dengan peristiwa fisik adalah segala rangsangan (stimulus) dan gerak balas
(respons). Sedangkan peristiwa mental
adalah segala hal yang dirasakan oleh pikiran (akal). Thorndike menemukan hukum
latihan ( the law of exercise) dan hukum akibat (the law of effect) yang kita
kenal sekarang dengan reinforcement atau penguatan. Contoh dalam kehidupan
sehari-hari adalah ketika belajar naik sepeda atau dalam belajar bahasa adalah
dalam pengucapan kata-kata sulit. Kegagalan yang diulang terus menerus
lama-kelamaan akan berhasil.
Upaya lain untuk mendukung teori Behaviorisme dalam
pemerolehan bahasa dilakukan Osgood
(1953). Dia menjelaskan bahwa proses pemerolehan semantik (makna) didasarkan
pada teori mediasi atau penengah. Menurutnya, makna merupakan hasil proses pembelajaran
dan pengalaman seseorang dan merupakan mediasi untuk melambangkan sesuatu.
Makna sebagai proses mediasi pelambang dan merupakan satu bagian yang
distingtif dari keseluruhan respons terhadap suatu objek yang dibiasakan pada
kata untuk objek itu, atau persepsi untuk objek itu. Osgood telah
memperkenalkan konsep sign (tanda atau isyarat) sehubungan dengan makna Pendapat
para ahli psikologi behaviorisme yang menekankan pada observasi empirik dan
metode ilmiah hanya dapat mulai menjelaskan keajaiban pemerolehan dan belajar
bahasa tapi ranah kajian bahasa yang sangat luas masih tetap tak tersentuh.
2. Teori Nativisme
Berbeda dengan kaum behavioristik, kaum nativistik
atau mentalistik berpendapat bahwa pemerolehan bahasa pada manusia tidak boleh
disamakan dengan proses pengenalan yang terjadi pada hewan. Mereka tidak
memandang penting pengaruh dari lingkungan sekitar. Selama belajar bahasa
pertama sedikit demi sedikit manusia akan membuka kemampuan lingualnya yang
secara genetis telah terprogramkan. Dengan perkataan lain, mereka menganggap
bahwa bahasa merupakan pemberian biologis. Menurut mereka bahasa terlalu
kompleks dan mustahil dapat dipelajari oleh manusia dalam waktu yang relatif
singkat lewat proses peniruan sebagaimana keyakinan kaum behavioristik. Jadi
beberapa aspek penting yang menyangkut sistem bahasa menurut keyakinan mereka
pasti sudah ada dalam diri setiap manusia secara alamiah.
Istilah nativisme dihasilkan dari pernyataan mendasar
bahwa pembelajaran bahasa ditentukan oleh bakat. Bahwa setiap manusia
dilahirkan sudah memiliki bakat untuk memperoleh dan belajar bahasa. Teori
tentang bakat bahasa itu memperoleh dukungan dari berbagai sisi. Eric Lenneberg (1967) membuat proposisi
bahwa bahasa itu merupakan perilaku khusus manusia dan bahwa cara pemahaman
tertentu, pengkategorian kemampuan, dan mekanisme bahasa yang lain yang
berhubungan ditentukan secara biologis. Chomsky
dalam Hadley (1993: 48) yang merupakan tokoh utama golongan ini mengatakan
bahwasannya hanya manusia makhluk Tuhan yang dapat melakukan komunikasi lewat
bahasa verbal. Selain itu bahasa juga sangat kompleks oleh sebab itu tidak
mungkin manusia belajar bahasa dari makhluk Tuhan yang lain. Chomsky juga menyatakan bahwa setiap
anak yang lahir ke dunia telah memiliki bekal dengan apa yang disebutnya “alat
penguasaan bahasa” atau LAD (language Acquisition Device). Chomsky dalam Hadley (1993:50) mengemukakan bahwa belajar bahasa
merupakan kompetensi khusus bukan sekedar subset belajar secara umum. Cara
berbahasa jauh lebih rumit dari sekedar penetapan Stimulus- Respon. Chomsky
dalam Hadley (1993: 48) mengatakan bahwa eksistensi bakat bermanfaat untuk
menjelaskan rahasia penguasaan bahasa pertama anak dalam waktu singkat, karena
adanya LAD. Menurut golongan ini belajar bahasa pada hakikatnya hanyalah proses
pengisian detil kaidah-kaidah atau struktur aturan-aturan bahasa ke dalam LAD
yang sudah tersedia secara alamiah pada manusia tersebut. Salah seorang
penganut golongan ini Mc. Neil (Brown, 1980:22) mendeskripsikan LAD itu terdiri
atas empat bakat bahasa, yakni:
a. Kemampuan untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi yang lain.
a. Kemampuan untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi yang lain.
b. Kemampuan mengorganisasikan peristiwa bahasa ke
dalam variasi yang beragam.
c. Pengetahuan adanya sistem bahasa tertentu yang
mungkin dan sistem yang lain yang tidak mungkin.
d. Kemampuan untuk mengevaluasi sistem perkembangan
bahasa yang membentuk sistem yang mungkin dengan cara yang paling sederhana
dari data kebahasaan yang diperoleh.
Manusia mempunyai bakat untuk terus menerus mengevaluasi
sistem bahasanya dan terus menerus mengadakan revisi untuk pada akhirnya menuju
bentuk yang berterima di lingkungannya. Chomsky
dalam Hadley (1993: 49) mengemukakan bahwa bahasa anak adalah sistem yang
sah dari sistem mereka. Perkembangan bahasa anak bukanlah proses perkembangan
sedikit demi sedikit stuktur yang salah, bukan dari bahasa tahap pertama yang
lebih banyak salahnya ke tahap berikutnya, tetapi bahasa anak pada setiap
tahapan itu sistematik dalam arti anak secara terus menerus membentuk hipotesis
dengan dasar masukan yang diterimanya dan kemudian mengujinya dalam ujarannya
sendiri dan pemahamannya. Selama bahasa anak itu berkembang hipotesis itu terus
direvisi, dibentuk lagi atau kadang-kadang dipertahankan.
3.Teori Kognitivisme
Pada tahun 60-an golongan kognitivistik mencoba
mengusulkan pendekatan baru dalam studi pemerolehan bahasa. Pendekatan tersebut
mereka namakan pendekatan kognitif. Jika pendekatan kaum behavioristik bersifat
empiris maka pendekatan yang dianut golongan kognitivistik lebih bersifat
rasionalis. Konsep sentral dari pendekatan ini yakni kemampuan berbahasa
seseorang berasal dan diperoleh sebagai akibat dari kematangan kognitif sang
anak. Mereka beranggapan bahwa bahasa itu distrukturkan atau dikendalikan oleh
nalar manusia. Oleh sebab itu perkembangan bahasa harus berlandas pada atau
diturunkan dari perkembangan dan perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum
di dalam kognisi manusia. Dengan demikian urutan-urutan perkembangan kognisi
seorang anak akan menentukan urutan-urutan perkembangan bahasa dirinya. Menurut
aliran ini kita belajar disebabkan oleh kemampuan kita menafsirkan peristiwa
atau kejadian yang terjadi di dalam lingkungan. Titik awal teori kognitif
adalah anggapan terhadap kapasitas kognitif anak dalam menemukan struktur dalam
bahasa yang didengar di sekelilingnya. Pemahaman, produksi, komperehensi bahasa
pada anak dipandang sebagai hasil dari proses kognitif anak yang secara terus
menerus berubah dan berkembang. Jadi stimulus
merupakan masukan bagi anak yang berproses dalam otak. Pada otak terjadi
mekanisme mental internal yang diatur oleh pengatur kognitif,kemudian keluar
sebagai hasil pengolahan kognitif tadi.
Konsep
sentral teori kognitif adalah kemampuan
berbahasa anak berasal dari kematangan kognitifnya. Proses belajar bahasa
secara kognitif merupakan proses berpikir yang kompleks karena menyangkut
lapisan bahasa yang terdalam. Lapisan bahasa tersebut meliputi: ingatan,
persepsi, pikiran, makna, dan emosi yang saling berpengaruh pada struktur jiwa
manusia. Bahasa dipandang sebagai manifestasi dari perkembangan aspek kognitif
dan afektif yang menyatakan tentang dunia dan diri manusia itu sendiri. Dapat
dikemukakan bahwa pendekatan kognitif menjelaskan bahwa:
a.dalam belajar bahasa, bagaimana kita berpikir
b.belajar terjadi dan kegiatan mental internal dalam
dirikita
c.belajar bahasa merupakan proses berpikir yang
kompleks.
Laughlin dalam Elizabeth (1993: 54) berpendapat
bahwa dalam belajar bahasa seorang anak perlu proses pengendalian dalam
berinteraksi dengan lingkungan. Pendekatan kognitif dalam belajar bahasa lebih
menekankan pemahaman, proses mental atau pengaturan dalam pemerolehan, dan
memandang anak sebagai seseorang yang berperan aktif dalam proses belajar
bahasa. Selanjutnya menurut Piaget dalam Mansoer Pateda (1990: 67), salah
seorang tokoh golongan ini mengatakan bahwa struktur komplek dari bahasa
bukanlah sesuatu yang diberikan oleh alam dan bukan pula sesuatu yang
dipelajari lewat lingkungan. Struktur tersebut lahir dan berkembang sebagai
akibat interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognitif si anak dan
lingkungan lingualnya.Struktur tersebut telah tersedia secara alamiah.
Perubahan atau perkembangan bahasa pada anak akan bergantung pada sejauh mana
keterlibatan kognitif sang anak secara aktif dengan lingkungannya.
Proses belajar bahasa terjadi menurut pola tahapan perkembangan tertentu sesuai umur. Tahapan tersebut meliputi:
Proses belajar bahasa terjadi menurut pola tahapan perkembangan tertentu sesuai umur. Tahapan tersebut meliputi:
a. Asimilasi: proses penyesuaian pengetahuan baru
dengan struktur kognitif
b. Akomodasi: proses penyesuaian struktur kognitif
dengan pengetahuan baru
c.Disquilibrasi: proses penerimaan pengetahuan baru
yang tidak sama dengan yang telah diketahuinya.
d. Equilibrasi: proses penyeimbang mental setelah
terjadi proses asimilasi.
Menurut
Ausubel dalam Elizabeth (1993: 59)
mengatakan proses belajar bahasa terjadi bila anak mampu mengasimilasikan
pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan baru. Proses itu melalui tahapan memperhatikan
stimulus yang diberikan, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan
informasi yang sudah dipahami.
Selanjutnya menurut
Bruner dalam Mansoer Pateda (1990: 49) mengemukakan bahwa, proses belajar
bahasa lebih ditentukan oleh cara anak mengatur materi bahasa bukan usia anak.
Proses belajar bahasa didapat melalui: enaktif yaitu aktivitas untuk memahami
lingkungan; ikonik yaitu melihat dunia lewat gambar dan visualisasi verbal;
simbolik yaitu memahami gagasan-gagasan abstrak.
4. Teori Fungsional
Dengan munculnya kontruktivisme dalam dunia psikologi,
dalam tahun-tahun terakhir ini menjadi lebih jelas bahwa belajar bahasa
berkembang dengan baik di bawah gagasan kognitif dan struktur ingatan. Para
peneliti bahasa mulai melihat bahwa bahasa merupakan manifestasi kemampuan
kognitif dan efektif untuk menjelajah dunia, untuk berhubungan dengan orang
lain dan juga keperluan terhadap diri sendiri sebagai manusia. Lebih lagi
kaedah generatif yang diusulkan di bawah naungan nativisme itu bersifat abstrak,
formal, eksplisit dan logis, meskipun kaidah itu lebih mengutamakan pada bentuk
bahasa dan tidak pada tataran fungsional yang lebih dari makna yang dibentuk
dari makna yang dibentuk dari interaksi sosial.
a. Interaksi Sosial Kognisi dan perkembangan bahasa
Piaget
menggambarkan penelitian itu sebagai interaksi anak dengan lingkungannya dengan
interaksi komplementer antara perkembangan kapasitas kognitif perseptual dengan
pengalaman bahasa mereka. Penelitian itu berkaitan dengan hubungan antara
perkembangan kognitif dengan pemerolehan bahasa pertama. Slobin menyatakan
bahwa dalam semua bahasa, belajar makna bergantung pada perkembangan kognitif
dan urutan perkembangannya lebih ditentukan oleh kompleksitas makna itu dari
pada kompleksitas bentuknya. Menurut dia ada dua hal yang menentukan
model:
1) Pada asas fungsional, perkembangan diikuti oleh
perkembangan kapasitas komunikatif dan konseptual yang beroperasi dalam
konjungsi dengan skema batin konjungsi.
2) Pada asas formal, perkembangan diikuti oleh kapasitas
perseptual dan pemerosesan informasi yang bekerja dalam konjungsi dan skema
batin tata bahasa.
b. Interaksi Sosial dan Perkembangan Bahasa
Akhir-akhir ini semakin jelas bahwa fungsi bahasa
berkembang dengan baik di luar pikiran kognitif dan struktur memori. Di sini
tampak bahwa kontruktivis sosial menekankan prespektif fungsional. Bahasa pada
hakikatnya digunakan untuk komunikasi interaktif. Oleh sebab itu kajian yang
cocok untuk itu adalah kajian tentang fungsi komunikatif bahasa, fungsi
pragmatik dan komunikatif dikaji dengan segala variabilitasnya.
5. Teori Konstruktvisme
Jean
Piaget dan Leu Vygotski adalah dua nama yang
selalu diasosiasikan dengan kontruktivisme. Ahli kontruktivisme menyatakan
bahwa manusia membentuk versi mereka sendiri terhadap kenyataan, mereka
menggandakan beragam cara untuk mengetahui dan menggambarkan sesuatu untuk
mempelajari pemerolehan bahasa pertama dan kedua.
Pembelajaran harus dibangun secara aktif oleh pembelajar itu sendiri dari pada dijelaskan secara rinci oleh orang lain. Pengetahuan yang diperoleh didapatkan dari pengalaman. Namun demikian, dalam membangun pengalaman siswa harus memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pikirannya, menguji ide-ide tersebut melalui eksperimen dan percakapan atau tanya jawab, serta untuk mengamati dan membandingkan fenomena yang sedang diujikan dengan aspek lain dalam kehidupan mereka. Selain itu juga guru memainkan peranan penting dalam mendorong siswa untuk memperhatikan seluruh proses pembelajaran serta menawarkan berbagai cara eksplorasi dan pendekatan. Siswa dapat benar-benar memahami konsep ilmiah dan sains karena telah mengalaminya. Penjelasan mendetail dari guru belum tentu mencerminkan pemahaman siswa mengerti kata-kata ilmiahnya, tapi tidak memahami konsepnya. Namun jika siswa telah mencobanya sendiri, maka pemahaman yang didapat tidak hanya berupa kata-kata saja, namun berupa konsep. Dalam rangka kerjanya, ahli konstruktif menantang guru-guru untuk menciptakan lingkungan yang inovatif dengan melibatkan guru dan pelajar untuk memikirkan dan mengoreksi pembelajaran. Untuk itu ada dua hal yang harus dipenuhi, yaitu:
Pembelajaran harus dibangun secara aktif oleh pembelajar itu sendiri dari pada dijelaskan secara rinci oleh orang lain. Pengetahuan yang diperoleh didapatkan dari pengalaman. Namun demikian, dalam membangun pengalaman siswa harus memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pikirannya, menguji ide-ide tersebut melalui eksperimen dan percakapan atau tanya jawab, serta untuk mengamati dan membandingkan fenomena yang sedang diujikan dengan aspek lain dalam kehidupan mereka. Selain itu juga guru memainkan peranan penting dalam mendorong siswa untuk memperhatikan seluruh proses pembelajaran serta menawarkan berbagai cara eksplorasi dan pendekatan. Siswa dapat benar-benar memahami konsep ilmiah dan sains karena telah mengalaminya. Penjelasan mendetail dari guru belum tentu mencerminkan pemahaman siswa mengerti kata-kata ilmiahnya, tapi tidak memahami konsepnya. Namun jika siswa telah mencobanya sendiri, maka pemahaman yang didapat tidak hanya berupa kata-kata saja, namun berupa konsep. Dalam rangka kerjanya, ahli konstruktif menantang guru-guru untuk menciptakan lingkungan yang inovatif dengan melibatkan guru dan pelajar untuk memikirkan dan mengoreksi pembelajaran. Untuk itu ada dua hal yang harus dipenuhi, yaitu:
1) Pembelajar harus berperan aktif dalam menyeleksi
dan menetapkan kegiatan sehingga menarik dan memotivasi pelajar,
2) Harus ada guru yang tepat untuk membantu
pelajar-pelajar membuat konsep-konsep, nilai-nilai, skema, dan kemampuan
memecahkan masalah.
6. Teori Humanisme
Teori ini muncul diilhami oleh perkembangan dalam
psikologi yaitu psikologi Humanisme. Sesuai pendapat yang dikemukakan oleh McNeil (1977) “In many instances,
communicative language programmes have incorporated educational phylosophies
based on humanistic psikology or view which in the context of goals for other
subject areas has been called ‘the humanistic curriculum’. Teori humanisme
dalam pengajaran bahasa pernah diimplementasikan dalam sebuah kurikulum
pengajaran bahasa dengan istilah Humanistic curriculum yang diterapkan di
Amerika utara di akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Kurikulum ini
menekankan pada pembagian pengawasan dan tanggungjawab bersama antar seluruh
siswa didik. Humanistic curiculum menekankan pada pola pikir, perasaan dan tingkah
laku siswa dengan menghubungkan materi yang diajarkan pada kebutuhan dasar dan
kebutuhan hidup siswa.Teori ini menganggap bahwa setiap siswa sebagai objek
pembelajaran memiliki alasan yang berbeda dalam mempelajari bahasa. Tujuan
utama dari teori ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa agar bisa
berkembang di tengah masyarakat. The deepest goal or purpose is to develop the
whole persons within a human society. (McNeil,1977) Sementara tujuan
teori humanisme menurut Coombs (1981):
a.Pengajaran disusun berdasarkan kebutuhan-kebutuhan
dan tujuan siswa. program pengajaran diarahkan agar siswa mampu menciptakan
pengalaman sendiri berdasarkan kebutuhannya. hal ini dilakukan untuk
mengembangkan potensi yang mereka miliki.
b. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengaktualisasikan dirinya dan untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya.
b. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengaktualisasikan dirinya dan untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya.
c. Pengajaran disusun untuk memperoleh keterampilan
dasar (akademik, pribadi, antar pribadi, komunikasi, dan ekonomi) berdasarkan
kebutuhan masing-masing siswa.
d.Memilih dan memutuskan aktivitas pengajaran secara
individual dan mampu menerapkannya.
e. Mengenal pentingnya perasaan manusia, nilai, dan
persepsi.
f. Mengembangkan suasana belajar yang menantang dan
bisa dimengerti.
g.Mengembangkan tanggung jawab siswa, mengembangkan
sikap tulus, respek, dan menghargai orang lain, dan terampil dalam
menyelesaikan konflik.
Teori Humanisme dalam pangajaran bahasa banyak
dipengaruhi oleh pemikiran para ahli psikologi humanisme seperti Abraham
maslow, Carl Roger, Fritz Peers dan Erich Berne. Para ahli psikologi tersebut
menciptakan sebuah teori dimana pendidikan berpusat pada siswa (learner
centered-pedagogy). Prakteknya dalam dunia pendidikan yaitu dengan
menggabungkan pengembangan kognitif dan afektif siswa.
Dalam teori humanisme, setiap siswa memiliki tanggung
jawab terhadap pembelajaran mereka masing-masing, mampu mengambil keputusan
sendiri, memilih dan mengusulkan aktivitas yang akan dilakukan mengungkapkan
perasaan dan pendapat mengenai kebutuhan, kemampuan, dan kesenangannya. Dalam
hal ini, guru berperan sebagai fasilitator pengajaran, bukan menyampaikan
pengetahuan. Sementara menurut Fraida Dubin dan Elita Olshtain (1992-76)
pengajaran bahasa menurut teori humanisme, sbb.
1) Sangat
menekankan kepada komunikasi yang bermakna (meaningful communication)
berdasarkan sudut pandang siswa. Teks harus otentik, tugas-tugas harus
kommunikatif, Outcome menyesuaikan dan tidak ditentukan atau ditargetkan
sebelumnya.
2) Pendekatan
ini berfokus pada siswa dengan menghargai existensi setiap individu.
3) Pembelajaran
digambarkan sebagai sebuah penerapan pengalaman individual dimana
siswa memiliki kesempatan berbicara dalam proses pengambilan
keputusan.
4) Siswa lain sebagai kelompok suporter dimana mereka
saling berinteraksi, saling membantu dan saling mengevaluasi satu sama lain.
5) Guru
berperan sebagai fasilitator yang lebih memperhatikan atmosphere kelas
dibanding silabus materi yang digunakan.
6) Materi
berdasarkan kebutuhan-kebutuhan siswa.
7) Bahasa ibu
para siswa dianggap sebagai alat yang sangat membantu jika diperlukan untuk
memahami dan merumuskan hipotesa bahasa yang dipelajari. Carl Rogers
(1902-1987) dianggap sebagai penemu dan panutan dalam perkembangan pendekatan
humanistik dalam pendidikan. Roger (1980) menekankan pada kebutuhan secara
alamiah dari setiap orang untuk belajar. Peran guru adalah sebagai fasilitator
pengajaran.
7. Teori Sibernetik
Istilah sibernetika berasal dari bahasa Yunani
(Cybernetics berarti pilot). Istilah Cybernetics yang diterjemahkan kedalam
bahasa Indonesia menjadi sibernetika, pertama kali digunakan th.1945 oleh
Nobert Wiener dalam bukunya yang berjudul Cybernetics.
Nobert
mendefinisikan Cybernetics sebagai berikut," The study of control and communication in
the animal and the machine." Istilah sibernetika digunakan juga oleh Alan Scrivener (2002) dalam bukunya 'A Curriculum for Cybernetics and Systems
Theory.' Sebagai berikut "Study of systems which can be mapped using loops
(or more complicated looping structures) in the network defining the flow of
information. Systems of automatic control will of necessity use at least
one loop of information flow providing feedback." Artinya studi mengenai
sistem yang bisa dipetakan menggunakan loops (berbagai putaran) atau susunan
sistem putaran yang rumit dalam jaringan yang menjelaskan arus informasi.
Sistem pengontrol secara otomatis akan bermanfaat, satu putaran informasi
minimal akan menghasilkan feedback. Sementara Ludwig Bertalanffy memandang
fungsi sibernetik dalam berkomunikasi. "Cybernetics is a theory of
control systems based on communication (transfer of information) between
systems and environment and within the system, and control (feedback) of the
system's function in regard to environment. Sibernetika adalah teori
sistem pengontrol yang didasarkan pada komunikasi (penyampaian informasi)
antara sistem dan lingkungan dan antar sistem, pengontrol (feedback) dari
sistem berfungsi dengan memperhatikan lingkungan.
Seiring perkembangan teknologi informasi yang
diluncurkan oleh para ilmuwan dari Amerika sejak tahun 1966, penggunaan
komputer sebagai media untuk menyampaikan informasi berkembang pesat. Teknologi
ini juga dimanfaatkan dunia pendidikan terutama guru untuk berkomunikasi sesama
relasi, mencari handout (buku materi ajar), menerangkan materi pelajaran atau
pelatihan, bahkan untuk mengevaluasi hasil belajar siswa. Prinsip dasar teori
sibernetik yaitu menghargai adanya 'perbedaan', bahwa suatu hal akan memiliki
perbedaan dengan yang lainnya, atau bahwa sesuatu akan berubah seiring perkembangan
waktu. Pembelajaran digambarkan sebagai : INPUT => PROSES => OUTPUT
Teori sibernetik diimplementasikan dalam beberapa pendekatan pengajaran (teaching approach) dan metode pembelajaran, yang sudah banyak diterapkan di Indonesia. Misalnya virtual learning, e-learning, dll. Beberapa kelebihan teori sibernetik:
Teori sibernetik diimplementasikan dalam beberapa pendekatan pengajaran (teaching approach) dan metode pembelajaran, yang sudah banyak diterapkan di Indonesia. Misalnya virtual learning, e-learning, dll. Beberapa kelebihan teori sibernetik:
a. Setiap orang bisa memilih model pembelajaran yang
paling sesuai dengan untuk dirinya, dengan mengakses melalui internet
pembelajaran serta modulnya dari berbagai penjuru dunia.
b. Pembelajaran bisa disajikan dengan menarik, interaktif dan komunikatif. Dengan animasi-animasi multimedia dan interferensi audio, siswa tidak akan bosan duduk berjam-jam mempelajari modul yang disajikan.
b. Pembelajaran bisa disajikan dengan menarik, interaktif dan komunikatif. Dengan animasi-animasi multimedia dan interferensi audio, siswa tidak akan bosan duduk berjam-jam mempelajari modul yang disajikan.
c.Menganggap dunia sebagai sebuah 'global village', dimana
masyarakatnya bisa saling mengenal satu sama lain, bisa saling berkomunikai
dengan mudah, dan pembelajaran bisa dilakukan dimana saja tanpa dibatasi ruang
dan waktu, sepanjang sarana pembelajaran mendukung.
d. Buku-buku materi ajar atau sumber pembelajaran lainnya bisa diperoleh secara autentik (sesuai aslinya), cepat dan murah.
d. Buku-buku materi ajar atau sumber pembelajaran lainnya bisa diperoleh secara autentik (sesuai aslinya), cepat dan murah.
e. Ketika bertanya atau merespon pertanyaan guru atau
instruktur, secara psikologis siswa akan lebih berani mengungkapkanya, karena
siswa tidak akan merasa takut salah dan menanggung akibat dari kesalahannya
secara langsung.
C .Pendekatan Pembelajaran Bahasa
Dalam proses belajar mengajar, kita mengenal istilah
pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Istilah-istilah tersebut sering
digunakan dengan pengertian yang sama; artinya, orang menggunakan istilah
pendekatan dengan pengertian yang sama dengan pengertian metode, dan sebaliknya
menggunakan istilah metode dengan pengertian yang sama dengan pendekatan;
demikian pula dengan istilah teknik dan metode. Pendekatan merupakan dasar
teoretis untuk suatu metode. Asumsi tentang bahasa bermacam-macam, antara lain asumsi
yang menganggap bahasa sebagai kebiasaan; ada pula yang menganggap bahasa
sebagai suatu sistem komunikasi yang pada dasarnya dilisankan; dan ada lagi
yang menganggap bahasa sebagai seperangkat kaidah, norma, dan aturan.
Asumsi-asumsi tersebut menimbulkan adanya pendekatan-pendekatan yang berbeda,
yakni:
1.
Pendekatan belajar
berbahasa berarti berusaha membiasakan dan menggunakan bahasa untuk
berkomunikasi.
2.
Pendekatan belajar
berbahasa berarti berusaha untuk memperoleh kemampuan berkomunikasi secara lisan
sehingga berpengaruh pada kemampuan berbicara.
3.
Pendekatan
pembelajaran bahasa yang harus diutamakan ialah pemahaman akan kaidah-kaidah
yang mendasari ujaran, tekanan pembelajaran pada aspek kognitif bahasa, bukan
pada kemampuan menggunakan bahasa.
Pendekatan yang telah lama diterapkan dalam
pembelajaran bahasa antara lain ialah pendekatan tujuan dan pendekatan
struktural. Kemudian menyusul pendekatan-pendekatan yang dipandang lebih sesuai
dengan hakikat dan fungsi bahasa, yakni pendekatan komunikatif.
1. Pendekatan Tujuan, dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan
belajar mengajar, yang harus dipikirkan dan ditetapkan lebih dahulu ialah
tujuan yang hendak dicapai. Jadi, proses belajar mengajar ditentukan oleh
tujuan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan
itu sendiri.Pada bagian terdahulu telah disebutkan bahwa kurikulum
disusun berdasarkan suatu pendekatan. Misalnya, untuk pokok bahasan menulis,
tujuan pembelajaran yang ditetapkan ialah “Siswa mampu membuat karangan/cerita
berdasarkan pengalaman atau informasi dari bacaan”. Dengan berdasar pada
pendekatan tujuan, maka yang penting ialah tercapainya tujuan, yakni siswa
memiliki kemampuan mengarang. Penerapan pendekatan tujuan ini sering dikaitkan
dengan “cara belajar tuntas”.
2. Pendekatan Struktural, merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran
bahasa dimana bahasa harus dipahami sebagai seperangkat kaidah, norma, dan
aturan. Karena itu pembelajaran bahasa harus mengutamakan penguasaan
kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Selain itu, pembelajaran bahasa perlu
dititikberatkan pada pengetahuan tentang ketatabahasaan yang menjadi sangat
penting. Jelas bahwa aspek kognitif bahasa lebih diutamakan. Dengan pedekatan
struktural, siswa akan menjadi cermat dalam menyusun kalimat, karena mereka memahami
kaidah-kaidahnya.
3. Pendekatan
Komunikatif, merupakan
pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa
dalam komunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa.
Karena bahasa memiliki fungsi sebagai sarana untuk berkomunikasi. Littlewood (1981) mengemukakan beberapa
alternatif teknik pembelajaran bahasa.
D. Macam-Macam Metode
pembelajaran
1.Metode Ceramah Metode pembelajaran ceramah adalah
penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar
untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar.
Dengan metode ceramah, guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi
pendengarnya. Metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan
ciri-ciri tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa
informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.
2.Metode Diskusi Metode pembelajaran diskusi adalah
proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling
bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan
masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara mereka. Pembelajaran yang
menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif
dibanding metode ceramah. Metode ini dapat meningkatkan pemahaman anak pada
konsep dan keterampilan memecahkan masalah. Tetapi dalam transformasi
pengetahuan, penggunaan metode diskusi hasilnya lambat dibanding penggunaan
ceramah. Sehingga metode ceramah lebih efektif untuk meningkatkan kuantitas
pengetahuan anak dari pada metode diskusi.
3. Metode Demonstrasi Metode pembelajaran demontrasi merupakan
metode pembelajaran yang sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan. Demonstrasi sebagai metode pembelajaran seorang
guru atau seorang demonstrator (orang luar yang sengaja diminta) atau seorang
siswa memperlihatkan kepada seluruh kelas sesuatu proses.
4. Metode Ceramah Plus Metode Pembelajaran Ceramah Plus adalah
metode pengajaran yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah
yang dikombinasikan dengan metode lainnya. Ada tiga macam metode ceramah plus,
diantaranya yaitu:
a)
Metode ceramah plus
tanya jawab dan tugas
b)
Metode ceramah plus
diskusi dan tugas
c)
Metode ceramah plus
demonstrasi dan latihan (CPDL)
5. Metode Study Tour (Karya
wisata) Metode Study Tour (Karya wisata) adalah metode mengajar dengan mengajak peserta
didik mengunjungi suatu objek guna memperluas pengetahuan dan selanjutnya
peserta didik membuat laporan dan mendiskusikan serta membukukan hasil
kunjungan tersebut dengan didampingi oleh pendidik.
6. Metode Latihan Keterampilan Metode Latihan Keterampilan adalah
suatu metode mengajar dengan memberikan pelatihan keterampilan secara berulang
kepada peserta didik, dan mengajaknya langsung ketempat latihan keterampilan
untuk melihat proses tujuan, fungsi, kegunaan dan manfaat sesuatu (misal:
membuat tas dari mute). Metode latihan keterampilan ini bertujuan membentuk
kebiasaan atau pola yang otomatis pada pesertrta didik.
E. Teknik Pembelajaran Bahasa.
Teknik diartikan sebagai metode atau sistem mengerjakan
sesuatu (KBBI, 2001:1158). Teknik
pembelajaran merupakan cara guru menyampaikan bahan ajar yang telah disusun
(dalam metode), berdasarkan pendekatan yang dianut. Teknik yang digunakan oleh
guru bergantung pada kemampuan guru itu mencari akal atau siasat agar proses
belajar mengajar dapat berjalan lancer dan berhasil dengan baik. Untuk metode
yang sama dapat digunakan teknik pembelajaran yanmg berbeda-beda bergantung
pada situasi kelas, lingkungan dan sifat-sifat siswa serta kondisi yang lain.
Teknik pembelajaran ditentukan berdasar pada metode yang digunakan, dan metode disusun
berdasarkan pendekatan yang dianut. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, teknik
ini mengacu pada implementasi perencanaan pembelajaraan Bahasa Indonesia di
depan kelas. Teknik bersifat prosedural. Teknik yang baik dijabarkan metode dan
serasi dengan pendekatan.
Berikut
sejumlah teknik dalam pembelajaran bahasa Indonesia:
1.
Teknik Ceramah,
pelaksanaan teknik ceramah dikelas rendah dapat berbentuk cerita kenyataan,
dongeng atau informasi tentang ilmu pengetahuan.
2.
Teknik Tanya Jawab,
teknik tanya jawab dapat diterapkan pada latihan keterampilan menyimak,
membaca, berbicara dan menulis. Selain guru bertanya pada murid, murid juga
dapat bertanya pada guru.
3.
Teknik Diskusi
Kelompok, teknik ini dapat dilakukan di kelas rendah dengan bimbingan guru.
Peran guru terutama dalam pemilihan bahan diskusi, pemilihan ketua kelompok dan
memotivasi siswa lainnya agar mau berbicara atau bertanya.
4.
Teknik Pemberian
Tugas, teknik ini bertujuan agar siswa lebih aktif dalam mendalami pelajaran
dan memiliki keterampilan tertentu, untuk siswa kelas rendah tugas individual
dapat dilakukan dengan cara membuat catatan kegiatan harian atau disuruh
menghafal puisi atau lagu.
5.
Teknik Bermain Peran,
teknik ini bertujuan agar siswa menghayati kejadian atau peran seseorang dalam
hubungan sosialnya. Dalam bermain peran siswa dapat mencoba menempatkan diri
sebagai tokoh atau pribadi tertentu, misal: sebagai guru, sopir, dokter,
pedagang, hewan, dan tumbuhan. Setelah itu diharapkan siswa dapat menghargai
jasa dan peranan orang lain, alam dalam kehidupannya.
6.
Teknik Karya Wisata,
teknik ini dilaksanakan dengan cara membawa langsung siswa kepada obyek yang
berkaitan dengan materi pembelajaran. Misalkan : museum, kebun binatang, tempat
pameran atau tempat karya wisata lainnya.
7.
Teknik Sinektik, strategi
pengajaran sinektik merupakan susatu strategi untuk menjadikan suatau
masyarakat intelektual yang menyediakan berbagai siswa untuk bertindak kreatif
dan menjelajahi gagasan-gagasan baru dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan alam,
teknologi, bahasa dan seni.
BAB.
IV
METODE
DALAM BELAJAR BAHASA KEDUA
A. Pengertian Metode
Metode
berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang
ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara
kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.
Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia (2001:740), metode
didefinisikan sebagai cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu
pekerjaan agar tercapai sesuai yang dikehendaki. Selain itu metode juda
didefinisikan sebagai cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan
suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
Adapun pengertian dan
definisi metode menurut para ahli antara lain :
1.Rothwell & Kazanas : Metode adalah cara, pendekatan, atau
proses untuk menyampaikan informasi.
2.Titus : Metode adalah rangkaian cara dan langkah yang tertib dan
terpola untuk menegaskan bidang keilmuan.
3. Macquarie Metode adalah suatu cara melakukan sesuatu, terutama yang
berkenaan dengan rencana tertentu.
4. Wiradi : Metode adalah seperangkat langkah (apa yang harus
dikerjakan) yang tersusun secara sistematis (urutannya logis).
5.Almadk (1939) : Metode adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis
terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.
6. Ostle (1975): Metode adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk
memperoleh sesuatu interelasi.
7. Drs. Agus M. Hardjana ;Metode adalah cara yang sudah dipikirkan
masak-masak dan dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah tertentu guna
mencapai tujuan yang hendak dicapai.
9. Hebert Bisno (1969) : Metode adalah teknik-teknik yg
digeneralisasikan dgn baik agar dapat diterima atau digunakan secara sama dalam
satu disiplin, praktek, atau bidang disiplin dan praktek.
10.Max Siporin (1975) : Metode adalah sebuah orientasi aktifitas yg
mengarah kepada persyaratan tugas-tugas dan tujuan-tujuan nyata.
11.Rosdy Ruslan (2003:24) : Metode merupakan kegiatan ilmiah yang
berkaitan dengan suatu cara kerja (sistematis) untuk memahami suatu subjek atau
objek penelitian, sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan termasuk keabsahannya.
12.Nasir (1988:51) : Metode adalah cara yang digunakan untuk memahami
sebuah objek sebagai bahan ilmu yang bersangkutan.
B. Metode Dalam Belajar Bahasa
Kedua
Pengertian Bahasa Kedua
1.
Menurut
Chaer dan Agustina
Pemerolehan
bahasa kedua adalah rentang bertahap yang dimulai dari menguasai bahasa pertama
(B1) ditambah sedikit mengetahui bahasa kedua (B2), lalu penguasaan B2 meningkat
secara bertahap, sampai akhirnya penguasaan B2 sama baiknya dengan B1.
2. Kholid
A. Harras Bahasa kedua adalah bahasa yang diperoleh anak setelah mereka
memperoleh bahasa pertama.
3.
Henry Guntur Tarigan Pemerolehan bahasa kedua diartikan
dengan mengajar dan belajar bahasa asing dan atau bahasa kedua lainnya.
4.
Menurut Dardjowidjojo Pemerolehan bahasa kedua diperoleh
melalui proses orang dewasa yang belajar di kelas adalah pembelajaran secara formal di perbandingkan dengan bahasa
permata secara alamiah.
5. Wikipedia
Pemerolehan bahasa kedua adalah proses
seseorang belajar bahasa kedua disamping bahasa ibu, mereka mengacu pada aspek
sadar dan bawah sadar dari masing-masing proses.
Bahasa
kedua atau B2 biasanya mengacu pada semua bahasa yang dipelajari setelah bahasa
ibu mereka, yang juga disebut bahasa pertama, B1. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, metode
diartikan sebagai sistem perencanaan pembelajaran Bahasa Indonesia secara
menyeluruh untuk memilih, mengorganisasikan, dan menyajikan materi pelajaran
Bahasa Indonesia secara teratur. Metode bersifat prosedural.
Artinya, penerapan Pembelajaran Bahasa Indonesia harus dikerjakan menurut
langkah-langkah yang teratur, bertahap yakni mulai perencanaan pembelajaran,
penyajian sampai dengan penilaian dan hasil pembelajaran.
Beberapa
ciri metode yang baik, yaitu:
1)
Mengundang rasa ingin tahu siswa.
2)
Menantang siswa untuk belajar.
3)
Mengaktifkan mental, fisik, dan psikis
siswa.
4)
Memudahkan guru.
5)
Mengembangkan kreativitas siswa.
6)
Mengembangkan pemahaman siswa terhadap
materi yang dipelajari.
Beberapa faktor yang
berpengaruh terhadap metode pembelajaran Bahasa Indonesia, antara lain sebagai
berikut:
1)
Persamaan dan perbedaan antara sistem
bahasa pertama siswa dengan bahasa kedua yang mereka pelajari.
2)
Usia siswa pada saat mereka belajar
bahasa.
3)
Latar belakang sosial budaya siswa.
4)
Pengalaman, pengetahuan, dan
keterampilan berbahasa siswa dalam bahasa yang dipelajarinya yang sudah mereka
punyai.
5)
Pengetahuan dan keterampilan berbahasa
guru dalam bahasa yang akan dipelajarinya.
6)
Kedudukan dan fungsi bahasa yang dipelajari
siswa dalam masyarakat tempat di mana mereka berada.
7)
Tujuan pembelajaran yang diinginkan.
8)
Alokasi waktu yang tersedia untuk
kegiatan pembelajaran.
Ciri-ciri bahasa kedua
Proses penguasaan Bahasa Kedua mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:
1. Proses belajar bahasa secara
sengaja.
2.
Berlangsung
setalah terdidik berada di sekolah.
3.
Lingkungan
sekolah sangat menentukan.
4.
Motivasi
si terdidik tidak sekuat saat memppelajari bahasa pertama.
5.
Waktunya
terbatas.
6.
Si
terdidik tidak mempunyai bnyak waktu untuk mempraktekkan bahasa yang
dipelajari.
7.
Bahasa
pertama mempengaruhi proses belajar bahasa kedua.
8. Umur kritis mempelajari bahasa kedua
kadang-kadang telah lewat, sehingga proses belajar bahasa kedua berlangsung
lama, dan disediakan alat bantu belajar.
Strategi kemampuan bahasa kedua :
a. Strategi langsung adalah strategi yang melibatkan secara langsung sasaran
bahasa terhadap pembelajar. Semua strategi langsung memerlukan proses mental,
tetapi proses dan tujuannya berbeda-beda. Strategi langsung ini dugunakan oleh
pembelajar untuk mengatasi masalah kebahasaannya melalui sentuhan langsung
dengan materi kebahasaan yang ada.
b. Strategi secara tidak langsung adalah strategi untuk pengaturan
belajar bahasa secara umum. Jika strategi secara langsung memiliki hubungan
langsung dengan pemecahan problema kebahasaan, strategi tak langsung tidak. Ibarat peran direktur permainan, strategi tak
langsung memerankan berbagai fungsi sebagai tuan rumah: menfokuskan,
mengorganisasi, menimbang, mengecek, mengoreksi, menumbuhkan percaya diri, dan
menghibur para pelaku, demikian pula menyakinkan agar para aktor
(strategi langsung) dapat bekerja sama dengan para aktor lain dalam dalam
permainan (penyelesaian tugas Bahasa Kedua).
C. METODE TRADISIONAL
1.Pengertian Metode Tradisional
Pendekatan tradisional adalah istilah
yang dipergunakan untuk mengacu pada penyelenggaraan (baca: perencanaan dan
pelaksanaan) tes bahasa yang cenderung mengadopsi prinsip bahwa tes
bahasa dititikberatkan pada tes tatabahasa dan terjemahan. Metode
ini, seperti yang dikemukakan oleh Richards dan Rogers (1988:3-4), memiliki
prinsip-prinsip pengajaran antara lain:
(a) mempelajari bahasa asing adalah
mempelajari bahasa dengan tujuan agar dapat membaca
kesusasteraannya,
(b) membaca dan menulis adalah fokus utama
pengajaran,
(c) ketepatan dalam penerjemahan sangat ditekankan,
dan
(d) tatabahasa harus diajarkan secara deduktif,
yakni beranjak dari kaidah-kaidah lalu menuju pada contoh-contoh ilustrasinya.
Metode Tradisional dalam pembelajaran ilmu adalah sebuah
metode melalui pengijazahan ilmu yang dimana seorang murid melakukan petunjuk
dari sang guru untuk mendapatkan suatu keilmuan tertentu. Ada sebuah pendapat
pengijazahan adalah sebuah pentransferan keyakinan dan energi dari sang guru
kepada murid (tanpa mengurangi energi dari sang guru, justru energi sang guru
semakin bertambah). Pembelajaran melalui
metode pengijazahan dari dulu sampai sekarang masih banyak yang menganutnya
karena memang metode pengijazahan adalah metode yang mudah dan praktis untuk
mendapatkan sebuah ilmu (kemampuan tertentu).
1.1Metode
Tradisional TGT
1.1.1.Gambaran Mengenai Team Games Tournament (TGT)
Model
pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) adalah salah satu tipe atau model
pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh
siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor
sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar
dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model Teams Games
Tournament (TGT) memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan
tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan
belajar.
Teams games tournament (TGT) pada
mulanya dikembangkan oleh Davied Devries dan Keith Edward, ini merupakan metode
pembelajaran pertama dari Johns Hopkins. Dalam model ini kelas terbagi dalam
kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 3 sampai dengan 5 siswa yang
berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya,
kemudian siswa akan bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecilnya.
Pembelajaran
dalam Teams games tournament (TGT) hampir sama seperti STAD dalam setiap hal
kecuali satu, sebagai ganti kuis dan sistem skor perbaikan individu, TGT
menggunakan turnamen permainan akademik. Dalam turnamen itu siswa bertanding
mewakili timnya dengan anggota tim lain yang setara dalam kinerja akademik
mereka yang lalu. Nur dan Wikandari (2000) menjelaskan bahwa Teams games
tournament (TGT) telah digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran, dan
paling cocok digunakan untuk mengajar tujuan pembelajaran yang dirumuskan
dengan tajam dengan satu jawaban benar, seperti perhitungan dan penerapan
berciri matematika, dan fakta-fakta serta konsep ilmu pengetahuan alam.
Pendekatan Kelompok Kecil dalam
Teams Games Tournament
Pendekatan
yang digunakan dalam Teams games tournament adalah pendekatan secara kelompok
yaitu dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dalam pembelajaran. Pembentukan
kelompok kecil akan membuat siswa semakin aktif dalam pembelajaran. Ciri dari pendekatan secara berkelompok dapat
ditinjau dari segi.
1.
Tujuan
Pengajaran dalam Kelompok Kecil
Tujuan
pembelajaran dalam kelompok kecil yaitu; (a) member kesempatan kepada siswa
untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional, (b)
mengembangkan sikap social dan semangat bergotong royong (c) mendinamisasikan
kegiatan kelompok dalam belajar sehingga setiap kelompok merasa memiliki
tanggung jawab, dan (d) mengembangkan kemampuan kepemimpinan dalam kelompok
tersebut (Dimyati dan Mundjiono, 2006).
2.
Siswa
dalam Pembelajaran Kelompok Kecil
Agar
kelompok kecil dapat berperan konstruktif dan produktif dalam
pembelajaran diharapkan; (a) anggota kelompok sadar diri menjadi anggota
kelompok, (b) siswa sebagai anggota kelompok memiliki rasa tanggung jawab, (c)
setiap anggota kelompok membina hubungan yang baik dan mendorong timbulnya
semangat tim, dan (d) kelompok mewujudkan suatu kerja yang kompak (Dimyati dan
Mundjiono, 2006).
3.
Guru
dalam Pembelajaran Kelompok
Peranan
guru dalam pembelajaran kelompok yaitu; (a) pembentukan kelompok (c)
perencanaan tugas kelompok, (d) pelaksanaan, dan (d) evalusi hasil belajar
kelompok.
Komponen dan Pelaksanaan Team Game
Tournament dalam Pembelajaran
Ada lima komponen utama dalam TGT,
yaitu:
1)
Penyajian
kelas
Pada
awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya
dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin
guru. Pada saat penyajian kelas ini , siswa harus benar-benar memperhatikan dan
memahami materi yang diberikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih
baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan
menentukan skor kelompok.
2)
Kelompok ( team )
Kelompok
biasanya terdiri atas empat sampai dengan lima orang siswa. Fungsi kelompok
adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus
untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada
saat game.
3)
Game
Game
terdiri atas pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan
yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game
terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu
bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa
yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapatkan skor.
4)
Turnamen
Untuk
memulai turnamen masing-masing peserta mengambil nomor undian. Siswa yang
mendapatkan nomor terbesar sebagai reader 1, terbesar kedua
sebagai chalennger 1, terbesar ketiga sebagai chalenger
2, terbesar keempat sebagai chalenger 3. Dan
kalau jumlah peserta dalam kelompok itu lima orang maka yang mendapatkan nomor
terendah sebagai reader2. Reader 1 tugasnya membaca soal dan
menjawab soal pada kesempatan yang pertama. Chalenger 1 tugasnya menjawab soal
yang dibacakan oleh reader1 apabila menurut chalenger 1 jawaban reader 1 salah.Chalenger
2 tugasnya adalah menjawab soal yang dibacakan oleh reader 1 tadi apabila
jawaban reader 1 dan chalenger 1 menurut chalenger 2 salah. Chalenger 3
tugasnya adalah menjawab soal yang dibacakan oleh reader 1 apabila jawaban reader1,
chalenger 1, chalenger 2 menurut chalenger 3 salah. Reader 2 tugasnya adalah
membacakan kunci jawaban .
Permainan
dilanjutkan pada soal nomor dua. Posisi peserta berubah searah jarum jam. Yang
tadi menjadi chalenger 1 sekarang menjadi reader1, chalenger 2 menjadi
chalenger 1, chalenger3 menjadi chalenger 2, reader 2 menjadi chalenger 3 dan
reader 1 menjadi reader2. Hal itu terus dilakukan sebanyak jumlah soal yang
disediakan guru.
5)
Penghargaan
kelompok (team recognise)
Guru
kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat
sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang
ditentukan.
Kriteria ( Rerata Kelompok )
|
Predikat
|
≥ 45
|
Super Team
|
40 – 45
|
Great Team
|
30 – 40
|
Good Team
|
Implementasi Model Pembelajaran TGT
Dalam pengimplementasian yang hal
yang harus diperhatikan yaitu ;
a.
Pembelajaran
terpusat pada siswa.
b.
Proses
pembelajaran dengan suasana berkompetisi.
c.
Pembelajaran
bersifat aktif ( siswa berlomba untuk dapat menyelesaikan persoalan).
d.
Pembelajaran
diterapkan dengan mengelompokkan siswa menjadi tim-tim.
e.
Dalam
kompetisi diterapkan system point
f.
Dalam
kompetisi disesuaikan dengan kemampuan siswa atau dikenal kesetaraan dalam
kinerja akademik.
g.
Kemajuan
kelompok dapak diikuti oleh seluruh kelas melalui jurnal kelas yang diterbitkan
secara mingguan.
h.
Dalam
pemberian bimbingan guru mengacu pada jurnal.
i.
Adanya
system penghargaan bagi siswa yang memperoleh point banyak
Kelemahan
dan Kelebihan Model Pembelajaran TGT
Slavin (2008), melaporkan beberapa
laporan hasil riset tentang pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap
pencapaian belajar siswa yang secara inplisit mengemukakan keunggulan dan
kelemahan pembelajaran TGT, sebagai berikut:
§ Para siswa di dalam kelas-kelas yang
menggunakan TGT memperoleh teman yang secara signifikan lebih banyak dari
kelompok rasial mereka dari pada siswa yang ada dalam kelas tradisional.
§ Meningkatkan perasaan/persepsi siswa
bahwa hasil yang mereka peroleh tergantung dari kinerja dan bukannya pada
keberuntungan.
§ TGT meningkatkan harga diri sosial
pada siswa tetapi tidak untuk rasa harga diri akademik mereka.
§ TGT meningkatkan kekooperatifan
terhadap yang lain (kerja sama verbal dan nonberbal, kompetisi yang lebih
sedikit).
§ Keterlibatan siswa lebih tinggi
dalam belajar bersama, tetapi menggunakan waktu yang lebih banyak.
§ TGT meningkatkan kehadiran siswa di
sekolah pada remaja-remaja dengan gangguan emosional, lebih sedikit yang
menerima skors atau perlakuan lain.
Sebuah
catatan yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran TGT adalah bahwa
nilai kelompok tidaklah mencerminkan nilai individual siswa. Dengan demikian,
guru harus merancang alat penilaian khusus untuk mengevaluasi tingkat
pencapaian belajar siswa secara individual.
Kelebihan
dan Kelemahan Pembelajaran TGT Metode pembelajaran kooperatif Team Games
Tournament (TGT) ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Menurut Suarjana
(2000:10) dalam Istiqomah (2006), yang merupakan kelebihan dari pembelajaran
TGT antara lain:
1.
Lebih
meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas.
2.
Mengedepankan
penerimaan terhadap perbedaan individu.
3.
Dengan
waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara mendalam.
4.
Proses
belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan dari siswa.
5.
Mendidik
siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain.
6.
Motivasi
belajar lebih tinggi.
7.
Hasil
belajar lebih baik.
8.
Meningkatkan
kebaikan budi, kepekaan dan toleransi.
Sedangkan kelemahan TGT adalah:
1)
Bagi
Guru
Sulitnya
pengelompokan siswa yang mempunyai kemampuan heterogen dari segi akademis.
Kelemahan ini akan dapat diatasi jika guru yang bertindak sebagai pemegang
kendali teliti dalam menentukan pembagian kelompok waktu yang dihabiskan untuk
diskusi oleh siswa cukup banyak sehingga melewati waktu yang sudah ditetapkan.
Kesulitan ini dapat diatasi jika guru mampu menguasai kelas secara menyeluruh.
2)
Bagi
Siswa
Masih
adanya siswa berkemampuan tinggi kurang terbiasa dan sulit memberikan
penjelasan kepada siswa lainnya. Untuk mengatasi kelemahan ini, tugas guru
adalah membimbing dengan baik siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi
agar dapat dan mampu menularkan pengetahuannya kepada siswa yang lain.
Dari
pembahasan materi model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) tersebut,
maka dapat disimpulkan
1. Dengan model pembelajaran TGT (
Teams Games Tournaments ) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.
Karena siswa dapat belajar lebih rileks, serta dapat menumbuhkan tanggung
jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
2. Dengan model pembelajaran TGT (
Teams Games Tournaments ) dapat menambah wawasan tentang berbagai model
pembelajaran serta dapat meningkatkan kompetensi guru.
1.2.Metode
Tradisional Natural
a.
Metode Alami (Natural
Method)
Metode alami (Natural
Method) disebut demikian karena dalam proses belajar, siswa dibawa ke
alam seperti halnya pelajaran bahasa ibu sendiri. Dalam pelaksanaannya, metode
ini tidak jauh berbeda dengan metode langsung (direct) dimana
guru menyajikan materi pelajaran langsung dalam bahasa asing tanpa
diterjemahkan sedikitpun, kecuali dalam hal-hal tertentu dimana kamus dan
bahasa anak didik digunakan.
Ciri-ciri metode ini antara lain:
1. Pelajaran mula-mula diberikan
melalui menyimak/mendengarkan kemudian percakapan, membaca menulis dan terakhir
gramatika.
2. Pelajaran disajikan mula-mula
memperkenalkan kata-kata yang sederhana yang telah diketahui anak didik,
kemudian mempraktekkan benda-benda.
3. Alat peraga dan kamus yang dapat
digunakan sewaktu-waktu saat diperlukan.
4. Kemampuan dan kelancaran membaca dan
bercakap-cakap sangat diutamakan dalam metode ini maka pelajaran gramatikal
(tata bahasa) kurang diperhatikan.
Keunggulan metode alami antara lain:
1. Setiap individu siswa dibawa ke
dalam suasana lingkungan sesungguhnya untuk aktif mendengarkan dan menggunakan
percakapan dalam bahasa asing.
2. Pengajaran membaca dan
bercakap-cakap dalam bahasa asing sangat diutamakan, sedangkan pelajaran
gramatikal diajarkan sewaktu-waktu saja.
3. Pengajaran menjadi bermakna dan
mudah diserap siswa, karena setiap kata dan kalimat yang diajarkan memiliki
konteks (hubungan) dengan dunia (kehidupan sehari-hari) siswa atau anak didik.
Kelemahan metode alami antara lain:
1. Siswa merasa kesulitan belajar
apabila belum memiliki bekal dasar bahasa asing terutama pada tingkat-tingkat
pemula.
2. Anak didik dan guru bersikap
tradisional mengutamakan gramatika lebih dahulu daripada membaca dan percakapa,
sesuatu hal yang salah secara ilmiah yang amat perlu diubah.
3. Kurangnya macam-macam media atau
alat peraga yang diperlukan dalam pengajaran bahasa asing di sekolah-sekolah.
4. Guru yang kurang memiliki kemampuan
dan pengalaman praktis dalam berbahasa asing merupakan faktor sulitnya
diterapkan dan berhasil secara baik metode tersebut.
1.3 Metode Tradisional Langsung
a. Metode Langsung (Direct
Method)
Metode ini muncul pada abad ke 19
dan berkembang pada abad ke 20. Karena metode ini mempunyai pemikiran baru
sehingga berlawanan dengan metode qowa’id dan terjemah yang digunakan oleh para
pemula dalam belajar bahasa. Metode ini tidak puas terhadap pengajaran
bahasa dengan Metode Tata Bahasa Terjemah, diantaranya karena menggunakan
bahasa siswa sebagai bahasa pengantar. Disamping itu, bertambahnya jumlah
masyarakat Eropa dari berbagai negara yang menjalin komunikasi antar mereka
sendiri menyebabkan mereka merasakan adanya kebutuhan yang mendesak untuk
menguasai sebuah bahasa yang bisa menjadi lingua franca secara
aktif dan produktif.
Metode
langsung adalah
suatu cara menyajikan suatu materi pelajaran bahasa asing dimana guru langsung
menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa
menggunakan bahasa anak didik sedikitpun dalam mengajar. Metode yang melihat
bahasa sebagai apa yang diucapkan oleh penutur asli bahasa itu. Sehingga, para
pelajar bahasa tidak hanya mempelajari bahasa sasaran tetapi juga mempelajari
budaya dari penutur asli. Asumsi metode ini adalah proses belajar bahasa asing adalah
sama dengan belajar bahasa ibu. Pelajar bahasa asing harus dibiasakan untuk
berpikir dalam bahasa target, dan untuk mencapai kemampuan itu penggunaan
bahasa ibu harus dihindarkan sepenuhnya. Metode ini berpijak dari
pemahaman. Pengajaran bahasa asing tidak sama halnya dengan mengajar ilmu
pasti atau ilmu alam. Jika mengajar ilmu pasti, siswa dituntut agar dapat
menghapal rumus-rumus tertentu, berpikir dan megingat.
Dalam pengajaran bahasa, siswa
dilatih praktek langsung mengucapkan kata-kata atau kalimat tertentu. Sekalipun
kata-kata atau kalimat tersebut mula-mula masih asing dan tidak dipahami anak
didik, namun sedikit demi sedikit kata-kata dan kalimat-kalimat itu akan dapat
diucapkan dan dapat pula mengartikannya. Pada prinsipnya metode langsung ini
sangat utama dalam mengajar bahasa asing, karena melalui metode ini siswa
dapat langsung melatih kemahiran lidah tanpa menggunakan bahasa ibu (bahasa
lingkungannya). Meskipun pada mulanya terlihat sulit anak didik untuk
menirukannya, tapi metode ini menarik bagi anak didik.
Tujuan metode ini adalah adanya
hubungan langsung dengan penutur asli secara alamiyah, menjadikan pelajar
berkemauan keras untuk belajar bahasa asing dengan cepat tanpa tergantung
terjemah kedalam bahasa ibu, mengutamakan bagaiamana cara mengucapkan dan
mengakhirkan belajar menulis dilihat dari kemampuan berbahasa ada empat dimana
dalam pemerolehannya secara bertahap serupa dengan bagaimana balita yang
pertama kali belajar bahasa ibu, dimulai dengan memahami apa yang didengar
secara bertahap, diikuti dengan berbicara, membaca kemudian menulis, siswa
menggunakan bahasa asing sejak ia belajar bahasa itu, lebih mengutamakan
kelancaran berbahasa.
Ciri-ciri metode ini antara lain:
1. Materi pelajaran pertama-tama
diberikan kata demi kata, kemudian struktur kalimat.
2. Gramatika diajarkan hanya bersifat
sambil lalu, siswa tidak dituntut menghapal rumus gramatika, tapi yang utama
adalah siswa mampu mengucapkan bahasa asing secara baik.
3. Senantiasa menggunakan alat bantu
(peraga) atau peragaan mealui simbol-simbol atau gerakan-gerakan tertentu.
4. Setelah masuk kelas, anak didik
benar-benar dikondisikan untuk menerima dan bercakap-cakap dalam bahasa asing
dan dilarang menggunakan bahasa lain.
Peranan Guru, Siswa dan Bahan Ajar
Peranan guru adalah sebagai pengawas
kegiatan siswa, pelaksana rancangan belajar, memulai dan mengakhiri belajar
sesuai aturan yang ada pada buku pegangan, seperti mitra dalam pembelajaran dan
juga sebagai fasilitator yakni menunjukkan kepada siswa apa kesalahan yang
mereka perbuat dan bagaimana cara mengkoreksi kesalahan itu.
Peranan
siswa terbatas. Inisiasi interaksi pembelajaran berasal dari kedua belah pihak,
dari guru kepada siswa dan sebaliknya, meskipun inisiasi dari siswa sering
berada dalam pengawasan guru. Para siswa juga berbicara antara satu dengan yang
lain. Peranan bahan ajar adalah sebagai alat untuk mempermudah
menjelaskan kata-kata yang sulit dimengerti oleh siswa, guru dapat menggunakan
alat peraga, menggambarkan, dan lain-lain.
Keunggulan metode langsung antara
lain:
1. Siswa terampil menyimak dan
berbicara karena mereka mendapat banyak latihan dalam bercakap-cakap, khususnya
mengenai topik-topik yang sudah dilatih dalam kelas.
2. Siswa mengusai pelafalan dengan baik
seperti atau mendekati penutur asli.
3. Siswa mengetahui banyak kosa kata
dan pemakaiannya dalam kalimat.
4. Siswa memiliki keberanian dan
spontanitas dalam berkomunikasi karena sejak awal telah dilatih untuk
berpikir dalam bahasa target sehingga tidak terhambat oleh proses penerjemahan.
5. Siswa menguasai tata bahasa secara
fungsional tidak sekedar teoritis, artinya berfungsi untuk mengkontrol
kebenaran ujarannya.
6. Siswa termotivasi untuk dapat
menyebutkan dan mengerti kata-kata kalimat dalam bahasa asing yang diajarkan
oleh gurunya, apalagi guru menggunakan alat peraga dan macam-macam media yang
menyenangkan.
7. Metode ini biasanya guru mula-mula
mengajarkan kata-kata dan kalimat-kalimat sederhana yang dapat dimengerti dan
diketahui oleh siswa dalam bahasa sehari-hari misalnya (pena, pensil, bangku,
meja, dan lain-lain), maka siswa dapat dengan mudah menangkap simbol-simbol
bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya.
8. Metode ini relatif banyak
menggunakan berbagai macam alat peraga apakah video, film, radio, kaset, tape
recorder, dan berbagai media atau alat peraga yang dibuat sendiri, maka metode
ini menarik minat siswa, karena sudah merasa senang atau tertarik, maka
pelajaran terasa tidak sulit.
9. Siswa memperoleh pengalaman langsung
dan praktis, sekalipun mula-mula kalimat yang diucapkan itu belum dimengerti
dan dipahami sepenuhnya.
10. Alat ucap atau lidah siswa atau anak
didik menjadi terlatih dan jika menerima ucapan-ucapan yang semula sering
terdengar dan terucapkan.
Kelemahan
metode langsung antara lain:
1. Kemampuan pelajar dalam membaca
untuk pemahaman lemah, karena materi dan latihan yang disediakan lebih
menekankan pada keterampilan berbahasa lisan.
2. Menuntut para guru yang ideal dari
segi keterampilan berbahasa (mempunyai kelancaran berbicara seperti atau
mendekati penutur asli) dan kelincahan dalam penyajian pelajaran.
3. Mempunyai prinsip-prinsip yang lebih
tepat untuk digunakan dalam kelas kecil yang jumlah pelajarnya tidak banyak
(kurang dari 20 siswa).
4. Terbuangnya waktu untuk menjelaskan
makna satu kata abstrak.
5. Terlalu membesar-besarkan persamaan
antara pemerolehan bahasa pertama dan kedua.
6.
Pengajaran
dapat menjadi pasif, jika guru tidak dapat memotivasi siswa, bahkan mungkin
siswa merasa jenuh dan merasa dongkol karena kata-kata dan kalimat yang
dituturkan gurunya itu tidak dapat dimengerti, karena memang guru hanya
menggunakan bahasa asing tanpa diterjemahkan ke dalam bahasa anak.
7.
Pada
tingkat-tingkat permulaan kelihatannya metode ini terasa sulit diterapkan,
karena siswa belum memiliki bahan (perbendaharaan kata) yang sudah dimengerti.
8. Meskipun pada dasarnya metode ini
guru tidak boleh menggunakan bahasa sehari-hari dalam menyampaikan bahan
pelajaran bahasa asing, tapi pada kenyataannya tidak selalu konsisten demikian,
guru terpaksa misalnya menterjemahkan kata-kata sulit bahasa asing itu ke dalam
bahasa anak didik.
A. Pengertian Metode Pengajaran
Bahasa
Metode
pengajaran adalah pola-pola tindakan pembelajaran yang
dirancang untuk mendapatkan hasil
pembelajaran tertentu. Tiap-tiap metode pengajaran menggunakan asumsi tertentu
tentang sifat bahasa, proses belajar, peran guru dan peran pembelajar, serta
jenis-jenis kegiatan pembelajaran dan meteri pengajaran (Ghazali, 2010:91).
Metodologi pengajaran, menurut Richard
(dikutip Ghazali, 2010:92), mencakup: kegiatan, tugas dan pengalaman
belajar yang digunakan oleh guru dalam proses pengajaran dan pembelajaran.
Metodologi pengajaran bukanlah sederet prinsip atau prosedur pengajaran yang
baku atau pasti, melainkan sebuah proses yang dinamis dan kreatif yang
mencerminkan asumsi tertentu tentang bahasa (bagaimana kita dapat menggambarkan
atau berbicara tentang bahasa?), tentang profisiensi (apa yang dimaksud dengan
menguasai bahasa?), dan pembelajaran (bagaimana mengajarkan bahasa?).
D. Metode Offbit
1. Silent Way
Metode Cara
Diam atau The Silent Way yang diperkenalkan oleh Gattegno ini dalam
orientasinya dapat diklasifikasikan sebagai kognitivis. Dalam pandangan
Gattegno, pikiran merupakan agen, wali, atau perantara aktif yang mampu
membangun kriteria intinya sendiri buat belajar. Ketiga kata kunci filisofi
yang berada di belakang pendekatan ini adalah kebebasan (independence),
otonomi (autonomy), dan pertanggungjawaban (responsibility).
Metode Cara Diam beranggapan bahwa para pelajar bekerja dengan sumber-sumber
dalam diri mereka (yaitu struktur kognitif yang ada, pengalaman, perasaan,
pengetahuan mengenai dunia, dsb) (Tarigan, 1986:257).
Dalam metode ini siswa tidak diminta untuk merespon
stimulus-stimulus dalam lingkungan seperti pada orientasi audio-lingual tetapi
didasarkan pandangan bahwa pembelajar dapat mengembangkan kriteria yang mereka
buat sendiri untuk belajar bahasa tanpa perlu diberi materi bahasa secara
langsung atau secara "silent", hening, tanpa suara. Dalam
metode Silent Way, guru biasanya menggunakan Cuisenaire rods atau
batangan-batangan berwarna. Guru mengajarkan kosakata dasar dan sedikit aturan
tatabahasa lalu siswa belajar untuk mengucapkan kata rod dan angka-angka,
ditambah kata sifat, kata kerja, konjungsi, pronomina dan adverb. Stevick
mengemukakan lima prinsip dasar atau cirri utama metode Cara Diam, yaitu:
a. mengajar haruslah merupakan bawahan (subordinasi)
belajar,
b. belajar bukanlah merupakan tiruan atau
latihan,
c. dalam belajar, pikirn memperlengkapi
dirinya dengan karyanya sendiri, mencoba-coba (trial and error),
eksperimentasi yang disengaja, menunda keputusan, dan merevisi konklusi (atau
memperbaiki kesimpulan).
d. dalam pelaksanaannya, pikiran menarik
atau mengambil segala sesuatu yang sudah pernah diperolehnya, terutama sekali
pengalamannya dalam belajar bahasa ibu.
e. pengajar atau guru harus berhenti
mencampuri atau campur tangan dan mengarahkan atau membelokkan kegiatan
sebelumnya (Stevick, 1980:137). Pakar lain, yaitu Karambelas, mengutarakan teknik-teknik
dan prinsip-prinsip metode Cara Diam sebagai berikut:
1). Menghindari mengulangi contoh ucapan guru, karena tidak perlu,
2). Mengenali dan memahami bahan pelajaran melalui pemakaian dan praktek
dalam konteks,
3). Perbikan atau koreksi jarang dilakukan guru,
4). Pekerjaan lisan diikuti oleh praktek menulis,
5). Pelajar bertanggungjawab terhadap kegiatan belajar mereka sendiri.
Metode ini barangkali lebih terkenal karena penggunaan
balok-balok berwarna, yang disebut balok-balok Cuisenaire, untuk mengajarkan struktur-struktur
dasar bahasa. Seperangkat kartu-kartu fonetik dan kata yang berupa balok
berwarna juga merupakan bahan penting bagi kelas yang menerapkan metode Cara
Diam.
Keunggulan
metode ini antara lain: dapat menstimulasi penghipotesisan kaidah; bahasa
dipelajari dalam konteks situasional. Sedangkan kelemahan metode ini adalah:
hanya dapat dipraktekkan pada kelompok kecil; dibutuhkan guru yang terampil;
situasinya amat sibuk dan berat bagi para siswa; sukar membuat ucapan yang
tepat tanpa model atau contoh yang baik; dan tiadanya model bahasa yang baik
jusru membatasi perkembangan yang baik, sehingga tidak jarang berada di bawah
tingkat pemula (Steinberg, 1986:192).
2. Metode Sugestopedia
Metode
Sugestopedia adalah metode pengajaran yang
menggunakan teknik-teknik relaksasi dan konsentrasi untuk merangsang pembelajar
agar menggunakan daya pikir bawah sadarnya untuk menambah kemampuannya
mengingat lebih banyak kosakata dan struktur (Lazanov dikutip Ghazali,
2010:100). Ciri utama dari pendekatan ini adalah penciptaan suasana
pembelajaran yang "sugestif",merangsang pikiran bawah sadar
dengan menggunakan cahaya yang lembut, musik barok, tempat duduk yang nyaman,
dan teknik-teknik dramatis yang dilakukan guru untuk menyajikan materi bahasa. Kegiatan
pengajaran dengan metode ini terdiri dari tiga bagian, yaitu:
a. pertama, siswa membaca materi pelajaran sebelumnya melalui percakapan, permainan
atau skit (drama
humoris yang pendek).
b. berikutnya,
bahan baru disajikan melalui dialog-dialig panjang yang didasarkan pada situasi
nyata. Tahap ini diikuti dengan "active concert" dan "passive
concert".
c. sesi ketiga disebut fase aktivasi (activation phase).
Pada tahap ini diberikan penguatan
terhadap materi baru yang sudah dipelajari pada fase kedua.
Agar metode Lozanov dapat dipraktekkan atau diterapkan
secara efektif, diperlukan tiga unsur penting (Tarigan, 1986:263), yaitu:
a. ruang kelas
yang menarik atau atraktif (dengan cahaya yang lembut) dan suasana kelas yang
menyenagkan;
- guru yang berkepribadian dinamis yang mampu memerankan bahan dan memotivasi belajar para siswa; dan
- para siswa yang dapat siap-siaga dalam kesantaian (Bancroft 1978:172; Krashen, 1986:143-144).
Kelemahan metode ini antara lain: hanya dapat digunakan
bagi kelompok kecil, menjengkelkan dan
menggelisahkan bagi orang-orang yang tidak menyukai Hayden dan penggubah lagu
klasik lainnya; biayanya terlalu mahal; belum ada ketentuan dan persiapan bagi
tingkat-tingkat menengah dan lanjutan (Steinberg, 1986:193); membuat pemahaman
membaca dan menyimak terlalu terbatas; dan bahan masukan secara pedagogis
dipersiapkan terlalu bersifat eksklusif (Omagio dikutip Tarigan, 1986:264).
E.Metode Kontemporer
1. Responsi Fisik Total
Pendekatan ini didasarkan pada keyakinan bahwa pemahaman
menyimak haruslah dikembangkan secara penuh, seperti halnya dengan anak-anak belajar bahasa ibu mereka,
sebelum ada partisipasi lisan aktif dari para siswa yang dapat diharapkan.
(Tarigan, 1986:247). Metode Responsi Fisik Total atau Total Physical
Response (TPR) (Asher, 1982) menggunakan perintah-perintah lisan yang harus
dilakukan siswa agar dapat menunjukkan pemahaman mereka terhadap maksud dari
perintah-perintah lisan itu. Guru memberikan contoh gerakan atau tindakan yang
diperintahkan itu sehingga siswa secara tidak langsung mendapatkan struktur
tatabahasa dan kosakata dari bahasa target (Ghazali, 2010:97).
Asher (dikutip Tarigan, 1986:247-248) merangkumkan tiga
gagasan utama yang mendasari metode Responsi Fisik Total sebagai berikut:
a. pemahaman bahasa lisan haruslah
dikembangkan dalam berbicara;
b. pemahaman dan ingatan diperoleh dengan
baik melalui gerakan tubuh;
c. para siswa hendaknya tidak pernah
dipaksa berbicara sebelum mereka siap.
Metode ini mempunyai potensi yang sangat besar untuk
mengaktifkan para siswa karena situasi dalam kelas memang hidup memberi
kesempatan pada siswa untuk mengujicobakan keterampilan mereka dengan cara yang
kreatif.
2.Komunikatif
Belajar Bahasa Masyarakat (Community Language Learning)
adalah sebuah pendekatan dalam
pengajaran bahasa yang memberi penekanan pada peranan ranah afektif dalam
mempromosikan belajar kognitif. Community Language Learning atau bisa
juga disebut Counseling-Learning dikembangkan oleh Charles Curran (1976)
berdasarkan teknik-teknik yang dipinjam dari penyuluhan psikologis. Yang
menjadi premis teoritis dasar bagi pendekatan ini ialah bahwa insan secara
individual membutuhkan pemahaman dan bantuan dalam proses pemenuhan nilai-nilai
dan tujuan-tujuan pribadi (Tarigan, 1986:255). Guru perlu memerhatikan
kebutuhan individual dari para siswa serta apa ketakutan-ketakutan atau
masalah-masalah siswa dalam pembelajaran. Dengan membangkitkan perasaan
diterima oleh lingkungan (sense of community) dalam diri siswa maka guru
bisa mengarahkan energi positif siswa pada pembelajaran bahasa.
Ciri utama pendekatan BBM antara lain:
a.
guru bertindak sebagai “knower/councelor”,
b.
guru menyediakan bahasa yang
dibutuhkan siswa untuk mengekspresikan diri,
c.
kelas terdiri dari enam sampai
duabelas pelajar yang duduk dalam suatu lingkaran kecil deng seorang atau dua
orang guru yang berdiri di luar lingkaran dan siap membantu.
d.
teknik-teknik dipakai dapat mungkin
mengurangi kegelisahan dalam kelompok dan meningkatkan pengekspresian gagasan
dan perasaan secara bebas.
Dalam metode ini terdapat
lima tahap belajar (Tarigan, 1986:255-256), yaitu:
1. Para siswa membuat pernyataan-pernyataan dengan suara nyaring dalam
bahasa ibu mereka, dengan bantuan guru dalam penerjemahannya.
2. Tahap kedua ini dikenal sebagai “tahap swa-asertif” atau “self-assertive
stage”, siswa mengatakan apa yang ingin dikatakan tanpa bantuan guru.
3. Dalam “tahap kelahiran” ini, para siswa meningkatkan kemandirian
mereka dan berbicara dalam bahasa sasaran tanpa terjemahan, kecuali jika siswa
lain memintanya atau memerlukannya.
4. Tahap ini disebut “tahap remaja” atau “tahap pembalikan”.
Dalam tahap ini sang pelajar menjadi cukup kuat menerima umpan balik korektif
dari sang guru dan/atau dari anggota kelompok lainnya.
5. “Tahap Kemerdekaan” ini ditandai oleh interaksi bebas antara para
siswa dengan (para) guru. Setiap orang memberikan koreksi dan perbaikan
stalistik dalam semangat kelompok.
Keunggulan metode ini adalah bahwa bahasa dipakai dalam
konteks bagi interaksi personal (personal interaction). Sementara
kelemahan metode ini adalah bahwa metode
ini hanya dapat dipakai untuk kelompok kecil saja, dibutuhkan guru yang
terampil dalam bidang linguistik, percakapan kerapkali terasa dipaksakan atau
terasa kaku, atau sebaliknya terasa muluk-muluk dan tidak wajar.
3.Natural
Pendekatan Alamiah atau The Natural Approach dalam
pengajaran bahasa diperkenalkan dan dikembangkan oleh Terrel (1977:1982)
berdasarkan teori Krasen mengenai PB2. Premis utama yang dikemukakan oleh
Terrel ialah bahwa “adalah mungkin bagi para siswa dalam suatu situasi kelas
belajar berkomunikasi dalam bahasa kedua”(1977:325).
Tujuan pendekatan alamiah adalah seperangkat kecakapan
atau kemampuan tingkat menengah atau lanjutan dalam B2, paling tidak dalam
keterampilan-keterampilan oral. Hal ini akan mempunyai beberapa implikasi
penting bagi praktek kelas. Pendekatan alami lebih menekankan pada pemahaman
sebagai keterampilan dasar yang bisa menunjang akuisisi bahasa sehingga
pendekatan alami ini menganggap bahwa pemahaman harus sudah ada sebelum siswa
mulai memproduksi bahasa. Kemampuan berbicara tumbuh secara bertahap, dari yang
pada awalnya berupa reaksi terhadap perintah sampai pada akhirnya bisa
menghasilkan wacana yang koheren (Ghazali, 2010:97). Ciri-ciri utama
pendekatan alamiah ini terlihat pada petunjuk-petunjuk praktek kelas yang
dikemukakan oleh Terrel, antara lain (Tarigan, 1986:251): distribusi belajar
dan kegiatan-kegiatan pemerolehan, koreksi kesalahan, dan responsi-responsi
dalam B1 dan B2.
Selanjutnya Tarrel merangkumkan prinsip-prinsip dasar
metode yang dikemukakannya ini sebagai berikut (Tarigan, 2010:252):
a.
tujuan awal
pengajaran bahasa adalah kompetensi komunikatif langsung,
b.
pengajaran
harus diarahkan untuk memodifikasi serta
meningkatkan tata bahasa parasiswa, bukan membangun satu kaidah pada suatu
waktu;
c.
para siswa
harus diberi kesempatan memperoleh bahasa, bukan memaksanya untuk
mempelajarinya
d.
faktor-faktor
afektif yang harus dipaksakan beroperasi dalam pengajaran, bukan faktor-faktor
kognitif
e.
belajar kosakata merupakan kunci
bagi pemahaman dan prodiksi ujaran.
BAB. V
STRATEGI BELAJARAN
BAHASA
A.
STRATEGI BELAJAR BAHASA
Michel Pressley (1991) mengatakan strategi pembelajaran bahasa ialah
operator-operator kognitif yang memproses suatu masalah pembelajaran bahasa
yang secara langsung terlibat dalam menyelesaikan tugas. Artinya, strategi
pembelelajaran bahasa ialah perilaku dan proses-proses berfikir termasuk proses
memori dan metakognitif yang dilakukan oleh siswa yang dapat mempengaruhi
terhadap apa yang dipelajari sehingga dengan strategi pembelajaran bahasa siswa
dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik dan benar. Sebagai contoh, siswa
sering ditugasi untuk mengerjakan tugas-tugas belajar tertentu, seperti mengisi
suatu lembar kerja dalam pelajaran membaca atau mencari bahan sumebr untuk
suatu laporan sejarah. Untuk menyelesaikan tugas-tugas belajar tersebut siswa
memerlukan keterlibatan dalam proses-proses berfikir dan melakukan
perilaku-perilaku tertentu, sperti membaca sepintas judul-judul utama,
meringkas, dan membuat catatan, disamping itu juga memonitor jalan berfikir
diri sendiri. Dengan demikian agar dapat menyelesaikan tugas-tugas belajar
tersebut siswa harus menggunakan beberapa strategi belajar.
Menurut Oxford (1990:8),
strategi belajar adalah suatu cara yang digunakan pembelajar dalam pemerolehan,
penyimpanan, percobaan, dan pemanfaatan atas informasi yang didapat.
Ditambahkan pula bahwa strategi belajar merupakan suatu aktifitas yang dapat
membuat proses pembelajaran menjadi lebih mudah, lebih cepat, lebih
menyenangkan, lebih terarah, lebih efektif, dan lebih mudah untuk digunakan
dalam situasi baru.
Strategi
pembelajaran bahasa ialah semua siasat, kebijaksanaan, atau rencana untuk
mencapai tujuan pembelajaran bahasa (Suardi Saparani, dkk, 1997: 22). Bahkan
suyatno (2004: 14) mengatakan bahwa keberhasilan pembelajaran disiplin ilmu apa
pun ditentukan oleh strategi pembelajaran yang digunakan.
Thomas dan Rohwer (1986)
berpendapat tentang prinsip strategi pembelajaran. Seperangkat prinsip
pembelajaran tersebut ialah:
1.
kekhususan: strategi-strategi belajar harus sesuai
dengan tujuan pembelajaran dan tipe siswa yang mempergunakan strategi belajar
tersebut. Sebagai contoh, penelitian telah menemukan bahwa strategi
pembelajaran yang sama memberikan hasil belajar yang berbeda jika diterapkan
pada siswa yang lebih tua dan siswa yang lebih muda atau diterapkan pada siswa
yang pandai dan siswa yang kurang pandai (Hidi dan Anderson, 1986).
2.
Keumuman: salah satu prinsip utama dari strategi
belajar efektif ialah strategi-strategi tersebut melibatkan pengolahan kembali
materi yang dipelajari, untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Misalnya, menulis
ringkasan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk orang lain,
mengorganisasikan catatan dalam bentuk kerangka, membuat suatu diagram hubungan
antara ide-ide utama, dan mengajar teman sendiri tentang isi bacaan. Strategi
dengan tingkat keumuman rendah misalnya ialah menggarisbawahi kata-kata tanpa
membedakan mana yang penting dan mana yang tidak, membuat catatan tanpa mengidentifikasi
ide-ide pokok, atau menulis ringkasan secara luas tanpa dapat memfokuskan pada
hal-hal yang penting, kurang berhasil untuk membantu siswa belajar.
3.
Pemantauan yang efektif: prinsip monitoring yang
efektif berarti bahwa siswa seharusnya mengetahui bagaimana dan kapan
menerapkan strategi belajarnya dan bagaimana mengatakan bahwa ia sedang bekerja
dengan strategi itu (Nist: 1991).
4.
Keyakinan pribadi: siswa harus memiliki keyakinan
bahwa belajar akan memberikan hasil bagi mereka apabila mereka bekerja keras
untuk pelajaran itu. Guru dapat menciptakan suatu pengertian bahwa belajar akan
memberikan tes untuk pelajaran itu. Guru dapat menciptakan suatu pengertian
bahwa belajar akan memberikan hasil dengan cara sering memberikan kuis dan tes
langsung berdasarkan pada bahan ajar yang dipelajari siswa dan dengan membuat
kinerja pada penelitian ini menjadi bagian utama dalam menentukan nilai siswa.
Berdasarkan
target yang akan dicapai, Strategi pembelajaran bahasa kususnya belajar bahasa
kedua, ketiga, atau belajar bahasa lanjutan terbagi atas dua jenis, yakni:
B.STRATEGI
BELAJAR BAHASA LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG
1. Strategi pembelajaran bahasa langsung .
Strategi
pembelajaran bahasa secara langsung ialah suatu cara yang digunakan pembelajar
dalam pemerolehan, penyimpanan, percobaan, dan pemanfaatan atas informasi yang
didapat. Strategi
pembelajaran bahasa secara langsung terdiri atas tiga jenis, yakni: strategi
memori, strategi kognitif, dan strategi kompensasi sedangkan
2. Strategi pembelajaran bahasa tidak langsung.
Strategi pembelajaran bahasa
secara tidak langsung ialah suatu aktifitas yang dapat membuat proses
pembelajaran menjadi lebih mudah, lebih cepat, lebih menyenangkan, lebih
terarah, lebih efektif, dan lebih mudah untuk digunakan dalam situasi baru
Strategi pembelajaran bahasa secara
tidak langsung terdiri atas tiga jenis,
yakni: strategi metakognitif,
strategi affektif, dan strategi sosial.
1. Strategi
pembelajaran bahasa langsung yaitu terdiri atas ;
1.1 Stategi Memori
Strategi memori ialah strategi yang
digunakan untuk mengingat dan menerima informasi baru. Ada dua syarat untuk
memahami bagaimana individu belajar dan bagaimana mereka menerapkan
strategi-strategi belajar tertentu ialah:
1.
pentingnya pengetahuan awal
atau informasi baru, dan
2.
cara otak memproses pengetahuan
awal atau informasi baru itu.
Sejumlah ahli spikologi
kognitif telah mengembangkan apa yang mereka sebut
pandangan pemrosesan
informasi (information processing) tentang pembelajaran. Para ahli teori
ini sepenuhnya menyandarkan pada komputer sebagai analogi untuk menjelaskan
bagaimana otak dan sistem memorinya bekerja. Dari sudut oandang ini, informasi
masuk ke dalam otak melalui indera-indera (analog dengan memasukkan data
melalui keyboard komputer) dan disimpan sementara di dalam suatu ruang
kerja yang disebut memori jangka pendek atau short-term memory (ruang
penyimpanan dari sebuah komputer). Dari memori jangka pendek data itu kemudian
dikirimkan ke memori jangka panjang atau long-term memory (hard disk
komputer) dan disimpan sampai dipanggil kembali untuk pengguanaan di kemudian
hari (M.Nur, 2004: 18-19).
Berikut prosedur kerja sistem memori:
a.
Hubungan kreasi mental
meliputi:
·
mengelompokkan,
·
berhubungan/ perluasan,dan
·
menempatkan kata baru dalam konteks,
b.
Menerapkan gambar dan suara
meliputi:
·
penggunaan gambar,
·
pemetaan semantik,
·
penggunaan kata kunci, dan
·
pemberian suara dalam memori,
c.
Mengulas kembali dengan baik,
dan
d.
Melakukan kegiatan/ aksi
meliputi:
·
menggunakan respon atau sensasi
fisik,
·
menggunakan teknik mekanik.
1.2 Strategi Kognitif
Strategi kognitif ialah strategi untuk
memahami bahasa dan menghasilkan atau melakukan produksi bahasa. Teori Piaget
(1896) tentang kognitif ialah pemahaman manusia terhadap suatu objek itu
berlangsung secara bertahap yang meliputi tahap manipulasi dan tahap interaksi
aktif. Setelah manusia bisa memanipulasi objek, kemampuan interaksi aktif
manusia berfungsi untuk memantapkan dan memproduksi pengetahuan baru. Secara bertahap,
strategi kognitif meliputi:
(a) terbentuknya konsep “kepermanenan objek”
dan kemajuan gradual (tahap demi tahap) dari perilaku refleksif ke perilaku
yang mengarah kepada tujuan,
(b) penggunaan simbol-simbol bahasa untuk
menyatakan objek-objek di dunia,
(c)
perbaikan dalam kemampuan untuk berfikir secara logis, mulai berpikir produksi
sebuah bahasa, dan
(d) pemikiran berkembang lebih luas, dan
disinilah produksi sebuah bahasa dihasilkan (M.Nur, 2004: 16).
Berikut
kerja sistem kognitif:
a. Melakukan praktik yaitu meliputi:
a)
mengulang,
b)
secara formal melatih dengan
sistem suara dan menulis,
c)
mengenali atau menggunakan
formula dan pola,
d)
menggabungkan kembali,
e)
melatih secara alami,
b. Menerima dan mengirim pesan yang meliputi:
a)
mendapat ide dengan cepat, dan
b)
menggunakan sumber untuk menerima dan
mengirim pesan,
c.menganalisis
dan memberi alasan yang meliputi:
a)
memberi alasan deduktif,
b)
menganalisis ekspresi,
c)
menganalisis kontras (antar
bahasa),
d)
menerjemah, dan
e)
mentransfer,
d.mengkreasi
struktur untuk input dan output yang meliputi:
a)
mencatat,
b)
menjumlahkan, dan
c)
menuliskan pokok-pokok penting.
1.3 Strategi Kompensasi
Strategi kompensasi ialah
strategi belajar yang sangat bermanfaat bagi pembelajar yang sedang belajar
sedikit tentang bahasa kedua. Terkadang, dengan keterbatasan kosakata dan
pengetahuan tentang bahasa kedua, pembelajar akan panik, tidak dapat bicara
atau bahkan sering sekali melihat kamus untuk memastikan kata yang tepat.
Dengan strtaegi belajar kompensasi, pembelajar bahasa kedua dapat menggunakan
strategi menerka kata atau tata bahasa dan juga dapat menggunakan bantuan,
bahasa tubuh, menghindari topik pembicaraan yang tidak dikuasai, dan juga dapat
menggunakan persamaan kata.
Berikut ini sistem kerja strategi kompensasi:
1.menebak
dengan cerdas yang meliputi:
1)
menggunakan petunjuk
linguistik, dan
2)
menggunakan petunjuk lain,
2.
melebihi batas dalam bicara dan menulis yang meliputi:
1)
kembali ke topik asal,
2)
menerima bantuan,
3)
menggunakan tiruan atau
isyarat,
4)
menghindarim komunikasi
sebagian atau total,
5)
memilih topik,
6)
mengatur atau menduga pesan,
7)
memperkaya perbendaharaan kata,
dan perbendaharaan kata yang memiliki persamaan atau perlawanan arti: sinonim
atau antonim
Strategi
pembelajaran bahasa tidak langsung terdiri atas ;
1.METAKOGNITIF
Strategi metakognisi ( metakognitif ) adalah
strategi tidak langsung belajar bahasa kedua. Strategi ini menekankan akan
pentingnya pembelajar untuk memusatkan konsentrasi belajar bahasa, menyusun dan
merencanakan belajar bahasa, dan mengevaluasi cara belajar bahasa tersebut.
Terkadang, pembelajar sibuk dengan materi belajar saja tanpa menyadari bahwa
strategi belajarnya seharusnya diubah atau diperbaiki dengan melihat hasil
kemajuan belajarnya.
Dengan strategi metakogisi ini, pembelajar
akan menyadari bahwa strategi belajar bahasanya sudah tepat atau belum. Dalam
hal ini pembelajar dapat mengevaluasi sendiri atau dapat berkonsultasi dengan
guru atau mentor dalam mengevaluasi hasil belajarnya. Strategi metakognitif berhubungan
dengan berfikir siswa dengan berfikirnya sendiri dan kemampuannya untuk
memonitor proses-proses kognitif. Strategi metakognitif meliputi dua-duanya,
yaitu pengetahuan tentang kognisi dan kemampuan memonitor, mengendalikan, dan
mengevaluasi fungsi-fungsi kognitif diri sendiri.
Berikut ini prosedur sistem kerja
strategi metakognitif:
A.
Memusatkan belajar yang meliputi:
(a) mengulas materi baru dan
menghubungkan dengan materi yang sudah dikuasai,
(b) memberi perhatian terhadap pokok
bahasan, dan
(c) menunda percakapan atau obrolan
dengan orang lain untuk memusatkan pikiran terfokus pada pokok bahasan,
B.
Mengatur dan merencanakan belajar yang meliputi:
(a) mencari tahu tentang
pembelajaran bahasa,
(b) mengatur,
(c) menentukan tujuan, mengidentifikasi
tujuan pembelajaran bahasa (tujuan mendengar/ membaca/ menulis/ berbicara),
(d) merencanakan untuk tugas bahasa,
dan
(e) mencari kesempatan latihan,
C.
Mengevaluasi belajar yang meliputi:
(a) memonitor atau mengewasi diri,
dan
(b) mengevaluasi diri terhadap
porses dan hasil belajar.
2. AFEKTIF
Strategi
affektif ialah Strategi kedua dari strategi belajar bahasa secara tidak
langsung. Strategi belajar ini mencakup emosi, sikap, motivasi, dan nilai
–nilai dalam proses mempelajari bahasa kedua. Terdapat beberapa cara yang dapat
ditempuh oleh pembelajar untuk mencapai hasil yang memuaskan dalam belajar
bahasa kedua. Menurut Oxford (1990:141) terdapat tiga cara dalam memanfaatkan
strategi afektif ini dalam belajar bahasa kedua, yaitu
1.
Dengan mengurangi kecemasan dengan cara mendengarkan
musik, tertawa, dan meditasi setelah belajar bahasa kedua;
2.
Meningkatkan kepercayaan diri dengan membuat
pernyataan positif, menghargai diri sendiri dalam belajar bahasa kedua;
3.
Mengatur suhu emosi sendiri dengan berdiskusi dengan
rekan ketika mempunyai masalah, berusaha untuk mendengarkan suara tubuh ketika
sudah terlalu capek dalam belajar bahasa kedua.
Berikut prosedur sistem kerja
strategi affektif:
a.
Menurunkan kegelisahan yang meliputi:
(a) menggunakan relaksasi,
(b) mendengarkan musik,
(c) tertawa-tawa,
b.
Menyemangati diri sendiri yang meliputi:
(a) membuat pernyataan positif,
(b) mengambil resiko dengan bijak,
(c) menghargai diri sendiri,
c.
Mengontrol temperatur emosi yang meliputi:
(a) mendengarkan gerakan tubuh,
(b) membuat daftar kegiatan atau
perencanaan,
(c) menulis diari pembelajaran
bahasa, dan
(d) mendiskusikan perasaan dengan
orang lain (curhat).
3. SOSIAL
Stategi
sosial ialah strategi pembelajaran bahasa secara tidak langsung bahwa peserta
didik telah terjun ke dunia sosial. Tanpa disadari, peserta didik telah
melakukan kegiatan belajar bahasa kepada orang lain melalui kegitan sosial.
Sebagaimana
prinsip strategi pembelajaran di atas sebagai berikut bahwa peserta didik
melakukan suatu aktivitas belajar bahasa kedua atau bahasa target dengan penuh
menyenangkan dan efektif dalam kondisi baru.
Peserta didik akan mendapatkan dua
kemampuan saat melakukan strategi sosial:
(a) kemampuan belajar bahasa, dan
(2) kemampuan bersosial.
Berikut prosedur sistem kerja
strategi sosial:
a)
Menanyakan pertanyaan yang meliputi:
·
menanyakan klarifikasi dan verivikasi,
·
menanyakan pembeltulan,
b)
Bekerja sama dengan orang lain yang meliputi:
·
bekerjasama dengan kawan sebaya, dan
·
bekerja sama dengan pemakai bahasa yang sudah cerdas
atau mahir,
·
Memiliki rasa empati kepada orang lain yang meliputi:
·
mengembangkan pemahaman budaya, dan
·
hati-hati dengan lidah dan perasaan orang lain.
BAB.VI
MODEL
PEMBELAJARAN UNTUK BAHASA INDONESIA
A. PENGERTIAN
MODEL PEMBELAJARAN
Dalam dunia pengajaran, model pembelajaran
adalah sesuatu yang sangat biasa disebut. Akan tetapi masih banyak orang yang tidak
dapat memahami dengan baik apa yang dimaksud dengan model pembelajaran. Menurut Joyce dan Weil (dalam Rusman,
2010:133) menyatakan bahwa : Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola
yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka
panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di
kelas atau yang lain. Sementara itu, menurut
Kemp (dalam Rusman, 2010:132) “strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan
pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran
dapat dicapai secara efektif dan efisien”.
Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan
bahwa model pembelajaran adalah rencana tentang pola kegiatan yang akan
dilaksanakan dalam proses pembelajaran dan merancang bahan-bahan pembelajaran.
B.MODEL
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
1. MODEL
KOMUNIKATIF LEARNING
a.
Pengertian
Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif
adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa
dalam berkomunikasi, menekankan pembinaan dan pengembangan kemampuan
komunikatif siswa. Penerapan pendekatan komunikatif sepenuhnya dilakukan oleh
siswa (student centre) sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Dengan
demikian siswa akan mampu bercerita, menanggapi masalah, dan mengungkapkan
pendapatnya secara lisan dengan bahasa yang runtut dan mudah dipahami. Menurut
Littiewood (dalam Rofi’uddin, 1999) pendekatan komunikatif didasarkan
pada pemikiran bahwa:
o Pendekatan
komunikatif membuka diri bagi pandangan yang luas dalam pembelajaran bahasa.
Hal ini terutama menyebabkan orang melihat bahwa bahasa tidak terbatas pada
tata bahasa dan kosa kata, tetapi juga pada fungsi komunikasi bahasa.
o Pendekatan
komunikatif membuka diri bagi pandangan yang luas dalam pembelajaran bahasa.
Hal ini menimbulkan kesadaran bahwa pembelajaran bahasa, tidak cukup dengan
memberikan kepada siswa bagaimana bentuk-bentuk bahasa itu, tetapi siswa harus
mampu mengembangkan cara-cara menerapkan bentuk-bentuk itu sesuai dengan fungsi
bahasa sebagai sarana komunikasi dalam situasi dan waktu yang tepat.
Muncul
pendekatan komunikatif inilah yang menandai perubahan pandangan pengajaran
bahasa dari “struktural” ke “fungsional”. Perbedaan pendekatan komunikatif dan
pendekatan struktural menurut Muchlisoh,
dkk, (1993) adalah pendekatan struktural menuntut ketepatan pengucapan dan
menunda latihan kelancaran, sedangkan pendekatan komunikatif lebih mengutamakan
kelancaran berkomunikasi, ketepatan komunikasi serta perbaikan struktur dapat
dilakukan dalam pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran bahasa dengan
menggunakan pendekatan komunikatif lebih tepat dilihat sebagai sesuatu yang
berkenaan dengan makna apa yang dapt diungkapkan (nosi) melalui bahasa,
bukannya berkenaan dengan butir-butir tata bahasa (struktural). Hal ini sejalan
dengan apa yang dikemukakan oleh Meley (dalam Brumfit,1986) bahwa kemampuan
berkomunikasi adalah kemampuan berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya.
Dengan demikian, pendekatan komunikatif adalah pendekatan pengajaran bahasa
yang sasaran akhirnya adalah kemampuan berkomunikasi.
b. Karakteristik Model Pembelajaran Komunikatif
Learning
o Acuan berpijaknya adalah kebutuhan peserta
didik dan fungsi bahasa;
o Tujuan belajar bahasa adalam membimbing
peserta didik agar mampu berkomunkasi dalam situasi yang sebenarnya;
o Silabus pengajaran harus ditata sesuai dengan
fungsi pemakaian bahasa;
o Peranan tatabahasa dalam pengajaran bahasa
tetap diakui;
o Tujuan utama adalah komunikasi yang
bertujuan;
o Peran pengajar sebagai pengelola kelas dan
pembimbing peserta didik dalam berkomunikasi diperluas; dan
o Kegiatan belajar harus didasarkan pada
teknik-teknik kreatif peserta didik sendiri, dan peserta didik dibagi dalam
kelompok-kelompok kecil
c.
Langkah-langkah
Model Pembelajaran Komunikatif Learning
Langkah-langkah pembelajaran dengan
pendekatan komunikatif
o Tahap persiapan, guru perlu merumuskan tujuan
pembelajaran dan menyiapkan berbagai strategi yang berhubungan dengan pokok
bahasan yang diajarkan.
o Tahap pelaksanaan, guru menyajikan materi
pelajaran dengan memanfaatkan pendekatan komunikatif, sehingga menarik
perhatian siswa dalam proses belajar mengajar, sehingga pembelajaran
berlangsung efektif dan efesien.
o Tahap evaluasi, guru mengadakan evaluasi
materi pelajaran
d.
Keunggulan
Model Pembelajaran Komunikatif Learning
Manfaat pendekatan komunikatif :
o Siswa termotivasi untuk mengembangkan
keterampilan berbahasanya setelah mengetahui bahwa ada kaitannya dengan
penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari
o Siswa akan lebih mudah untuk berkomunikasi
dan berinteraksi dalam kehidupan sosialnya
o Siswa tidak hanya memiliki pengetahuan
tentang kebahasaan, tetapi juga memiliki kompetensi untuk menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari
e.
Kekurangan
Model Pembelajaran Komunikatif Learning
Kekurangan pendekatan komunikatif :
o Guru harus kreatif menciptakan suasana
belajar yang mampu membuat siswa untuk aktif dan interaktif. Bila guru tidak
kreatif, maka pembelajaran akan tidak menarik
o Bila siswa tidak memiliki pengatahuan
interaksi dan komunikasi yang cukup baik atau siswa cenderung pasif, maka siswa
akan kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran
f.
Implementasi
pendekatan komunikatif
o Konteks dan tema digunakan untuk
mengembangkan perbendaharaan kata siswa. Tujuannya adalah agar pembelajaran
bahasa berlangsung dalam suasana kebahasaan yang wajar, tidak disajikan dalam
kalimat-kalimat yang sulit dimengerti siswa, misalnya penggambaran kegiatan di
rumah, di dapur, di jalan, di desa, di sekolah, dan sebagainya.
o Bahasa sebagai alat komunikasi digunakan
untuk bermacam-macam fungsi sesuai dengan apa yang ingin disampaikan oleh
penutur, misalnya :
1). Untuk menyatakan informasi faktual
(melaporkan, menanyakan, mengoreksi, dan mengidentifikasi)
2). Menyatakan sikap intelektual (menyatakan
setuju atau tidak setuju, menyanggah, dan sebagainya)
3). Menyatakan sikap emosional (senang, tidak
senang, harapan, kepuasan, dan sebagainya)
4). Menyatakan sikap moral (meminta maaf,
menyatakan penyasalan, penghargaan, dan sebagainya)
5). Menyatakan perintah (mengajak,
mengundang, memperingatkan, dan sebagainya).
Pengajian fungsi itu sebaiknya disajikan di
dalam konteks, tidak dalam bentuk kalimat-kalimat yang lepas.
o Pembelajaran menekankan pada pengembangan
kompetensi bahasanya, bukan pada pengetahuan bahasanya saja, sehingga siswa
dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal yang harus
diperhatikan guru dalam merancang materi pengajaran yang mengacu pada
pendekatan komunikatif menurut Brown, yaitu:
1). Tujuan pembelajaran di dalam kelas difokuskan pada semua komponen
dari kemampuan berkomunikasi
2). Teknik dalam pembelajaran bahasa dirancang untuk melibatkan siswa
dalam penggunaan bahasa yang pragmatis, autentik, fungsional dan bermakna
3). Kelancaran dan ketepatan berbahasa yang dapat melandasi
teknik-teknik komunikatif
4). Siswa pada akhirnya harus menggunakan bahasa, baik secara produktif
maupun reseptif.
Contoh pembelajran dengan pendekatan komunikatif
o Ketika Tanya jawab antara siswa dengan guru,
maka akan terjadi interaksi dan pertukaran informasi
o Ketika siswa menggunakan keterampilan
berbahasanya (menyimak, membaca, menulis, dan berbicara), maka secara langsung
maupun tidak, telah terjadi pembelajaran dengan pendekatan komunikatif
o Simulasi dan bermain peran. Contoh :
1). Siswa diminta membayangkan dirinya ada dalam situasi yang dapat
terjadi di luar kelas. Ini dapat saja berupa kejadian yang sederhana, misalnya
bertemu seorang teman di jalan, tetapi dapat pula kejadian yang bersifat
kompleks, negosiasi di dalam bisnis.
2). Siswa diminta memilih peran tertentu dalam suatu situasi. Dalam
beberapa kasus, mungkin mereka berlaku sebagai dirinya sendiri, tetapi dalam
beberapa kasus-kasus lain mungkin mereka memperagakan sesuatu, di dalam
simulasi
3). Mereka diminta berbuat seperti kalau situasi ini benar-benar
terjadi, sesuai dengan peran mereka masing-masing. Permainan peran tidak selalu
dalam bentuk akting, tetapi dapat juga dalam bentuk debat, atau improvisasi.
2. MODEL
KOOPERATIF LEARNING
a.
Pengertian
Model Kooperatif Learning
Kooperatif
dalam bahasa inggris
‘cooperative’ mengandung pengertian bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama
(Hamid Hasandalam Solihatin dan Raharjo. 2005:4). Sedangkan menurut Solihatin dan Raharjo (2005:4) bahwa :‘cooverative
learning’ mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam
bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur
dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan
kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok. Sementara
itu, menurut Marno dan Idris (2008:84)
bahwa : Pola interaksi yang monoton Guru-Siswa(G-S), misalnya guru
menerangkan–siswa mendengarkan atau guru bertanya dan murid menjawab, biasanya
tidak berhasil memikat perhatian siswa untuk waktu yang lama.
Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif
adalah teori kontruktivisme. Pada dasarnya pendekatan teori kontruktivisme
dalam belajara adalah suatu pendekatan dimana siswa harus secara individual
menemukan dan mentranformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi
dengan aturan yang ada dan merevisinya bila perlu (Soejadi dalam Rusman, 2010:201). Selanjutnya menurut Slavin (dalam Rusman, 2010:201) pembelajaran kooperatif
menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Hal
ini memperbolehkan pertukaran ide dan pendapat masing-masing siswa dalam
suasana yang tidak mengancam sesuai dengan falsafah kontruktivisme. Dengan
demikian, seorang pendidik harus mampu mengondisikan, memberikan dorongan,
memaksimalkan dan membangkitkan potensi siswa serta menumbuhkan aktivitas dan
kreativitas peserta didik agar tumbuh dinamika di dalam proses pembelajaran. Model
pembelajaran kooperatif dikembangkan dari teori belajar kontruktivisme yang
lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky. Berdasarkan penelitian Piaget,
dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak (Ratna dalam
Rusman, 2010:201).
Selain itu, pembelajaran kooperatif
menempatkan peserta didik sebagai bagian
dari suatu sistem kerja sama dalam mencapai suatu hasil yang optimal dalam
belajar. Keberhasilan belajar menurut model pembelajaran kooperatif bukan
semata-mata ditentukan oleh kemampuan individu secara utuh, melainkan perolehan
hasil belajar akan semakin baik jika dilakukan secara bersama-sama dalam
kelompok-kelompok kecil yang terstruktur dengan baik.
Dari beberapa pendapat diatas, dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang
menitikberatkan pada keikutsertaan peserta didik dalam proses pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif juga mendorong peningkatan kemampuan peserta
didik dalam memecahkan berbagai permasalahan yang ditemui selama pembelajaran,
oleh karena peserta didik dapat bekerja sama dengan peserta didik lain untuk
menemukan dan merumuskan alternatif pemecahan terhadap masalah yang dihadapi
dalam pembelajaran. Hal itu tentu saja dapat mengurangi beban seorang guru
dalam melakukan proses pembelajaran. Oleh karena itu, dalam pembelajaran
kooperatif Guru harus bisa merangsang minat siswa agar secara aktif mampu
berinteraksi dengan guru maupun teman-temannya. Dalam hal ini seorang guru
harus mampu menjadi seorang pengajar sekaligus sebagai seorang motivator dalam
kegiatan pembelajaran sehingga peserta didik dapat belajar dengan nyaman dan
proses pembelajaran berjalan lebih menarik. Dengan demikian tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan baik.
b.
Karakteristik
Model Pembelajaran kooperatif Learning
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya,
bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang
menitikberatkan proses pembelajaran pada keterlibatan peserta didik dalam
pembelajaran melalui kerja sama dalam kelompok-kelompok kecil. Akan tetapi
pembelajaran kooperatif bukanlah sekedar belajar kelompok atau kelompok kerja,
karena belajar dalam model pembelajaran kooperatif harus ada struktur dorongan
dan tugas-tugas yang sifatnya kooperatif sehingga terjadi interaksi yang saling
membangun diantara peserta didik.
Menurut Stahl
(dalam Solihatin dan Raharjo,2005:7-9) prinsip-prinsip dasar dalam
pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
o Perumusan tujuan belajar harus jelas
Sebelum menggunakan model pembelajaran
kooperatif, guru harus merumuskan tujuan dengan jelas dan spesifik menyangkut
apa yang diinginkan oleh guru untuk dilakukan oleh peserta didik dalam kegiatan
belajarnya.
o Penerimaan yang menyeluruh oleh peserta didik
tentang tujuan belajar
Guru harus bisa mengondisikan agar peserta
didik dapat menerima tujuan pembelajaran dari sudut kepentingan diri dan kepentingan
kelas. Oleh karena itu peserta didik harus memahami bahwa setiap orang dalam
kelompoknya menerima dirinya untuk bekerja sama dalam belajar.
o Ketergantungan yang bersifat positif
Guru harus mampu mengondisikan terjadinya
interaksi antara peserta didik dalam kelompok dan mengorganisasikan materi dan
tugas-tugas pelajaran sehingga peserta didik memahami dan mungkin melakukan hal
itu dalam kelomponya
o Interaksi yang bersifat terbuka
Dalam kelompok belajar, interaksi antara
peserta didik harus langsung dan terbuka dalam mendiskusikan materi dan
tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Suasana belajar seperti itu akan
menumbuhkan sikap saling memberi dan menerima masukan, ide, saran, dan kritik
dari temannya secara positif dan terbuka.
o Tanggung jawab individu
Salah satu dasar pembelajaran kooperatif
adalah keberhasilan belajar akan lebih mungkin tercapai secara lebih baik
apabila dilakukan secara bersama-sama. Oleh karena itu setiap peserta didik
bertanggung jawab menerima dan memberi apa yang telah dipelajarinya kepada
peserta didik lainnya.
o Kelompok bersifat heterogen
Dalam pembentukan kelompok belajar,
keanggotaan kelompok harus bersifat heterogen sehingga interaksi yang terjadi
merupakan akumulasi dari berbagai karakteristik peserta didik yang berbeda. Dalam
suasana belajar seperti itu akan tumbuh
dan berkembang nilai, sikap, moral, dan perilaku peserta didik.
o Interaksi sikap dan perilaku sosial yang
positif
Dalam mengerjakan tugas kelompok, peserta
didik bekerja sebagai suatu kelompok kerja sama. Dalam berinteraksi dengan
peserta didik lainnya, seorang peserta didik tidak boleh begitu saja menerapkan
dan memaksakan sikap dan pendiriannya pada anggota kelompoknya. Peserta didi
harus belajar bagaimana meningkatkan kemampuan dalam memimpin, berdiskusi, bernegosiasi
dan mengklarifikasi berbagai masalah dalam menyelesaikan tugas-tugas elompok.
Dalam hal ini guru harus mampu membantu peserta didik tentang bagaimana sikap dan perilaku yang
baik dalam bekerja sama . perilaku-perilaku tersebut antara lain kepemimpinan,
pengembangan kepercayaan, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, menyampaikan
kritik dan perasaan-perasaan sosial.
o Tindak lanjut (follow up)
Setelah masing-masing kelompok belajar
menyelesaikan tugas dan pekerjaannya, selanjutnya perlu dianalisis bagaimana
hasil kerja peserta didik dalam kelompok belajarnyatermasuk bagaimana hasil
kerja yang dihasilkan, bagimana mereka membantu anggota kelompoknya dalam
mengerti dan memahami materi dan masalah yang dibahas, bagaimana sikap dan
perilaku mereka dalam berinteraksi, dan apa yang mereka butuhkan untuk
meningkatkan keberhasilan kelompok belajarnya dikemudian hari. Oleh karena itu
guru harus mengevaluasi dan memberikan masukan terhadap hasil pekerjaan dan
aktivitas peserta didik.
o Kepuasan dalam belajar
Setiap peserta didik dan kelompok harus
mendapat waktu yang cukup untuk belajar dan mengembangkan pengetahuan,
kemampuan dan keterampilannya. Apabila peserta didik tidak mendapatkan waktu
yang cukup dalam belajar, maka keuntungan akademis dari penggunaan pembelajaran
kooperatif akan sangat terbatas.
c.
Jenis-jenis
model pembelajaran kooperatif
Ada beberapa variasi jenis model pembelajaran
kooperatif, walaupun prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif ini tidak
berubah, jenis-jenis tersebut adalah sebagai berikut :
o Model Jigsaw ( Model Tim Ahli )
Model ini dikembangkan dan diujicoba oleh
Elliot Aronson dan teman-temannya di Universitas Texas. Arti Jigsaw dalam
bahasa Inggris adalah gergaji ukir dan ada juga yang menyebut dengan istilah
puzzle yaitu sebuah teka-teki menyusun potongan gambar. Pembelajaran kooperatif
tipe Jigsaw mengambil pola cara kerja gergaji (zigzag) yaitu siswa melakukan
suatu kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk
mencapai tujuan bersama. Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan
informasi yang besar menjadi komponen-komponen yang lebih kecil.
Selanjutnya guru membagi siswa kedalam
kelompok belajar yang terdiri dari 4 oarng siswa sehingga setiap orang
bertanggung jawab terhadap penguasaan setiap komponen yang ditugaskan guru
dengan sebaik-baiknya. Langkah-langkah:
1) Siswa dikelompokkan dengan anggota 4 orang
2) Tiap orang dalam tim diberi materi dan
tugas yang berbeda
3) Anggota dari tim yang berbeda dengan
penguasaan yang sama membentuk kelompok baru (kelompok ahli)
4) Setelah kelompok ahli berdiskusi, tiap
anggota kembali kekelompok asal dan menjelaskan kepada anggota kelompok tentang subbab yang mereka kuasai
5) Tiap tim ahli mempresentasikan hasil
diskusi
6) Pembahasan
7) Penutup
o
Berpikir-Berpasangan-Berempat
Model pembelajaran Berpikir-Berpasangan-Berempat dikembangkan untuk
menciptakan kegiatan pembelajaran gotong royong. Teknik ini memberi siswa
kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain.
Keunggulan lain dari model ini adalah optimalisasi partisipasi siswa.
Dengan model
klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk
seluruh kelas, model Berpikir-Berpasangan-Berempat ini memberi kesempatan
sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan
menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Bagaimana caranya?
1)
Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan
memberikan tugas kepada semua kelompok
2)
Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut
sendiri
3)
Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam
kelompok dan berdiskusi dengan pasangannya
4)
Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok
berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada
kelompok berempat
5)
Perwakilan kelompok berempat berbagi hasil pekerjaan
dengan kelompok lainnya, dengan cara menyajikannya di depan kelas
o
Berkirim Salam dan Soal
Model
pembelajaran Berkirim Salam dan Soal memberi siswa kesempatan untuk melatih
pengetahuan dan keterampilan mereka. Siswa membuat pertanyaan sendiri, sehingga
akan merasa lebih terdorong untuk belajar dan menjawab pertanyaan yang dibuat
oleh teman-teman sekelasnya. Kegiatan Berkirim Salam dan Soal cocok untuk persiapan
menjelang tes dan ujian. Bagaimana caranya?
1)
Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan setiap
kelompok ditugaskan untuk menuliskan beberapa pertanyaan yang akan dikirim ke
kelompok yang lain. Guru bisa mengawasi dan membantu memilih soal-soal yang
cocok
2)
Kemudian, masing-masing kelompok mengirimkan satu
orang utusan yang akan menyampaikan salam dan soal dari kelompoknya (Salam
kelompok bisa berupa sorak kelompok, misalnya “Hebat ... hebat ... hebat ...
sehebat Einsten!, Kami datang untuk belajar bersama-sama ... ya ... ya ... ya!,
Ole ... ole ... ole ... terimalah kami /datang bertamu /untuk belajar /kepada
Anda, Oke...oke...oke?!, Hai teman-teman /ayo...ayo... ayo/ kita belajar supaya
pintar!, dan sebagainya
3)
Setiap kelompok mengerjakan soal kiriman dari kelompok
lain
4)
Setelah selesai, jawaban masing-masing kelompok
dicocokkan dengan jawaban kelompok yang membuat soal
o
Kepala Bernomor Terstruktur
Model ini merupakan modifikasi dari Kepala Bernomor.
Model ini memudahkan pembagian tugas. Dengan cara ini, siswa belajar
melaksanakan tanggung jawab pribadinya dalam saling keterkaitan dengan
rekan-rekan kelompoknya.
Bagaimana caranya?
1)
Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam setiap
kelompok mendapat nomor
2)
Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan
nomornya. Misalnya, siswa nomor 1 bertugas membaca soal dengan benar dan mengumpulkan
data yang mungkin berhubungan dengan penyelesaian soal. Siswa nomor 2 bertugas
mencari penyelesaian soal. Siswa nomor 3 mencatat dan melaporkan hasil kerja
kelompok
3)
Jika perlu (untuk tugas-tugas yang lebih sulit), guru
juga bisa mengadakan kerja sama antarkelompok. Siswa bisa disuruh keluar dari
kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa yang bernomor sama dari
kelompok lain. Dalam kesempatan ini, siswa-siswa dengan tugas yang sama bisa
saling membantu atau mencocokkan hasil kerja mereka.
o Model Make a Match (Membuat Pasangan)
Model Make a Match dikembangan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu
keunggulan model ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai
suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Penerapan model
pembelajaran ini dimulai dengan menyuruh siswa mencari pasangan kartu yang
merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan
kartunya diberi poin. Langkah-langkah :
1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi
beberapa konsep/topik yang cocok untuk sesi review (satu sisi kartu berupa
kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban)
2) Setiap siswa mendapat satu kartu dan
memikirkan jawaban atau soal dari kartu
yang dipegang.
3) Siswa mencari pasangan yang mempunyai
kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal/kartu jawaban)
4) Siswa yang dapat mencocokkan kartunya
sebelum batas waktu diberi poin
5) Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar
tiap siswa mendapat kartu yang berbeda
dari sebelumnya, demikian seterusnya
6) Kesimpulan.
o Bertukar Pasangan
a) Setiap siswa mendapatkan satu pasang.
b) Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya.
c) Setelah selesai, setiap pasangan bergabung
dengan pasangan yang lain.
d) Kedua pasangan tersebut bertukar.
Masing-masing pasangan yang baru akan bertukar informasi.
f) Temuan baru yang didapatkan dari
pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula.
o Kepala Bernomor
a) Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa
dalam setiap kelompok mendapat nomor.
b) Guru memberikan tugas masing-masing
kelompok mengerjakannya.
c) Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap
benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban ini.
d) Guru memanggil salah satu nomor. Siswa
dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka.
o Dua Tinggal Dua Tamu
a) Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat
b) Setelah selesai, dua orang dari
masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya untuk bergabung ke
kelompok yang lain.
c) Dua
orang yang tinggal mempunyai tugas untuk memberi informasi kepada tamu.
d) Tamu akan kembali ke tempat semula untuk melaporkan
hasil kunjungannya.
e) Kelompok akan membahasnya.
d.
Keunggulan
model pembelajaran kooperatif
Sebuah model pembelajaran tentunya mempunyai
karakteristik tersendiri sehingga akan mempunyai kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Demikian juga dengan model pembelajaran kooperatif mempunyai
kelebihan dan kekurangan di dalam implementasinya di dalam pembelajaran.
Sehingga seorang guru dituntun untuk mampu menganalisa dan mencocokkan model
pembelajaran yang akan digunakan dengan materiyang akan diajarkan.
Menurut
Wina (2006:249-250) keunggulan model pembelajaran
kooperatif adalah sebagai berikut :
o Siswa tidak terlalu tergantung pada guru,
akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, dan belajar
dari siswa yang lain.
o Dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan
ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan
ide-ide orang lain.
o Membantu siswa untuk respek terhadap orang
lain dan menyadari keterbatasannya.
o Membantu memberdayakan setiap siswa untuk
lebih bertanggung jawab dalam belajar.
o Cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi
akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri,
keterampilan mengatur waktu dan sikap positif terhadap sekolah.
o Mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji
ide dan pemahamannya sendiri dan menerima umpan balik.
o Meningkatkan kemampuan siswa menggunakan
informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
o Interaksi selama pembelajaran kooperatif
berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk
berpikir. Hal itu sangat berguna untuk endidikan jangka panjang.
e.
Kekurangan
model pembelajaran kooperatif
Selanjutnya, juga diutarakan tentang
kelemahan model pembelajaran kooperatif. Kelemahan itu antara lain :
o Untuk memahami dan mengerti filosofis
pembelajaran kooperatif butuh waktu yang lama. Untuk siswa yang dianggap
memiliki kelebihan, mereka akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap
kurang memiliki kemampuan.
o Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran
kooperatif didasarkan pada hasil kerja kelompok, sehingga guru harus menyadari
bahwa prestasi yang diharapkan adalah pretasi setiap individu.
o Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan
kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam
kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan secara individual. Oleh karena
itu selain siswa belajar bekerja bersama, siswa juga haru belajar bagaimana
belajar membangun kepercayaan diri.
3. CONTEXTUAL
TEACHING LEARNING
a.
Pengertian
Contextual Teaching Learning
Menurut
Nurhadi dalam Sugiyanto
(2007) CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang
mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi
dunia nyata siswa. Menurut Jonhson dalam
Sugiyanto (2007) CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan untuk
menolong para siswa melihat siswa melihat makna didalam materi akademik yang
mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks
dalam kehidupan keseharian mereka.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa CTL adalah konsep belajar yang membantu guru
mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
b.
Tujuan
Contextual Teaching Learning
o Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk
memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya
dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari
sehingga siswa memiliki pengetahuan atau keterampilan yang secara refleksi
dapat diterapkan dari permasalahan kepermasalahan lainya.
o Model pembelajaran ini bertujuan agar dalam
belajar itu tidak hanya sekedar menghafal tetapi perlu dengan adanya pemahaman
o Model pembelajaran ini menekankan pada
pengembangan minat pengalaman siswa.
o Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk
melatih siswa agar dapat berpikir kritis dan terampil dalam memproses
pengetahuan agar dapat menemukan dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi
dirinya sendiri dan orang lain
o Model pembelajaran CTL ini bertujun agar
pembelajaran lebih produktif dan bermakna
o Model pembelajaran model CTL ini bertujuan
untuk mengajak anak pada suatu aktivitas yang mengkaitkan materi akademik
dengan konteks kehidupan sehari-hari
o Tujuan pembelajaran model CTL ini bertujuan
agar siswa secara individu dapat menemukan dan mentrasfer informasi-informasi
komplek dan siswa dapat menjadikan informasi itu miliknya sendiri.
c.
Prinsip
Contextual Teaching Learning
Dengan menerapkan CTL tanpa disadari pendidik
telah mengikuti tiga prinsip ilmiah modern yang menunjang dan mengatur segala
sesuatu di alam semesta, yaitu: 1) Prinsip Kesaling-bergantungan, 2) Prinsip
Diferensiasi, dan 3) Prinsip Pengaturan Diri.
o Prinsip kesaling-bergantungan mengajarkan
bahwa segala sesuatu di alam semesta saling bergantung dan saling berhubungan.Dalam
CTL prinsip kesaling-bergantungan mengajak para pendidik untuk mengenali
keterkaitan mereka dengan pendidik lainnya, dengan siswa-siswa, dengan
masyarakat dan dengan lingkungan. Prinsip kesaling-bergantungan mengajak siswa
untuk saling bekerjasama, saling mengutarakan pendapat, saling mendengarkan
untuk menemukan persoalan, merancang rencana, dan mencari pemecahan masalah.
Prinsipnya adalah menyatukan pengalaman-pengalaman dari masing-masing individu
untuk mencapai standar akademik yang tinggi.
o Prinsip diferensiasi merujuk pada dorongan
terus menerus dari alam semesta untuk menghasilkan keragaman, perbedaan dan
keunikan. Dalam CTL prinsip diferensiasi membebaskan para siswa untuk
menjelajahi bakat pribadi, memunculkan cara belajar masing-masing individu,
berkembang dengan langkah mereka sendiri.
Disini para siswa diajak untuk selalu
kreatif, berpikir kritis guna menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
o Prinsip pengaturan diri menyatakan bahwa
segala sesuatu diatur, dipertahankan dan disadari oleh diri sendiri. Prinsip
ini mengajak para siswa untuk mengeluarkan seluruh potensinya.
Mereka menerima tanggung jawab atas keputusan
dan perilaku sendiri, menilai alternatif, membuat pilihan, mengembangkan
rencana, menganalisis informasi, menciptakan solusi dan dengan kritis menilai
bukti.
Selanjutnya dengan interaksi antar siswa akan
diperoleh pengertian baru, pandangan baru sekaligus menemukan minat pribadi,
kekuatan imajinasi, kemampuan mereka dalam bertahan dan keterbatasan kemampuan.
d.
Komponen-komponen
Pembelajaran Contextual Teaching Learning
komponen-komponen model pembelajaran CTL ini
antara lain :
o Kontruktivisme
Kontruktivisme adalah proses membangun dan menyusun
pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.
Pembelajaran ini harus dikemas menjadi proses”mengkontruksi”bukan menerima
pengetahuan.
o Inquiry
Inquiry adalah proses pembelajaran yang didasarkan pada
proses pencarian penemuan melalui proses berfikir secara sistematis, merupakan
proses pemindahan dari pengamatan menjadi pemahaman sehingga siswa belajar
mengunakan ketrampilan berfikir kritis.
Langkah-langkah dalam proses inquiry antara
lain :
a. Merumuskan masalah
b. Mengajukan hipotesis
c. Mengumpilkan data
d. Menguji hipotesis
e. Membuat kesimpulan
o Bertanya
Bertanya adalah bagian inti belajar dan
menemukan pengetahuan .
o Masyarakat belajar
Menurut
Vygotsky dalam masyarakat
belajar ini pengetahuan dan pengalaman
anak banyak dibentuk oleh komunikasi dengan orang lain.Konsep
masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil
kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperolah dari ‘sharing’ antar teman,
antar kelompok, dan antar yang tau ke yang belum tau. Masyarakat belajar terjadi
apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam
komunikasi pembelajaran saling belajar.
o Pemodelan
Pemodelan adalah proses pembelajaran dengan
memperagakan sebagai suatu contoh yang dapat ditiru oleh siswa.
o Refleksi
Refleksi adalah proses pengengalaman yang telah
dipelajari dengan cara mengerutkan dan mengevalusi kembali kejadian atau
peristiwa pembelajaran telah dilaluinya untukmendapatkan pemahaman yang dicapai
baik yang bersifat positif maupun bernilai negative.
o Penilaian nyata
Penilaian
nyata adalah proses yang
dilakukan oleh guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar
yang dilakukan oleh siswa.Penialaian adalah proses pengumpulan berbagai
data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam
pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui
guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus
penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta
penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil.
e.
Langkah-langkah
Pembelajaran Contextual Teaching Learning
Langkah-langkah pembelajaran CTL antara lain
:
o Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan
belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,menemukan sendiri ,dan
mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
o Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri
untuk semua topic
o Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan
bertanya
o Menciptakan masyarakat belajar
o Menghadirkan model sebagia contoh belajar
o Melakukan refleksi diakhir pertemuan.
o Melakukan penialain yang sebenarnya dengan
berbagai cara.
f.
Kelebihan
dari model pembelajaran CTL
o Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat
maju terus sesuai dengan potensi yang dimiliki sisiwa sehingga siswa terlibat
aktif dalam PBM.
o Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam
mengumpulkan data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah dan guru dapat
lebih kreatif
o Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka
pelajari.
o Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan
siswa tidak ditentukan oleh guru.
o Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak
membosankan.
o Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam
kelompok.
o Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar
individu maupun kelompok.
g.
Kelemahan
dari model pembelajaran CTL
o Dalam pemilihan informasi atau materi dikelas didasarkan pada kebutuhan siswa
padahal,dalam kelas itu tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda sehinnga
guru akan kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya
siswa tadi tidak sama
o Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang
agak lama dalam PBM
o Dalam proses pembelajaran dengan model CTL
akan nampak jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang
memiliki kemampuan kurang, yang kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri
bagi siswa yang kurang kemampuannya
o Bagi siswa yang tertinggal dalam proses
pembelajaran dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar
ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung
dari keaktifan dan usaha sendiri.
jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap
pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan
mengalami kesulitan.
o Tidak setiap siswa dapat dengan mudah
menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan
model CTL ini.
o Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan
siswa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk
mengapresiasikannya dalam bentuk lesan akan mengalami kesulitan sebab CTL ini
lebih mengembangkan ketrampilan dan kemampuan soft skill daripada kemampuan
intelektualnya.
o Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa
akan berbeda-beda dan tidak merata.
Dalam CTL ini peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing, karena
lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi
BAB.VII
KOMPETENSI
BELAJAR BAHASA DAN PENGEMBANGANNYA
A.
Hakikat Kompetensi
Kompetensi merupakan
bentuk kata benda dari kata sifat ‘kompeten’ yang berarti cakap
(mengetahui). Dalam linguistik,
kompetensi berarti kemampuan menguasai gramatika satuan bahasa secara abstrak
atau batiniah. Hal itu, sesuai dengan pendapat DP Tampubolon bahwa kompetensi
bahasa adalah penguasaan bahasa (dalam hal ini bahasa Indonesia) secara keseluruhan,
terutama tata bahasa dan kosa kata, termasuk berbagai arti dan nuansa serta
ejaan dan tanda-tanda baca, dan pengelompokan kata. Bahasa adalah sistem
lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk
bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Jadi, kompetensi
bahasa adalah kemampuan seseorang dalam menguasai keterampilan bahasa untuk
berkomuniksi.
Seseorang yang memiliki kompetensi bahasa, adalah
orang yang memiliki kemampuan bahasa. Kemampuan bahasa adalah kecakapan
seseorang menggunakan bahasa yang memadai dilihat dari sistem bahasa, Dalam
kompetensi bahasa, seseorang harus menguasai empat keterampilan bahasa, yaitu
menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keempat keterampilan bahasa :
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis memiliki keterkaitan satu dengan yang
lainnya, empat keterampilan tersebut saling mempengaruhi satu dengan yangn
lainnya. Pada beberapa tugas yang lalu telah diuraikan mengenai keterampilan –
keterampilan bahasa, dan strategi pengajarannya.
B.KOMPETENSI BELAJAR
BAHASA INDONESIA
a. Kompetensi kebahasaan
Kompetensi kebahasaan adalah
pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat abstrak, yang berisi pengetahuan
tentang kaidah, parameter atau prinsip-prinsip, serta sistem bahasa. Kompetensi
kebahasaan merupakan pengetahuan gramatikal yang berada dalam struktur mental.
Kompetensi kebahasaan tidak sama dengan pemakaian bahasa. Kompetensi kebahasaan
bukanlah kemampuan untuk menyusun dan memakai kalimat, melainkan pengetahuan
tentang kaidah-kaidah atau sistem kaidah.
Dalam hal ini kita dapat memahami
bahwa mengetahui pengetahuan sistem kaidah belum tentu sama atau jangan
disamakan dengan kemampuan menggunakan kaidah bahasa tersebut dalam aktualisasi
pemakaian bahasa pada situasi konkret. Masalah bagaimana menggunakan bahasa
dalam aktualisasi konkret merupakan masalah performansi.
Berkaitan dengan kompetensi ini,
Chomsky mengemukakan konsep ’keberterimaan’ dan konsep ’kegramatikalan’.
Keberterimaan mengacu pada bentuk-bentuk tuturan yang benar-benar alamiah dan
dengan cepat dapat dipahami, tidak aneh, tidak asing dan tidak janggal. Sedangkan
kegramatikalan, mengacu pada bentuk-betuk tuturan yang apabila dilihat dari
kaidah kebahasaan yang bersangkutan tidak menyimpang. Masalah keberterimaan
berkaitan dengan performansi kebahasaan, sedangkan kegramatikalan berkaitan
dengan kompetensi kebahasaan. Pengertian kedua istilah tersebut tidak boleh
dicampuradukkan. Contoh pada kalimat berikut (1) dan (2) merupakan contoh
kalimat yang memiliki tingkat kegramatikalan dan keberterimaan yang tinggi,
sedangkan kalimat (3) dan (4) memiliki kegramatikalan yang rendah namun
keberterimaannya tinggi.
1. Bapak membaca surat kabar di ruang tamu
2. Sopyan belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa lulus dalam ujian
3. ….Satu kilo gula, tiga kilo tepung dan setengah kilo mentega bu….
4. …Besok pagi jam delapan dari stasiun Turi, dik!
B.Kompetensi
Sosiolinguistik dan Pragmatik
Kompetensi Sosiolinguistik adalah
kemampuan untuk menggunakan bahasa tepat dalam konteks yang berbeda. Kompetensi
sosiolinguistik signifikan tumpang tindih dengan kompetensi wacana karena ada
hubungannya dengan mengungkapkan, menafsirkan dengan makna yang diturunkan
sesuai dengan norma-norma budaya dan harapan. Kompetensi sosiolinguistik yang
paling jelas ketika konvensi yang mengatur penggunaan bahasa yang entah bagaimana dilanggar, seperti
misalnya ketika seorang anak polos menggunakan "buruk" kata atau
ketika harapan hadir di satu budaya yang tidak berhasil diterjemahkan bagi
orang lain.
Ini
adalah kompetensi sosiolinguistik yang memungkinkan kita untuk menjadi sopan
sesuai dengan situasi kita dalam dan untuk dapat menyimpulkan maksud orang
lain. Dalam kehidupan sehari-hari bervariasi jenis bahasa yang kita gunakan
sesuai dengan tingkat formalitas dan keakraban misalnya menyampaikan rasa
hormat pada pertemuan internasional sarjana di bidang yang sama. Dalam situasi
ini ada perbedaan status yang jelas antara peserta, kita berhati-hati untuk
menyatakan hormat.
Kompetensi
pragmatik secara umum dirumuskan oleh Hymes (1972) dalam pertanyaannya apakah dan
sejauh mana ujaran yang digunakan penutur sesuai dengan kontek penggunaannya,
dan diisyaratkan sebagai „the rules of use without which the rules of grammar
will be useless‟(1972:278). Kompetensi pragmatik yang dikemukakan oleh Hymes
diformulasikan menjadi beberapa konsepsi, yaitu secara implisit dikemukakan
sebagai pengetahuan sosiolinguistik,kaidah penggunaan bahasa, komponen yang memungkinkan
pengguna bahasa untuk menghubungkan arti dan maksud ujaran dengan konteks
penggunaannya (Bachman, 1990), dan kemampuan aksional yakni kemampuan
mengungkapkan dan memahami maksud atau tujuan komunikasi melalui penggunaan
fungsi bahasa (language fuction) dan tindak tutur (speech act) . Pragmatik
memandang bahasa sebagai alat komunikasi yang keberadaannya(baik bentuk maupun
maknanya) ditentukan oleh penutur dan ditentukan dankeberagamannya ditentukan
oleh topik, tempat, sarana, dan waktu. Fakta-fakta ini dimanfaatkan oleh
sosiolinguistik untuk menjelaskan variasi-variasi bahasa atauragam bahasa.
C.Kompetensi
Penggunaan Bahasa
Sehubungan dengan kemampuan bahasa
komunikatif, Bachman(1990) mengemukakan bahwa kemampuan bahasa ini sebenarnya
mengandung di dalamnya pengetahuan atau kompetensi serta kemampuan
mengimplementasikan kompetensi itu dalam penggunaan bahasa yang benar dan tepat
dalam konteks baahasa yang beragam. Dia lebih lanjut menyatakan bahwa kemampuan
bahasa yang komunikatif pada dasarnya terdiri atas 3 komponen utama : (a)
kopentensi bahasa, (b) kopetensi strategis, dan (c) mekanisme psikofisiologis.
Kompetensi
bahasa mengandung serangkaian komponen pengetahuan khusus yang digunakan dalam
komunikasi lewat bahasa. Kompenen strategis menunjuk pada kemampuan mental
untuk melaksakan komponen kompetensi bahasa dalam berbagai konteks dan situasi
komunikasi yang bermakna. Mekanisme psikofisiologis mengacu pada proses
neurologis dan psikologi yang terlibat dalam pengimplementasian bahasa sebagai
suatu fenomena fisik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar